Kesongo merupakan salah satu kawasan hutan di Perum Perhutani KPH Randublatung, Blora, Jawa Tengah.

Jakarta, Petrominer – Fenomena alam selalu menjadi perbincangan publik. Media massa, diperkuat media online, selalu muncul paling awal terkait fenomena alam. Demikian juga pemberitaan terkait fenomena Bleduk Kesongo di Blora, Jawa Tengah, yang meletup pada 27 Agustus 2020.

Menurut Ketua Umum IAGI, Sukmandaru Prihatmoko, informasi geologis dan geografis, beserta kondisi historis kebumian terkait semburan lumpur panas Bleduk Kesongo perlu disampaikan ke masyarakat. Baik sebagai hal yang berpotensi positif bagi inventori sumber daya, maupun langkah-langkah mitigasi terhadap fenomena alam yang berpotensi menjadi bencana. Hal ini sangat diperlukan agar menjadi edukasi bagi masyarakat.

“Sebagai lembaga asosiasi profesi geologi, IAGI berupaya memberikan penjelasan secara utuh agar fenomena alam Bleduk Kesongo tidak hadir sebagai informasi yang terpisah-pisah,” ujar Sukmandaru dalam keterangan tertulis yang diterima Petrominer, Minggu (13/9).

Menurutnya, dari sisi fenomena geologi yang terjadi, menghentikan semburan, bukan langkah mudah yang dapat dilakukan mengingat kondisi permukaan dan bawah permukaan. Namun, dari monitoring fenomena semburan secara rutin, pemetaan detail, bisa jadi memberikan referensi langkah teknis dan arah untuk menghentikan semburan lumpur.

“Dampak utama fenomena Bleduk Kesongo adalah semburan lumpur panas dan mengandung gas yang kalau tidak ditangani dapat merugikan lingkungan di sekitar wilayah semberan,” ungkap Sukmandaru.

Dengan kondisi tersebut, menurutnya, ada empat hal yang harus diperhatikan, dipetakan dan dicatat secara detail. Pertama, volume lumpur. Besarnya volume lumpur, posisi titik semburan dan pola naik turunnya semburan sangat perlu dipetakan dan dicatat secara detail.

Kedua, karakteristik lumpur. Kandungan air, salinitas (jika ada), suhu lumpur, kandungan gas dan logam berat terkandung. Dengan pencatatan tersebut, akan dapat diketahui apakah lumpur tersebut akan mengarah pada semburan bahan beracun atau tidak. Ini sangat penting untuk menilai keamanan semburan dan akibatnya pada pemukiman masyarakat sekitar semburan terjadi.

Ketiga, dampak lumpur tehadap sosial dan ekonomi. Saat ini, bisa jadi fenomena Bleduk Kesongo tidak terlalu mengakibatkan gangguan atau dampak langsung pada kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat sekitar semburan. Namun antisipasi besaran semburan, akumulasi volume semburan dan suhu lumpur bisa jadi akan mengakibatkan rusaknya lingkungan fisik yang dapat dirasakan masyarakat.

Keempat, dampak Psikologis. Pengamatan akan dampak psikologis menjadi sangat diperlukan. Bisa jadi atas asumsi yang salah dan bayangan akan dampak besar fenomena alam lainnya (seperti lumpur Lusi) dapat menjadi pikiran yang terus muncul dan melekat di sebagain anggota masyarakat sekitar semburan. Dengan sosialisasi fenomena, penjelasan keteknikan yang rasional dan mudah dimengerti, perlu terus dilakukan untuk mengurangi dampak psikologis.

Sukmandaru menegaskan, dengan sosialisasi fenomena yang terjadi, mitigasi atas Beduk Kesongo dapat dipersiapkan dengan baik. Antisipasi mitigasi teknis dan dampak sosial dan ekonomi perlu dilakukan secara terintegrasi, dan harus dilakukan oleh Pemerintah Daerah. Asosiasi profesi dan juga lembaga lainnya yang terkait dengan fenomena alam sangat dapat membantu dalam hal ini.

Fenomena Bleduk Kesongo

Sebenarnya, kejadian semburan lumpur di Blora (Kesongo) dan Sidoarjo (Lusi) memiliki kenampakan yang mirip. Keduanya menyemburkan lumpur dari dalam bumi (bawah permukaan) akibat lapisan batuan dekat permukaan, yang karena suatu sebab, tidak kuat menahan tekanan pada lapisan batuan di bawahnya yang memiliki tekanan luap (overpressured).

Namun menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Wakil Ketua Umum IAGI, Burhannudinnur, secara karakter Gunung Lumpur Kesongo dan Gunung Lumpur Lusi memiliki beberapa perbedaan.

Gunung Lumpur Kesongo, yang dikenal sebagai Bledug Kesongo, merupakan gunung lumpur yang berasosiasi dengan sesar/patahan yang secara struktur berada di puncak antiklin berarah barat timur. Sedangkan Gunung Lumpur Lusi berasosiasi dengan struktur diapir atau mud diapir.

“Ketebalan batuan sedimen dari Gunung Lumpur Kesongo berkisar sekitar 1.000-3.000 m, sedangkan Gunung Lumpur Lusi memiliki ketebalan lebih besar dari 3.000 m,” ujar Burhanudin yang juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi Program Studi Teknik Geologi (ASPRODITEGI).

Tidak hanya itu, Gunung Lumpur Kesongo tergolong tidak aktif namun kejadian semburan pada 27 Agustus 2020 itu terjadi secara tiba-tiba dan intermitten. Meskipun tidak aktif, Bledug Kesongo pernah beberapa kali erupsi, antara lain pada tahun 2006-2008, kemudian Maret 2013 selama kurang lebih 5-7 hari dan terakhir 27 Agustus 2020. Material lumpur tersebut berasal dari Formasi Tawun, yang menyembur dengan membawa gas metan, CO2, N2.

Gambar 1. Morfologi Kubah Bledug Kesongo (A) dan sumber overpressured shale dari interpretasi penampang kecepatan (warna putih) (B).

Bledug Kesongo terletak dekat lapangan minyak Gabus dengan sumur-sumur tua jaman Belanda. Area ini bermorfologi perbukitan landai dengan luas area morfologi pai (puncak kubah) kurang lebih 1,25×1.25 km2. Beda tinggi dengan relief sekelilingnya berkisar 20-30 m. Diameter luar morfologi kubah mencapai 2,5 km (Gambar 1 A).

Di puncak kubah terdapat kawah landai dengan bekas pai dari gunung lumpur. Geometri sistem gunung lumpur pada Bledug Kesongo dapat didefinisikan dengan baik melalui data seismik (Gambar 1B).

Gambar 2. (A) Peta geologi Bleduk Kesongo berdasarkan data citra dan survei lapangan tahun 2009. (B) Penampang geologi dengan kedalaman diperkirakan dari perbedaan tinggi kubah di lapangan.

Beberapa rekahan dapat dikenali dengan jelas sebagai kekar dan sesar naik, dengan arah timurlaut-baratdaya dan baratlaut-tenggara (Gambar 2). Jejak pai diikuti perubahan warna melingkar lumpur dari dalam keluar berwarna abu-abu gelap, abu-abu terang, merah kecoklatan, sampai coklat muda pada bagian paling luar. Pola lingkaran warna diduga mempunyai hubungan dengan sejarah pengendapan lumpur dan periode letusannya.

Kondisi bawah permukaan di bagian timur hasil dari interpretasi seismik diwakili oleh (Gambar 3). Formasi Tawun (lapisan berwarna hijau) menebal di bagian tengah. Geometri Formasi Tawun menebal ke arah utara dan menipis ke arah selatan dan puncak Formasi Tawun membentuk tinggian atau struktur anticlinal. Sedangkan bagian bawahnya membentuk struktur sinklinal. Hal ini mengindikasikan adanya gejala kontraksional setelah Formasi Tawun diendapkan.

Gambar 3. Hasil interpretasi seismik di bagian timur daerah Kradenan. (A) Penampang hasil interpretasi seismik lintasan terpilih utara-selatan yang melewati Gunung Lumpur Kesongo. (B) Penampang hasil interpretasi seismik lintasan terpilih utara-selatan melewati sumur migas.

“Secara regional, Formasi Tawun di daerah Kradenan mempunyai laju sedimentasi yang paling tinggi diantara formasi lainnya berkisar antara 200-400 m/jt. Formasi lainnya berkisar 25-290 m/jt. Harga rasio strain di Kradenan relatif tinggi,” ungkap Burhannudinnur.

Hal tersebut, jelasnya, menunjukkan bahwa daerah Kradenan mempunyai struktur yang sangat terdeformasi dengan rasio strain yang besar pada tektonik kontraksional. Data ini sejalan dengan hasil penelitian terbarunya tahun 2020.

Identifikasi potensi sistem gunung lumpur di Formasi Tawun digambarkan oleh penelitian terakhirnya pada Gambar 4. Hal tersebut digambarkan melalui integrasi dari analisis rasio strain, laju sedimentasi dan litostatik atau tegangan vertikal daerah Kradenan yang menginformasikan lokasi zona tekanan luap di bawah permukaan yang berpotensi menjadi gunung lumpur.

Potensi gunung lumpur dapat dilihat dengan zonasi warna biru. Zona tersebut menunjukkan proyeksi zona “overpressured shale” pada Formasi Tawun di permukaan. Peta ini dapat digunakan untuk mitigasi resiko geoahazard dalam pekerjaan eksplorasi dan eksploitasi migas.

Gambar 4. Peta area potensi kejadian gunung lumpur di daerah Kradenan dan sekitarnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here