FSRU Lampung saat menerima kargo LNG dari kilang LNG Tangguh, Papua. (Petrominer/Sony)

London, Petrominer – IHS Markit melaporkan ada enam rekor baru yang tercipta di industri gas alam cair (Liquified Natural Gas/LNG) sepanjang tahun 2019. Hal ini disebutnya sebagai indikasi adanya tren pertumbuhan yang berkelanjutan bagi industri LNG dunia.

Dalam laporan terbarunya yang berjudul 2019: A Year of Records for LNG, IHS Markit, menyebutkan bahwa sejumlah rekor baru yang tercipta itu merupakan indikasi tren pertumbuhan yang berkelanjutan. Apalagi, kapasitas LNG global diperkirakan meningkat lebih dari 50 persen, dari 283 juta metrik ton per tahun (MMtpa) pada tahun 2015 menjadi 437 MMtpa pada tahun 2020 ini.

“Laju investasi baru yang sedang berlangsung ini sangat penting mengingat konteks pasar dari harga global yang melemah,” jelas Chief Strategist, Global Gas IHS Markit, Michael Stoppard, Rabu (22/1).

“Tidak hanya tumbuh pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya pada tahun 2019, namun industri LNG juga meletakkan dasar untuk pertumbuhan kuat yang berlanjut hingga pertengahan dekade,” tegas Michael.

Berikut rekor baru yang tercipta di industri LNG pada tahun 2019:

Rekor Level Investasi Baru. Keputusan investasi akhir (Final Investment Decisions/FID) untuk proyek-proyek kilang mencapai tingkat yang luar biasa, yakni 70,4 juta ton per tahun (MMtpa). Angka ini naik 40 persen rekor sebelumnya yang dicapai tahun 2005, yakni 50,4 MMtpa. Amerika Serikat, Rusia, dan Mozambik masing-masing mencatat nilai tertinggi untuk tingkat FID tahunan.

Rekor Level FID Tanpa Kontrak Jangka Panjang. Beberapa FID kilang LNG dibuat tanpa kontrak jangka panjang maupun didukung oleh penjualan ke afiliasi. “Pemasaran afiliasi” tersebut mencapai rekor 43 MMtpa. Pemasaran afiliasi pada skala ini belum umum di industri LNG. Biasanya, sebagian besar proyek telah mendapatkan kontrak off-take jangka panjang sebelum melakukan investasi. Dengan memilih untuk melanjutkan tanpa kontrak dengan pihak ketiga, proyek dapat dikembangkan lebih cepat.

Rekor Star-Up Proyek Kilang. Start-up kilang baru mencapai kapasitas 38,8 MMtpa, hampir melampaui rekor tertinggi sebelumnya yang terjadi tahun 2009. Sejumlah start-up terkonsentrasi di Amerika Serikat, Australia, dan Rusia. Laju proyek diperkirakan melambat pada tahun 2020 menjadi kapasitas 28,6 MMtpa. Amerika Serikat akan terus mendominasi di bidang ini karena sebagian besar proyeknya saat ini hampir selesai.

Eksportir Baru. Australia melampaui Qatar sebagai eksportir LNG terbesar di tahun 2019, yang mencapai 80,2 MMt atau naik dibandingkan tahun 2018 yang sebesar 72,5 MMt. Australia diperkirakan akan memperpanjang kepemimpinannya tahun 2020 ini dan mempertahankan posisinya sebagai eksportir utama hingga tahun 2023 ketika Amerika Serikat diproyeksikan menjadi produsen LNG terbesar.

Rekor Impor Eropa. Eropa mencatat rekor untuk impor setiap bulan dan juga sepanjang tahun. Impor bersih tahunan mencapai 87,2 MMt. Ini melampaui rekor sebelumnya 65,5 MMt yang tercipta tahun 2011. Impor diperkirakan akan tetap kuat tahun 2020 ini karena adanya tambahan pasokan kilang baru yang masuk ke pasar. Pasokan baru pada tahun 2020 diperkirakan melampaui pertumbuhan permintaan Asia dan mempertahankan penjualan ke Eropa.

Rekor Impor Cina. Cina menyusul Jepang sebagai importir LNG terbesar dunia pada bulan Desember 2019. Negeri Tirai Bambu ini mengimpor LNG sebesar 7,3 MMt, dibandingkan Jepang yang hanya 6,9 MMt. Untuk total impor setahun, Jepang diperkirakan masih tetap menjadi importir LNG terbesar hingga tahun 2022 mendatang. Namun, tahun 2019 menjadi penurunan tahun keduanya Jepang, melanjutkan tren penurunan secara global sejak tahun 2015. Sementara Cina memasuki tahun keempatnya dalam deretan rekor impor LNG, di mana impor LNG-nya naik 13,4 persen dari tahun ke tahun.

Perdagangan LNG

Dalam laporan tersebut, HIS Markit juga menulis bahwa pasokan LNG tahun 2019 mencapai 373,0 juta ton (MMt), naik 11,8 persen dari tahun 2018 atau 39,5 MMt. Peningkatan ekspor LNG terbesar berasal dari Amerika Serikat (total 37,7 MMt, naik 15,2 MMt), selanjutnya Rusia (total 30,2 MMt, naik 10,1 MMt) dan Australia (total 80,2, naik 7,7 MMt).

Impor net LNG mencapai 358,8 MMt pada tahun 2019, naik 40,5 MMt dari tahun 2018. Berdasarkan regional, impor LNG tumbuh paling besar ke Eropa, mencapai 87,2 MMt dibandingkan 49,9 MMt pada tahun 2018. Sementara bila berdasarkan negara, Inggris mencatat pertumbuhan terbesar (total 13,3 MMt , naik 8,1 MMt), diikuti oleh Perancis (total 16,3 MMt, naik 7,8 MMt), dan Cina (total 62,4 MMt, naik 7,4 MMt).

Jepang tetap menjadi importir LNG terbesar, menerima 77,5 MMt pada tahun 2019. Namun, angka ini turun dari 83,2 MMt pada tahun 2018, dan menjadikan Jepang sebagai pasar dengan penurunan impor LNG terbesar pada tahun 2019. Cina tetap menjadi importir terbesar kedua sepanjang tahun dan Korea Selatan di posisi ketiga dengan 41,0 MMton. Namun Korea Selatan juga mencatat penurunan terbesar kedua dibandingkan tahun 2018 (turun 3,5 MMton).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here