Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto.

Tanjung Enim, Petrominer – Kementerian Perindustrian terus mendorong tumbuhnya industri hilirisasi batubara. Sehingga dapat menghasilkan produk bernilai tambah tinggi dan juga sebagai substistusi impor seperti urea, Dimethyl Ether (DME), serta polypropylene.

“Langkah strategis ini dalam rangka memenuhi kebutuhan bahan baku pembuatan pupuk, bahan bakar, dan plastik yang akan digunakan di dalam negeri untuk menutupi permintaan pasar ekspor,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada Pencanangan Industri Hilirisasi Batubara di Tanjung Enim, Sumatera Selatan, Minggu (3/3).

Kegiatan pencanangan ini juga dihadiri Menteri BUMN Rini Soemarno dan Menteri ESDM Ignasius Jonan. Dalam rangkaian acara itu, Menteri Airlangga berkesempatan menandatangani prasasti pencanangan Bukit Asam Coal Based Special Economic Zone (BACBSEZ).

Airlangga menjelaskan, Undang-Undang No 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian mengamanatkan pengembangan industri pengolahan fokus pada penguatan rantai pasok, untuk menjamin ketersediaan bahan baku dan energi yang berkesinambungan dan terjangkau.

Pembangunan pabrik pengolahan gasifikasi batubara yang nilai investasinya diperkirakan mencapai US$ 1,2 miliar itu diharapkan bisa menciptakan lapangan kerja sebanyak 1.400 orang. Pabrik ini akan mulai beroperasi pada Nopember tahun 2022.

“Produksinya nanti dapat memenuhi kebutuhan sebesar 500 ribu ton urea per tahun, 400 ribu ton DME per tahun, dan 450 ton polypropylene per tahun,” ungkap Airlangga.

Dengan target pemenuhan pasar tersebut, diproyeksi kebutuhan batubara sebagai bahan baku sebesar 7-9 juta ton per tahun, termasuk untuk mendukung kebutuhan batubara bagi pembangkit listrik.

Menurut Airlangga, industri hilirisasi batubara ini sangat penting untuk memperkuat struktur industri dan optimalisasi perolehan nilai tambah dalam rangka peningkatan daya saing sektor manufaktur, termasuk dalam penguatan kemandirian industri petrokimia di Indonesia.

Dia mencoba menghitung nilai tambah yang akan dihasilkan di Tanjung Enim. Dengan kebutuhan batubara mencapai 9 juta ton per tahun dan harga US$ 30 per ton, maka menghasilkan senilai US$ 270 juta tanpa pengolahan.

Sedangkan satu pabrik polypropylene dengan kapasitas 450 ribu ton per tahun, bisa menghasilkan US$ 4,5 miliar. Sementara pabrik pupuk dan DME minimal mencapai US$ 7 miliar devisa yang bisa dihemat.

“Jadi, bukan hanya menggali, tetapi ada nilai tambah,” tegas Airlangga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here