Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA), Kementerian Perindustrian, Gati Wibawaningsih.

Jakarta, Petrominer – Transformasi bisnis diyakini akan mendorong Industri Kecil, Menengah (IKM) mampu mengaplikasikan Industri 4.0. Salah satu pendekatan yang harus dilakukan untuk meningkatkan output (hasil produksi) yang lebih efisien adalah sistem pemasaran secara daring (online).

“Dengan menggunakan pendekatan pemasaran secara daring, paling tidak akan membawa manfaat nyata kepada IKM. Inilah pentingnya proses digitalisasi,” ujar Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA), Kementerian Perindustrian, Gati Wibawaningsih, Selasa (3/9).

Menurut Gati, jika IKM diminta langsung beradaptasi untuk beralih pada industri 4.0, mereka akan berkeberatan. Alasannya, mereka bakal kesulitan untuk berinvestasi pada teknologi atau mesin-mesin yang lebih modern. Padahal, mereka bisa menggunakan pemasaran secara daring, sambil berupaya menurunkan biaya produksi.

“Yang kami lakukan kepada para IKM binaan selama ini, melalui sosialisasi e-smart IKM, adalah mereka diminta memasang alat pendeteksi (sensor). Misalnya industri IKM gorengan keripik, sensor tersebut dapat menjalankan fungsinya, kapan proses penggorengan harus selesai dan kapan harus mulai lagi. Dengan demikian produksi yang dihasilkan dapat menghasilkan kualitas produk yang standar,“ jelasnya.

Selama ini, Kementerian Perindustrian giat mengajak pelaku IKM untuk mengikuti perkembangan era ekonomi digital dan penerapan industri 4.0, terutama pemanfaatan teknologi. Tujuannya, selain dapat memacu produktivitas dan daya saing, juga untuk meningkatkan hasil nilai penjualan.

“Kami minta mereka bisa melakukan pemasaran secara daring/online, karena penjualan seperti itu biayanya nol. Dari evaluasi kami, penjualan secara online itu minimum dapat menaikkan omzet hingga 7 kali lipat,” papar Gati.

Transformasi digital dari proses jual beli konvensional menjadi jual beli online yang semakin marak di Indonesia telah menjadikan perdagangan elektronik (e-commerce) sebagai suatu tantangan sekaligus menjanjikan potensi yang besar pula. Ini diharapkan bisa menjadi gerbang bagi pelaku IKM untuk melakukan transformasi digital. Tentunya dengan menggunakan alat promosi dan sistem informasi digital, pembayaran serta manajemen relasi, dan juga pemanfaatan pelanggan secara digital.

Gati optimistis, apabila pelaku IKM nasional diberikan pembelajaran mengenai teknologi digital, mereka akan lebih produktif, kreatif, inovatif, dan kompetitif. Dalam era digital economy ini, semakin banyak bisnis yang dijalankan dengan basis teknologi informasi dan komunikasi.

Upaya strategis tersebut juga menjadi bagian dari pelaksanaan langkah-langkah prioritas yang tertuang di dalam peta jalan Making Indonesia 4.0. Pemanfaatan teknologi digital ini untuk memacu IKM nasional bisa ikut berperan di era industri 4.0, seperti terlibat di dalam e-commerce yang diimplementasikan melalui program e-Smart IKM.

Kemenperin menargetkan 10 ribu pelaku IKM dari berbagai sektor dapat masuk ke pasar online melalui program e-Smart IKM selama periode tahun 2017-2019. Mereka terdiri atas sektor industri makanan dan minuman, logam, furnitur, kerajinan, fesyen, herbal, kosmetik, serta industri kreatif.

Hingga saat ini, animo peserta cukup tinggi. Sekitar 9.000 pelaku usaha telah mengikuti workshop e-Smart IKM. Total nilai transaksi e-commerce dari seluruh IKM tersebut mencapai Rp 2,3 miliar. Dari jumlah ini, 31,87 persen atau sekitar Rp 755 juta berasal dari sektor industri makanan dan minuman.

Program e-Smart IKM yang diinisiasi Kemenperin sejak dua tahun lalu itu sudah menjalin kerja sama dengan para pelaku e-commerce di Indonesia, seperti Bukalapak, Tokopedia, Shopee, BliBli, Blanja.com, Ralali, dan Gojek Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here