Jakarta, Petrominer – Meskipun tantangan Covid-19 belum berakhir, kinerja industri nasional cukup menggembirakan. Indikasi rata-rata Purchasing Manager’s Index (PMI) selama tahun 2021 menunjukkan angka 50 atau ada dalam tahap ekspansif. Salah satunya ditunjukkan oleh kinerja industri logam dan baja yang bertumbuh positif selama tahun lalu.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada kuartal III tahun 2021, sektor industri logam dengan HS 72-73 mampu tumbuh di atas 9,82 persen. Kinerja ini juga didukung ekspor produk baja hingga November 2021 yang mencapai US $19,6 miliar, dan mengalami surplus US$ 6,1 miliar.
Investasi di industri logam juga tumbuh hampir mencapai Rp 81 triliun. Sementara ekspor industri logam pecah rekor, mencapai lebih dari US $20 miliar. Kinerja ini diharapkan terus bertumbuh dan hilirisasi terus berlangsung, termasuk pembangunan sejumlah smelter yang diresmikan di Konawe beberapa waktu lalu diharapkan bisa segera berproduksi.
Smelter alumina juga sudah dibangun, demikian juga smelter lainnya untuk menghilirisasi bahan alam sehingga akan diperoleh benefitnya di dalam negeri.
Sebagai penyumbang PDB cukup besar, peranan industri logam dasar yang meningkat disebabkan oleh kenaikan permintaan luar negeri terutama komoditas logam (ferro alloy nickel, aluminium, dan stainless steel) dan peningkatan ketersediaan pasokan bijih logam sebagai bahan baku industri. Hilirisasi, substitusi impor, termasuk juga renewable energy merupakan sektor yang akan bangkit setelah berlalunya masa pandemi.
Direktur Industri Logam, Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE), Kementerian Perindustrian, Budi Susanto, mengemukakan bahwa pertumbuhan positif sektor baja terjadi akibat upaya pengendalian yang dilakukan Pemerintah dengan konsep smart supply demand. Konsep ini telah diterapkan dengan berpihak pada industri baja nasional, mulai dari sektor hulu, antara hingga hilir.
“Peningkatan kebutuhan baja ini didukung kebijakan PPnBM otomotif yang juga tumbuh hingga 27 persen di kuartal III tahun 2021,” ungkap Budi.
Menurutnya, pengaturan ini menjadi penting agar produksi di dalam negeri dapat dimaksimalkan, dan hampir semua impor yang ada mendukung sebagai bahan baku untuk berbagai industri.
Senada dengan Budi, Direktur Utama PT Saranacentral Bajatama Tbk (BAJA), Handjaja Susanto, menyampaikan bahwa perusahaan memperoleh laba bersih hingga Rp 100 miliar berkat kontrol Pemerintah terhadap impor baja. Kebijakan ini telah mendorong pasar impor banyak beralih ke pasar lokal.
“Optimisme industri baja nasional ini terus dijaga dengan upaya hilirisasi dan substitusi impor yang telah dicanangkan oleh pemerintah,” ujar Budi.
Dengan demikian, iklim usaha dan investasi akan terus meningkat di Indonesia.
Hingga triwulan III tahun 2021, investasi di sektor logam menunjukkan kinerja yang cukup menggembirakan, dengan mencapai Rp 87,73 triliun serta utilisasi di sektor tersebut di atas 60 persen. Contohnya di industri baja lapis, yang kinerjanya meningkat sangat baik seperti ditunjukkan oleh kinerja PT Saranacentral Bajatama.
Direktur Eksekutif Research Oriented Development Analysis (RODA) Institute, Ahmad Rijal Ilyas, menyebutkan bahwa impor baja tahun 2021 dibandingkan 2019 mengalami penurunan yang signifikan, yaitu dari 6,9 juta ton pada tahun 2019 menjadi 4,8 juta ton di tahun 2021 atau turun 31 persen.
Menurut Ahmad, beberapa program pemerintah yang dirasakan manfaatnya oleh pelaku usaha antara lain pengendalian impor, program substitusi impor termasuk penurunan nilai impor untuk beberapa produk baja, peningkatan penggunaan produk dalam negeri (P3DN), penerapan SNI wajib dalam rangka melindungi konsumen dalam negeri dari produk baja yang tidak berkualitas, serta pemberian insentif untuk mendorong peningkatan investasi di sektor industri logam.
“Diharapkan program-program tersebut terus ditingkatkan untuk mendorong kinerja industri baja di periode selanjutnya,” ujarnya.









Tinggalkan Balasan