Jakarta, Petrominer – Asosiasi Pabrikan Modul Surya Indonesia (APAMSI) menyatakan industri panel surya (PhotoVoltaic/PV) di Indonesia masih kurang berkembang. Padahal, pengembangan industri panel surya, terutama di sektor hulunya, berpotensi menyerap banyak tenaga kerja.
“Kalau industri ini mau ditumbuhkan di hulunya, ada peluang bisnis, menyerap tenaga kerja, dan meningkatkan kemampuan nasional,” kata Ketua Asosiasi Pabrikan Modul Surya Indonesia (APAMSI), Linus Andor Maulana, pada webinar Solusi Kebersamaan Energy and Mining Editor Society (SUKSE2S) dengan tema “PLTS Atap untuk Industri, Siapa yang Untung?” Rabu (23/3).
Menurut Linus, di Indonesia banyak tambang kuarsit untuk dikembangkan sebagai bagian dari industri hulu panel surya. Namun untuk itu diperlukan investasi yang cukup besar.
Misalnya, untuk penambangan dan pengolahan konsentrat kuarsit dan dikembangkan menjadi kuarsa murni diperlukan investasi US$ 160 juta. Sementara untuk memasuki tahap reduksi dan pemurnian dari kuarsa murni ke metalurgical grade, investasinya bisa mencapai US$ 455 juta.
“Dan selanjutnya untuk menjadi produk elektronika dan chemical, berupa solar cell, dibutuhkan investasi US$ 250 juta,” paparnya.
Linus menegaskan perlunya strategic partnership dengan joint investment agar pengembangan industri panel surya dapat berkesinambungan. Pola kerja sama ini bisa direalisasikan dalam bentuk pembangunan pabrik, melakukan transfer technology, supply raw material, dan memberikan akses untuk global supply chain.
“Jika industri hulu sudah dikembangkan, harga panel surya untuk PLTS di dalam negeri bisa lebih kompetitif dibandingkan produk impor. Saat ini, harga produk yang dihasilkan anggota APAMSI masih 20-30 persen lebih mahal dibandingkan produk yang diimpor langsung dari China,” ungkapnya.
Selain tidak didukung di hulu, masih ada sejumlah faktor lainnya yang membuat industri panel surya di Indonesia kurang berkembang. Salah satunya faktor negative cycle yang terjadi akibat adanya limited capacity sehingga low economic scale tidak tercapai.

“Dalam industri ini dikenal negative cycle di mana hal ini tidak membantu industri tumbuh, bahkan membuat industri panel surya tidak tumbuh,” tegas Linus.
Menurutnya, kondisi kapasitas produksi PLTS yang rendah saat ini juga ikut menyebabkan rantai pasok tidak efisien dan harga produk atau jasa turunan menjadi tinggi. Dengan harga panel surya yang tinggi, menyebabkan permintaan pasar komersial juga rendah.
“Alhasil minat investor dalam pengembangan PLTS pun masih rendah. Adapun ketidakpastian permintaan ini menyebabkan industri membatasi investasi dalam penambahan kapasitasnya,” ujar Linus.
Padahal, menurut Direktur Aneka EBT Ditjen EBTKE Kementerian ESDM, Andriah Feby Misna, pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) menjadi hal yang sangat kritikal untuk transisi energi. Malahan pada tahun 2060, pemanfaatan pembangkit 60 persen akan berasal dari energi surya.
Feby menegaskan, PLTS menjadi salah satu prioritas untuk jangka pendek. Pasalnya, potensinya cukup besar dan waktu kontruksinya cukup pendek.
“Kalau bicara PLTS atap yang menjadi salah satu program untuk mencapai target 23 persen, maka pada tahun 2025 ditargetkan terpasang 3,6 GW. Pada tahun 2025, harapan kami sektor industri mempunya peran cukup tinggi untuk mengimplementasikan PLTS atap,” tegasnya.
Perkembangan PLTS atap tercatat signifikan. Pada dua bulan pertama tahun 2022, ada 5.321 pelanggan baru dan kapasitas 59,84 MWp atau sebesar 13,3 persen dari target tahun ini.
Berdasarkan sebaran lokasinya, pelanggan PLTS atap maypritas berada di wilayah Jawa dan Bali. Berdasarkan kategori pelanggan, jumlah pelanggan PLTS atap paling tinggi berasal dari pelanggan rumah tangga, yakni sekitar 4.175 pelanggan.
“Berdasarkan kapasitas PLTS atap, paling tinggi berasal dari pelanggan industri 17,7 MW. Ini kami harapkan bisa terus didorong ke depannya,” kata Feby.








Tinggalkan Balasan