Denpasar, Petrominer – Penyelesaian beberapa proyek utama hulu minyak dan gas bumi diperkirakan bisa kembali menjadikan Indonesia sebagai salah satu produsen utama LNG dunia. Hal ini dapat semakin meningkatkan kontribusi hulu migas pada peningkatan pasokan untuk industri nasional maupun memasok kebutuhan LNG dunia, sehingga akan semakin meningkatkan devisa negara.
“Selesainya proyek kilang Masela dan proyek utama hulu migas serta penemuan lapangan migas baru lainnya akan menjadikan Indonesia kembali menjadi salah satu produsen gas utama dunia. Ini tentunya akan mendukung Pemerintah untuk meningkatkan daya saing indsutri dalam negeri dengan ketersediaan pasokan gas, dan menjadikan Indonesia berpeluang untuk kembali menjadi pemasok utama LNG dunia,” ujar Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto, Rabu (4/3).
Dwi menjelaskan, Indonesia telah memainkan perannya di pasar LNG sejak tahun 1977, dengan menjadi salah satu eksportir LNG terbesar di dunia. Seiring dengan penurunan produksi gas dan kebijakan Pemerintah untuk memprioritaskan pengunaan gas ke pasar domestik, maka kontribusi Indonesia di pasar LNG dunia juga terus mengalami penurunan.
Berdasarkan rencana umum energi nasional (RUEN), produksi gas di Indonesia akan terus menurun karena decline rate secara alamiah sebesar 20 persen per tahun. Namun sepanjang 2015-2019, SKK Migas mampu mempertahankan produksi migas di atas target RUEN.
“Produksi gas dapat dipertahankan di level yang tinggi pada tahun 2019, mencapai 7.254 MMSCFD dengan lifting sebesar 5.923 MMSCFD,” tegasnya.
Kinerja ini dicapai melalui optimalization work programm yang dilakukan dengan berbagai cara untuk mencapai operational excellence. Antara lain melalui Filling The Gap (FTG), Production Enhancement Technology (PET), Management Work Through (MWT), dan Optimisasi Planned Shutdown.
Pada visi bersama hulu migas tahun 2030 dengan target 1 juta BOPD, produksi gas diperkirakan mencapai 12.300 MMSCFD. Dengan begitu, kekhawatiran adanya defisit gas pada tahun-tahun mendatang sebagaimana diprediksikan dalam RUEN tidak akan terjadi.
“Giant discovery gas di Sakakemang tahun 2019 serta selesainya revisi POD pengembangan blok Masela bulan Juli 2019 lalu semakin menambah optimisme akan masa depan industri hulu migas Indonesia, dengan gas yang menjadi dominan dibandingkan minyak,” ungkap Dwi.
Strategi Produksi
Saat ini, jelas Dwi, SKK Migas telah memiliki empat strategi untuk meningkatkan produksi migas nasional. Yaitu mempertahankan tingkat produksi existing yang tinggi, transformasi sumberdaya ke produksi, mempercepat chemical EOR, dan eksplorasi untuk penemuan besar.
SKK Migas juga telah mengidentifikasi 12 area yang berpotensi memiliki kandungan migas dalam jumlah yang besar. Dengan rincian, enam area di Indonesia bagian barat, empat area di Indonesia bagian timur dan dua area di laut dalam.
Dari total produksi gas tahun 2019 sebesar 6.140 BBTU, penyaluran dalam bentuk LNG secara keseluruhan mencapai 2.025 BBTU. Dengan rincian, alokasi untuk domestik sebesar 508 BBTU dan alokasi ekspor sebesar 1.417 BBTU.
Sementara kapasitas kilang LNG di Indonesia sebesar 16 MTPA yang berasal dari LNG Tangguh 7,6 MTPA dan LNG Bontang 8,6 MTPA. Kapasitas kilang LNG akan bertambah sebear 13,3 MTPA jika proyek train 3 Tangguh dengan kapasitas 3,8 MTPA dan Abadi LNG (Masela Project) sebesar 9,5 MTPA selesai dibangun.
“Pasar ekspor utama LNG ke China, Jepang, Korea Selatan, Thailand dan Taiwan yang dipasok dari kilang LNG Badak dan LNG Tangguh,” ujar Dwi saat tampil sebagai keynote speech dalam LNG Summit Bali 2020.









Tinggalkan Balasan