Jakarta, Petrominer – Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Paiton 1 dan 2 yang dikelola oleh PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB) di Probolinggo, Jawa Timur, kembali mendapat kunjungan ribuan ubur- ubur, sejak Sabtu (25/4) lalu. Berbeda dengan kejadian tahun 2016, kali ini PJB telah mempersiapkan langkah penanganannya. Dengan begitu, operasional penyediaan listrik di pembangkit dengan daya terpasang 800 megawatt (MW) ini tidak terganggu.
General Manager PJB Unit Pembangkitan (UP) Paiton 1 dan 2, Mustofa Abdillah, menjelaskan, ribuan ubur-ubur itu bergerak secara masif dari arah barat. Biota laut ini terlihat di sekitar bawah conveyor (alat pemindah) batubara pada Sabtu pukul 03:30 WIB dinihari.
“Berkaca pada pengalaman tahun 2016 lalu, kali ini kami lebih siap dan Alhamdulillah metode-metode yang kami lakukan tersebut telah terbukti berhasil. Kondisi per hari Selasa kemarin pada pukul 10:00 WIB, ubur- ubur masih terlihat banyak di sekitar canal intake namun bisa kami kendalikan,” terang Mustofa, Rabu (29/4).
Menurutnya, ubur-ubur dikendalikan dengan tiga lapis pengaman berupa jaring-jaring. PJB menggunakan metode tersebut dengan kehati-hatian dan ramah lingkungan. Langkah ini diambil untuk menjaga biota laut tersebut tidak masuk ke dalam mesin pembangkit dan tetap terjaga kelestariannya.
Jaring pertama di pasang di canal intake atau tempat masuk air laut yang berfungsi sebagai pendingin kondensor unit pembangkit. Jaring-jaring ini adalah pengaman pertama untuk mencegah ubur-ubur masuk ke dalam canal intake.
Jaring kedua ditempatkan di wilayah pompa. Ini dilakukan untuk menghindari ubur-ubur tersedot pompa. Dan ketiga, jaring dipasang di depan area mesin untuk menghindari ubur-ubur masuk ke dalam komponen mesin dan mengganggu operasional PLTU.

Gandeng Nelayan
Selain melakukan pengamanan internal tersebut, anak usaha PT PLN (Perero) ini juga menggandeng nelayan sekitar unit pembangkit untuk melakukan penanganan serbuan ubur-ubur tersebut. Dengan menggunakan tujuh perahu nelayan, ubur-ubur dijaring menggunakan jala lalu digiring dan dilepas di tengah laut. Cara ini dianggap ampuh dan tetap menjaga kelestarian lingkungan serta tidak membunuh ubur-ubur.
Selanjutnya, sebanyak 15 personil yang dibantu nelayan sekitar bersiaga selama 24 jam. Mereka bekerja dengan sistem shift untuk menjaring ubur-ubur.
“Personil ditempatkan di titik penempatan jaring untuk menghalau potensi masuknya ubur-ubur ke area unit pembangkit Paiton,” terang Mustofa.
Sementara itu, Direktur Utama PJB, Iwan Agung Firstantara, menegaskan bahwa pihaknya tetap berkomitmen untuk menjaga keandalan pasokan listrik, khususnya di Sistem Kelistrikan Jawa Bali.
Iwan menjelaskan, kehadiran ubur-ubur ini biasanya terjadi karena ada perubahan cuaca. Pada fenomena tahun 2016 lalu, saat itu cuaca dingin tengah melanda perairan Australia, kondisi itu memicu biota laut ini bermigrasi ke Laut Jawa dan Selat Madura
“Kejadian ini bukan hal yang mudah bagi kami, karena serangan ubur-ubur ini terjadi pada saat pandemi Covid-19 dan di tengah bulan Ramadhan. Namun sebagai lini terdepan kelistrikan, kami berkomitmen untuk mengatasi kejadian ini dengan sepenuh hati,” ujarnya.








Tinggalkan Balasan