Jakarta, Petrominer – Industri pengemasan Indonesia bertumbuh sejalan dengan aplikasinya di bidang industry. Terutama pada industri makanan dan minuman (mamin) sebagai pengguna akhir, yang jumlahnya mencapai 68 persen dari seluruh nilai industri pengemasan. Ini menjadikan industri makanan dan minuman sebagai pengguna terbesar di bidang industri pengolahan di Indonesia.
Menurut Direktur Federasi Pengemasan Indonesia (FPI) Ariana Susanti, sebagian besar bahan baku pengemasan berasal dari plastik, termasuk kemasan fleksibel yang jumlahnya mencapai 56 persen. Berdaarkan data dari FPI yang disajikan dalam presentasi “Anuga Foodtec 2018”, pasar industri pengemasan Indonesia mencapai nilai US$ 6,7 miliar tahun 2016 dengan pertumbuhan rata-rata berkisar antara 6-8 persen.
“Angka ini diharapkan mencapai lebih dari 10 persen selama lima sampai tujuh tahun mendatang, hingga pasarnya bertumbuh mencapai US$ 9,6 miliar,” ujar Ariana, Selasa (24/10).
Dia memprediksi pertumbuhan industri pengemasan tahun ini masih berkisar antara 4-6 persen. Salah satu faktor yang mempengaruhi omzet pertumbuhan, antara lain karena plastik kemasan yang bahan bakunya masih diimpor, mengingat Indonesia masih menjadi net importer untuk produk minyak bumi.

Tahun depan, Ariana memperkirakan pertumbuhan masih naik. Apalagi bertepatan dengan pelaksanaan pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak yang akan berlangsung di sejumlah daerah. Kondisi ini diperkirakan turut mendorgkrak pertumbuhan industri makanan dan minuman, sehingga industri plastik juga ikut terdongkrak. Meski begitu, pertumbuhannya diperkirakan masih berada pada kisaran antara 6-8 persen.
Menurutnya perubahan memang terjadi baik dari segi konsumsi, sehingga permintaan produk siap makan (Ready to Eat) berkembang, mengikuti perkembangan produk siap minum (Ready to Drink). Begitu pula pertumbuhan pasar online yang akhirnya berpengaruh pada pasar offline. Tidak hanya itu, berkembangnya berbagai produk multinasional termasuk bertambahnya penduduk kelas menengah telah menjadikan industri kemasan menyesuaikan bentuk kemasan menjadi produk compact (mini design) atau small package, yang secara masif dapat ditemui di Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan negara-negara Asia Pasifik.
Melihat perkembangan tersebut, juga sejumlah perusahaan multinasional seperti Unilever, Coca Cola, Danone, Nestle dan juga Indofood, kini sudah men-set up harga untuk membuat kemasan daur ulang. Langkah tersebut, menurut mereka, sudah menjadi tanggung jawab perusahaan, bersama pemerintah dan masyarakat terlibat dalam kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan.
Pameran Unik
Untuk itu, para pengusaha yang banyak terkait dengan industri makanan, minuman, dan produk teknologi dan inovasi diharapkan berpartisipasi dalam pameran dagang internasional Anuga Foodtec yang akan berlangsung 20-23 Maret 2018 di Koln, Jerman.
Menurut Chief Operating Officer of Koelnmesse GmbH, Katharina C. Hamma, pameran yang menampilkan produk pengolahan makanan, pengemasan produk pangan, kandungan pada pangan, serta jasa solusi bidang industri makanan ini diharapkan menjadi pameran dengan konsep unik yang akan menjadi platform bisnis yang efektif.
Selama ini, Anuga FoodTec telah menjadi indikator bagi para pengusaha yang bergerak di bidang ini dalam menggaet mitranya, sekaligus ajang untuk menyaksikan kecanggihan teknologi. Jika dilihat dari jumlah pengunjung, pada setiap penyelenggaraan selalu menunjukkan kenaikan, di mana pada tahun 2009 dikunjungi 33.847 pengunjung, dan tahun 2012 meningkat menjadi 42.986 pengunjung. Seiring berjalannya waktu di tahun 2015, jumlah pengunjung meningkat lagi menjadi 45.521 orang yang berasal dari 139 negara.
Demikian pula dengan jumlah peserta pameran, senantiasa mengalami peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya, di mana tahun 2009 mencapai 1.210 perusahaan, meningkat menjadi 1.320 perusahaan tahun 2013, dan di tahun 2015 meningkat lagi menjadi 1.501 perusahaan. Optimisme penyelenggara menyatakan, lebih dari 1.700 perusahaan dalam status menunggu, dapat berpartisipasi dalam pameran ini.









Tinggalkan Balasan