Jakarta, Petrominer – Di tengah tekanan produk impor terhadap pasar domestik, para pelaku industri dalam negeri melaporkan tingkat optimisme cukup tinggi terhadap kondisi iklim usaha di Indonesia. Meski begitu, aktivitas manufaktur diyakini semakin bergeliat apabila ada kebijakan pro-industri untuk perlindungan industri dalam negeri, dengan peluang permintaan pasar domestik yang begitu besar.
Optimisme pelaku industri Indonesia tersebut tercemin dari laporan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Maret 2025 yang berada di level ekspansi, yakni di angka 52,98. Capaian ini mengalami perlambatan 0,17 poin dibandingkan bulan sebelumnya atau melambat 0,07 poin dibandingkan Maret tahun lalu.
“Perlambatan IKI pada Maret ini karena adanya libur Lebaran, sehingga produksi mengalami penurunan. Perusahaan meningkatkan produksinya dua atau tiga bulan sebelum Ramadhan dan Lebaran untuk memenuhi kenaikan permintaan selama bulan Ramadhan hingga Lebaran,” ungkap Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief, Kamis (27/3).
Menurut Febri, ekspansi IKI bulan ini ditopang oleh geliat 21 subsektor dengan kontribusi terhadap PDB industri pengolahan non-migas pada triwulan IV tahun 2024 mencapai 96,5 persen. Jadi, dari 23 subsektor industri pengolahan yang dianalisis, terdapat dua subsektor yang mengalami kontraksi.
“Dua subsektor dengan nilai IKI tertinggi (ekspansi) adalah industri pencetakan dan reproduksi media rekaman (KBLI 18) serta industri farmasi, produk obat kimia dan obat tradisional (KBLI 21). Sedangkan dua subsektor yang mengalami kontraksi adalah industri furnitur (KBLI 31) serta industri karet, barang dari karet dan plastik (KBLI 22),” sebutnya.
IKI bulan Maret juga dipengaruhi oleh ekspansi seluruh variabel pembentuk IKI yaitu pesanan baru, produksi dan persediaan. Variabel pesanan baru tetap ekspansi, meskipun melambat 0,88 poin dibandingkan bulan sebelumnya menjadi 53,69.
Di sisi lain, variabel produksi mengalami peningkatan ekspansi 0,66 poin dibandingkan bulan sebelumnya menjadi 51,21. Demikian juga dengan persediaan yang tetap ekspansi dengan peningkatan 0,34 poin dibanding bulan lalu menjadi 53,86.
Penurunan demand luar negeri akibat kondisi ketidakpastian global yang semakin sulit diduga ikut menyebabkan perlambatan IKI pesanan baru khususnya pesanan luar negeri. Meski demikian, peningkatan level ekspansi produksi dan persediaan menunjukkan geliat ekonomi penyerapan produk industri manufaktur di dalam negeri yang cukup tinggi bulan Maret 2025.
“Momentum bulan Ramadan dan persiapan Hari Raya merupakan salah satu pemicu peningkatan kinerja industri manufaktur karena mampu meningkatkan demand domestik produk manufaktur. Namun daya angkatnya berkurang karena tekanan banjir produk impor murah,” papar Febri.









Tinggalkan Balasan