Jakarta, Petrominer – Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) menyatakan perlu dobrakan inovasi, optimasi biaya operasi dan pengembangan lapangan, serta persiapan yang matang untuk bisa mengejar target produksi minyak satu juta barel per hari (bph) dan gas 12 miliar kaki kubik per hari (Bcfd) pada tahun 2030. Pasalnya, kondisi lapangan-lapangan migas di Indonesia sebagian besar sudah mature dan kompleks.

Ketua IATMI, John Hisar Simamora, mengatakan kompleksitas tersebut perlu dijawab dengan sumber daya manusia (SDM) yang kompetensi. SDM tersebut juga harus siap untuk menyiapkan transisi energi dan mencapai ketahanan energi Indonesia.

“IATMI akan mengadakan acara International Virtual Conference 2021 untuk mendukung pemerintah mewujudkan target produksi satu juta bph minyak dan 12 Bcfd gas, serta mempersiapkan diri untuk transisi energi,” ujar John, Selasa (6/4).

IATMI International Virtual Conference 2021 akan digelar, Sabtu (10/4). Ajang pertemuan dari seluruh pelaku industri migas Indonesia yang tersebar di seluruh dunia ini akan mengusung tema “Bending the Production Curve and Transitioning to New Energy Landscape”.

Konferensi ini terbuka bagi siapa saja yang tertarik dengan industri migas, khususnya Pemerintah, praktisi industri migas, baik yang bekerja di Indonesia maupun luar negeri, serta praktisi akademis.

“Kami berharap dengan datangnya peserta dari berbagai latar belakang, dapat terbentuk diskusi untuk menjawab keingintahuan dari berbagai sudut pandang,” jelas John yang juga menjabat sebagai Direktur Strategic Planning & Business Development, Upstream Subholding PT Pertamina (Persero).

Focus Group Discussion

Sementara itu, Ketua Pelaksana IATMI International Virtual Conference 2021, Henricus Herwin, mengatakan bahwa konferensi terdiri dari empat Focus Group Discussion (FGD).

FGD pertama akan membahas tentang kebutuhan energi Indonesia yang terus meningkat dan upaya merealisasikan target produksi minyak satu juta bph dan 12 Bcfd gas pada tahun 2030.

FGD kedua akan membahas tentang lapangan migas di Indonesia yang didominasi oleh lapangan-lapangan yang sudah tua (mature) dan produksinya menurun secara alamiah.

“Untuk mengoperasikan lapangan secara berkelanjutan dan melakukan pengembangan lapangan untuk meningkatkan produksi diperlukan terobosan-terobosan untuk mengontrol biaya operasi dan biaya pengembangan,” kata Henricus yang juga menjabat sebagai Vice President Development and Production Technical Excellence & Coordination PT Pertamina Hulu Energi (PHE).

FGD ketiga akan mendiskusikan tentang tantangan industri migas yang kompleks membutuhkan tenaga manusia yang berkualitas. Untuk itu perlu metode yang tepat untuk mempersiapkan sumber daya manusia di dunia migas serta untuk mempertahankan dan menarik best talent untuk bekerja di dunia migas. Di sisi lain perlu dipikirkan strategi yang tepat untuk menyerap lulusan universitas-universitas teknik perminyakan di Indonesia yang tinggi.

Dan FGD terakhir akan membicarakan tentang transisi energi yang sedang berlangsung. Pada sesi ini akan dibahas outlook energy di masa depan, bagaimana perusahaan migas akan berevolusi dan apa yang harus dipersiapkan oleh para pelaku industri migas.

Menurutnya, dengan diadakannya konferensi yang berbentuk diskusi aktif ini, diharapkan dapat terbentuknya pedoman bersama untuk membangun kompetensi penggiat migas di Indonesia, membuka koneksi antar stakeholders di industri migas, serta membantu pemerintah untuk menghadapi tantangan industri ke depannya.

“Hasil diskusi dari event ini akan dijadikan rekomendasi dari IATMI untuk Pemerintah dan praktisi dunia migas dalam mendukung target produksi minyak satu juta bph dan 12 Bcfd gas,” tegas Henricus.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here