Jakarta, Petrominer – Industri kecil dan menengah (IKM) komponen otomotif mulai bersinergi dan masuk dalam siklus mata rantai pasokan pada industri kendaraan bermotor di wilayah ASEAN.
Menurut Ketua Perhimpunan Industri Kecil-Menengah Komponen Otomotif Indonesia (PIKKO) Rosalina Faried, tantangan dari Menteri Perindustrian harus dilakukan. Karena itu, tidak ada alasan lagi untuk mulai bersinergi terutama dalam hal teknologi.
Berbicara di sela-sela Link and Match IKM Komponen Otomotif dengan supplier APM (Agen Pemegang Merek) di Kemenperin, belum lama ini, Rosalina mengemukakan bahwa teknologi dan standar pada akhirnya menjadi satu ukuran, karena memang itu yang diperlukan oleh para IKM. Untuk itu, Pemerintah harus hadir sebagai pembina, sehingga terjadi saling keterbukaan.

Menurutnya, kehadiran Pemerintah ditunjukkan dengan memfasilitasi permodalan dalam bentuk pembiayaan secara komersial, dan juga disertai dengan dukungan dalam hal kebijakan teknologi. Penggunaan mesin-mesin kini sudah dihitung dalam satuan produksi per detik. Sementara APM menghendaki perusahaan sebagai mitra pemasoknya, sudah memiliki standar seperti International Standard Organization (ISO).
Kementerian Perindustrian memfasilitasi 70 IKM komponen otomotif dari beberapa sentra Pulau Jawa, bekerja sama dengan 30 pemasok APM. Upaya ini bertujuan agar IKM dan industri besar dapat saling sinergi sehingga menguntungkan kedua belah pihak.
“Dalam kemitraan ini, IKM memperoleh kepastian pasar dan pasokan bahan baku serta mendorong IKM melakukan perbaikan kualitas dan kuantitas, sistem manajemen, peningkatan SDM, akses informasi, teknologi, perizinan dan hal lainya, sehingga lebih berdaya saing,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto.
Menurut Airlangga, perkembangan industri otomotif di Indonesia terus berada pada angka positif. Ini terlihat dari data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) untuk kendaraan roda empat, di mana penjualan mobil sepanjang Januari-Agustus 2017 mencapai 715.291 unit. Capaian ini meningkat 3,6 persen dibanding periode yang sama tahun lalu 690.200 unit.
Selain itu, berdasar data dari Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), penjualan sepeda motor nasional pada September 2017 mencapai 546.607 unit. Angka ini relatif stabil dari tahun sebelumnya. Strategi kemitraan merupakan salah satu upaya yang paling efektif membangun IKM yang mandiri.
Saat ini, terdapat 416 sentra IKM komponen otomotif yang tersebar di Kabupaten Tegal, Klaten, Purbalingga, Sidoarjo, Juwana, Pasuruan, Sukabumi, dan Bandung. Sekitar 137 IKM tergabung dalam PIKKO dan menyerap 8 ribu tenaga kerja.
Dirjen IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih mengatakan, bagi IKM komponen otomotif, kesempatan seperti ini menjadi peluang positif bagi mereka, terutama dalam membantu di sektor permodalan. Selain itu pemerintah juga memfasilitasi bantuan dalam bentuk perbaikan sistem kerja dan juga pendampingan standar manufacturing.
“Sinergi yang baik antara industri besar dengan IKM komponen otomotif akan mendorong pula pada bertumbuhnya perekonomian nasional. Guna mendukung hal tersebut diperlukan kemauan yang kuat dari semua pihak dan stakeholder terkait, bersama-sama mendorong IKM yang memiliki potensi untuk terus dikembangkan,” imbuhnya.
Ke-70 IKM komponen otomotif yang ikut serta dalam kegiatan link and match ini berasal dari sentra-sentra IKM logam di Kabupaten Klaten, Tegal, Purbalingga, Sidoarjo, Pasuruan, Jabodetabek serta IKM yang tergabung dalam PIKKO dan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA). Pemasok APM yang diundang dalam acara ini, antara lain PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia, Astra Daihatsu Motor, dan Astra Honda Motor yang juga pada kegiatan tersebut memperlihatkan produk-produk komponen otomotif yang potensial untuk disuplai oleh IKM.

Sementara itu, Direktur IKM Logam, Mesin, Elektronika dan Alat Angkut, Endang Suwartini, berharap terjalinnya komunikasi antara pelaku usaha IKM dengan supplier APM melalui kegiatan ini. Diharapkan juga terbukanya akses pasar bagi produk IKM pada industri otomotif dalam negeri. Selain itu menjadi sarana pertukaran informasi mengenai teknologi permesinan, peningkatan kemampuan SDM, manajemen mutu maupun peluang pasar. Serta terjalinnya kemitraan yang saling menguntungkan antara IKM dan pemasok APM.









Tinggalkan Balasan