, , ,

IESR: Indonesia Berpeluang jadi Pemasok Hidrogen Hijau

Posted by

Jakarta, Petrominer – Institute for Essential Services Reform (IESR) menilai hidrogen hijau dapat menjadi salah satu solusi untuk mencapai dekarbonisasi sektor energi Indonesia, khususnya pada sektor industri berat dan transportasi berat yang sulit dikurangi emisinya (hard-to-abate). Hal ini disampaikan menyusul telah diluncurkannya Buku Peta Jalan Hidrogen dan Amonia Nasional 2025-2060, Selasa (15/4) pekan lalu.

Berdasarkan peta jalan tersebut, terdapat empat sektor yang akan memanfaatkan hidrogen yaitu sektor industri, pembangkit listrik, jaringan gas, dan transportasi. Pemanfaatan hidrogen bersih akan dimulai dari sektor industri yang dimulai di industri baja dan kilang pada tahun 2025, disusul oleh industri pupuk tahun 2026, industri kimia tahun 2035, serta industri tekstil, pulp dan kertas, dan makanan dan minuman di tahun 2041 mendatang.

Direktur Eksekutif IESR, Fabby Tumiwa, mengatakan hidrogen hijau yang diproduksi dari pemecahan molekul air dengan listrik dari energi terbarukan, seperti energi surya, angin, biomassa dan panas bumi, merupakan sumber energi yang paling kompetitif secara biaya. Malahan, analisis IESR menunjukkan biaya produksi hidrogen hijau (Levelized Cost of Hydrogen/LCOH) dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Indonesia akan terus menurun seiring penurunan harga listrik dari energi surya dan angin dan harga teknologi elektroliser.

Saat ini, LCOH berkisar antara US$ 4,3-8,3 per kilogram. Namun, dengan skenario strategis, Indonesia berpeluang menurunkannya hingga US$ 2 per kilogram sebelum tahun 2040, bahkan bisa tercapai pada tahun 2030 asalkan dapat segera mengembangkan ekosistem energi hijau yang terdiri dari 6 pilar.

Pertama, pengembangan teknologi dan energi terbarukan melalui percepatan penyebaran energi terbarukan untuk menurunkan biaya listrik produksi hidrogen, serta mendorong produksi lokal elektroliser melalui kemitraan publik-swasta. Kedua, mengintegrasikan hidrogen ke sektor ketenagalistrikan dan industri pupuk atau kilang, serta memulai ekspor melalui kesepakatan dengan pembeli internasional.

Ketiga, pengembangan infrastruktur, salah satunya dengan membangun jalur pipa dan stasiun pengisian hidrogen, serta mengkaji kesiapan pelabuhan untuk ekspor amonia. Keempat, insentif dan pembiayaan, dengan memberikan jaminan offtaker oleh BUMN, serta insentif harga dan pengenaan karbon untuk mengurangi risiko investasi awal.

Kelima, kebijakan dan regulasi, dengan menyusun klasifikasi dan sertifikasi hidrogen nasional, memasukkan proyek hidrogen ke dalam Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI), serta memperkuat kebijakan energi terbarukan yang mendukung proyek hidrogen. Keenam, peningkatan keahlian sumber daya manusia (SDM) melalui pelatihan, sertifikasi, dan pemetaan kebutuhan tenaga kerja untuk mendukung seluruh rantai nilai hidrogen hijau.

“Untuk membangun ekonomi hidrogen hijau yang kompetitif, Indonesia perlu pendekatan terkoordinasi yang mencakup pengembangan teknologi, regulasi, pembiayaan, dan kerja sama internasional. Hidrogen hijau adalah peluang emas yang tidak hanya mendukung dekarbonisasi, tapi juga membuka pasar baru dan memperkuat ketahanan energi nasional,” ungkap Fabby.

Lebih lanjut, dia menegaskan bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pemasok  hidrogen hijau di pasar internasional. Mengutip data Deloitte tahun 2023, pasar hidrogen Asia Tenggara diperkirakan tumbuh menjadi US$ 51 miliar di tahun 2030, dan US$ 141 miliar di tahun 2050. Sekitar sepertiga dari permintaan global hidrogen pada 2050 diproyeksikan berasal dari perdagangan lintas negara.

“Jika Indonesia ingin ambil bagian dalam pasar energi bersih global, investasi di ekosistem hidrogen hijau harus dimulai dari hulu ke hilir sekarang. Kami percaya bahwa dengan langkah-langkah terencana dan konsisten, Indonesia bisa menjadi pusat produksi dan ekspor hidrogen rendah karbon di kawasan ASEAN,” papar Fabby. IESR melalui proyek Green Energy Transition Indonesia (GETI), menginisiasi terbentuknya Komunitas Hidrogen Hijau Indonesia (KH2I) untuk menghubungkan para pemangku kepentingan melalui kegiatan riset, dialog kebijakan, dan pengembangan pasar guna mendorong implementasi hidrogen hijau sebagai bagian dari upaya dekarbonisasi nasional. IESR membuka kesempatan bagi pihak yang mempunyai misi dan komitmen yang sama untuk bergabung dalam KH2I melalui tautan s.id/KomunitasHidrogen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *