
Jakarta, Petrominer – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menyusun sebuah dokumen sebagai panduan dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) di sektor ESDM. Panduan ini penting dan diperlukan agar upaya percepatan hilirisasi maupun transisi energi bisa lebih clear bagi semua pemangku kepentingan.
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) ESDM, Prahoro Yulijanto Nurtjahyo, menyampaikan bahwa pihaknya telah merancang dan mengusulkan kerangka kebijakan yang komprehensif untuk mendukung percepatan transformasi tenaga kerja dalam menghadapi hilirisasi dan ketahanan energi, yang selaras dengan tujuan transisi energi Indonesia.
“Adanya dokumen yang bisa memberikan guideline kepada kita, terutama terkait dengan pengembangan SDM di sektor ESDM. Karena ini menjadi penting, menjadi panutan bagi kita, agar upaya untuk percepatan hilirisasi maupun dengan transisi energi, ini akan lebih clear bagi semua pemangku kepentingan sekaligus stakeholder yang ada di tempat kita,” ujar Prahoro dalam acara pembukaan Human Capital Summit (HCS) 2025, Selasa (3/6).
Menurutnya, salah satu tujuan diselenggarakannya HCS 2025 adalah untuk penyerahan Policy Document on Human Capital Development in the Framework of Energy Transition Towards NZE 2060, yaitu dokumen panduan dalam pengembangan SDM sektor ESDM. Gelaran kai ini mengusung tema “Accelerating the Workforce Transformation for Downstream Growth and Energy Security towards Energy Transition in Indonesia.”
HCS 2025 diselenggarakan oleh BPSDM ESDM. Acara ini diikuti oleh lebih dari 4.000 peserta dari dalam dan luar negeri dengan beragam latar belakang, seperti kementerian/lembaga, kedutaan besar, organisasi nasional dan internasional, perusahaan, perguruan tinggi, serta lembaga pendidikan dan pelatihan.
Pada HCS 2025, terdapat 20 mitra kerja sama, yaitu 4 negara mitra (Jepang, Selandia Baru, Swiss, dan China), 3 BUMN, 7 Pemerintah Daerah, 6 Badan Usaha/Organisasi Non-Pemerintah, Japan Organization for Metals and Energy Security (JOGMEC), serta 2 Badan Usaha dari China. Selain itu, terdapat pula nilai komitmen kerja sama yang sudah berjalan dan akan datang sebesar Rp 530,65 miliar. Dari angka tersebut, sektor migas menyumbang Rp 78,5 miliar; geominerba Rp 46,2 miliar; KEBTKE Rp 346 miliar; serta beasiswa dan lainnya sebesar Rp 59,8 miliar.
Kesiapan Perguruan Tinggi
Dalam sambutan pembukaannya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyampaikan bahwa HCS 2025 merupakan instrumen untuk menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang terbaik pada sektor ESDM. Bahlil pun mengimbau agar perguruan tinggi dapat menyesuaikan tersedianya lapangan pekerjaan.
“Jadi ini harus betul-betul kita mampu beradaptasi dengan lapangan pekerjaan. Kami hanya menyiapkan roadmapnya. Tapi kampus segera menyesuaikan. Jangan melahirkan output lulusan kampus yang tidak adaptif dengan tuntutan lapangan pekerjaan,” tegasnya.
Saat ini, terdapat 3.746 jenis pekerjaan di sektor ESDM, 487 jenis di antaranya adalah jenis pekerjaan baru pada tiga sektor utama, yakni Ketenagalistrikan, Energi Baru Terbarukan, dan Konservasi Energi (KEBTKE), minyak dan gas bumi (migas), serta geologi, mineral, dan batubara (geominerba).























