
Jakarta, Petrominer – Indonesia memang diakui memiliki kekayaan sumber daya alam yang luar biasa. Namun keberhasilan bangsa tidak ditentukan oleh besarnya cadangan energi dan sumber daya alam yang dimiliki, melainkan dari kualitas tata kelola yang dijalankan.
Direktur Eksekutif Institute of Energy and Development Studies (IEDS), Rifqi Nuril Huda, mengatakan persoalan tata kelola energi dan sumber daya alam membutuhkan solusi berbasis ilmu pengetahuan. Generasi muda Indonesia diharapkan mampu menjadi bagian dari perumusan masa depan energi nasional yang berdaulat, adil, dan berkelanjutan.
“Kehadiran IEDS merupakan momentum untuk memperkuat kontribusi generasi muda dalam membangun tata kelola energi dan sumber daya alam yang berpijak pada konstitusi, keadilan sosial, dan keberlanjutan,” ungkap Rifqi dalam perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) IEDS ke-2, Sabtu (6/6).
Acara perayaan ini dibungkus dalam Seminar Nasional bertema “Membangun Tata Kelola Energi dan Sumber Daya Alam yang Konstitusional, Berkeadilan, dan Berkelanjutan.”
Dihadiri akademisi, praktisi, pemerintah, pelaku usaha, organisasi masyarakat sipil, media massa, serta generasi muda. Forum diskusi tersebut menjadi ruang dialog strategis untuk membahas masa depan energi Indonesia di tengah tantangan krisis iklim, ketidakpastian geopolitik global, kebutuhan ketahanan energi nasional, serta percepatan transisi energi dunia.
Seminar menghadirkan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Arief Hidayat, sebagai keynote speaker yang menyampaikan pidato bertajuk “Konstitusi, Kedaulatan Energi, dan Masa Depan Tata Kelola Sumber Daya Alam Indonesia.”
Sementara dalam diskusi panel, ada Staf Khusus Menteri Pertahanan Bidang Tata Negara, Kris Wijoyo Soepandji, yang menjelaskan pentingnya ketahanan energi sebagai pilar strategis pertahanan dan kedaulatan nasional. Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Sripeni Inten Cahyani, yang memaparkan arah kebijakan energi nasional menuju ketahanan dan kemandirian energi.
Ketua Umum Asosiasi Praktisi Hukum Migas dan Energi Terbarukan (APHMET), Didik Sasono Setyadi, yang menguraikan strategi penguatan tata kelola hulu migas Indonesia di tengah dinamika geopolitik energi dunia. Serta Pengamat Maritim Indonesia dan anggota IKAL Lemhannas, Capt. Marcellus Hakeng Jayawibawa, yang menjelaskan pentingnya integrasi kebijakan energi, maritim, dan ekonomi kelautan dalam mendukung pembangunan nasional yang berkelanjutan.
Keberlanjutan
Rifqi menilai kehadiran para tokoh tersebut menunjukkan bahwa isu energi dan sumber daya alam tidak dapat dipandang secara sektoral semata. Ini juga harus dilihat sebagai isu strategis yang menyangkut hukum, ekonomi, pertahanan, lingkungan hidup, teknologi, hingga geopolitik internasional.
“Kami bersyukur karena pada usia yang kedua ini IEDS mendapatkan kepercayaan dari para tokoh bangsa untuk bersama-sama membangun ruang dialog yang produktif. Ini menunjukkan bahwa agenda mewujudkan tata kelola energi dan sumber daya alam yang konstitusional, berkeadilan, dan berkelanjutan adalah agenda bersama seluruh elemen bangsa,” ujarnya.
Pembangunan energi nasional tidak boleh hanya mengejar pertumbuhan ekonomi jangka pendek. Proses ini juga harus memastikan hadirnya kepastian hukum, keadilan sosial, perlindungan lingkungan hidup, dan keberlanjutan pembangunan nasional.
Karena itulah, IEDS akan terus memperkuat perannya sebagai lembaga kajian independen yang mendorong lahirnya gagasan, penelitian, dan rekomendasi kebijakan untuk memperkuat ketahanan energi nasional dan kedaulatan sumber daya alam Indonesia.
“Energi bukan hanya tentang kebutuhan hari ini. Energi adalah tentang masa depan bangsa. Karena itu, pengelolaan energi dan sumber daya alam harus dilakukan secara konstitusional, berkeadilan, dan berkelanjutan,” tegas Rifqi.









Tinggalkan Balasan