Tanjung Enim, Petrominer – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan menyampaikan apresiasinya kepada PT Bukit Asam Tbk (PTBA) yang telah merintis industri hilirisasi batubara. Langkah ini merupakan realisasi dari Peraturan Menteri ESDM terkait hilirisasi mineral dan batubara.

“Saya mengapresiasi PTBA atas langkahnya ini. Karena terus terang, tidak banyak kegiatan pertambangan batubara yang besar di Indonesia memiliki semangat hilirisasi,” ujar Jonan usai bersama Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno dan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mencanangkan Industri Hilirisasi Batubara PTBA di Tanjung Enim, Sumatera Selatan, Minggu (3/3).

Pencanangan industri hilirisasi batubara ini merupakan kelanjutan dari Head of Agreement (HoA) antara PTBA, Pertamina, Pupuk Indonesia, dan Chandra Asri Petrochemical untuk pembangunan Coal to Chemical pada 8 Desember 2017 lalu. Dengan nilai investasi sebesar US$ 3,1 miliar, proyek tersebut ditargetkan rampung dalam waktu 3 tahun ke depan atau pada tahun 2022.

Jika industri hilirisasi ini sudah berjalan, Jonan menjelaskan bahwa salah satu produknya, yakni dimethyl ether (DME). Produk ini bisa menggantikan LPG. Dengan menggunakan DME, maka impor LPG dapat dikurangi. Selama ini, Indonesia mengimpor LPG sekitar 4,5 – 4,7 juta ton per tahun.

“Ini penting sekali bawa DME ini bisa menggantikan LPG, supaya impor LPG kita bisa berkurang,” tegasnya.

Lebih lanjut, Jonan menjelaskan bahwa uang yang dikeluarkan untuk melakukan impor LPG tidak sedikit, yaitu mencapai Rp 40 triliun per tahun. Untuk itu, dia meminta kepada PTBA untuk memanfaatkan peluang itu dan memaksimalkan produksi DME dengan skala besar.

Lihat juga: Pabrik Hilirisasi Batubara menjadi DME di Tambang PTBA

Sementara itu, Direktur Utama PTBA, Arviyan Arifin, menjelaskan bahwa hilirisasi ini akan memberikan dampak terhadap perekonomian nasional dengan berkurangnya impor terhadap produk yang dihasilkan seperti LPG dan Naphta serta memproduksi pupuk urea dengan ongkos produksi yang diharapkan lebih efisien.

“Kami ingin menciptakan nilai tambah, mentransformasi batubara menjadi ke arah hilir dengan teknologi gasifikasi, dengan menciptakan produk akhir yang memiliki kesempatan nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan sekadar produk batubara. Dengan demikian, hal ini diharapkan akan semakin menguntungkan perusahaan,” ungkap Arviyan.

Melalui teknologi gasifikasi, batubara kalori rendah akan diubah menjadi produk akhir yang bernilai tinggi. Teknologi ini akan mengkonversi batu bara muda menjadi syngas untuk kemudian diproses menjadi DME sebagai substitusi LPG, urea sebagai pupuk, dan polypropylene sebagai bahan baku plastik.

Di kawasan Bukit Asam Coal Based Special Economic Zone (BACBSEZ) nantinya akan dibangun empat kompleks pabrik meliputi pabrik coal to syngas, pabrik syngas to urea, pabrik syngas to dimethyl ether (DME) dan pabrik syngas to polypropylene sebagai langkah besar pengembangan hilirisasi batubara dalam negeri. Pabrik pengolahan gasifikasi batubara ini ditargetkan beroperasipada Nopember 2022.

Proyek hilirisasi ini diharapkan akan mampu menghasilkan 500 ribu ton urea per tahun, 400 ribu ton DME per tahun dan 450 ribu ton polypropylene per tahun. Sementara untuk menghasilkan produk-produk tersebut dibutuhkan batubara sebagai bahan baku utama sebesar 7 juta ton per tahun.

“Dengan jumlah sumber daya batubara yang dimiliki PTBA sebesar 8 milIar ton, proyek ini suatu keharusan dan keniscayaan yang harus dijalankan untuk mendapatkan nilai tambah yang lebih tinggi dari cadangan yang ada. Dengan adanya industri ini kita harapkan keberadaan tambang ini akan terus ada 100 tahun kedepan,” ujar Arviyan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here