Penampakan salah satu Orangutan Tapanuli di Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.

Medan, Petrominer – PT North Sumatra Hydro Energy (NSHE) menjamin keberadaan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, tidak mengganggu habitat orangutan dan juga tidak mengancam kepunahan orangutan tersebut. NSHE menapik isu yang telah dilontarkan beberapa pihak mengenai dampak pembangunan pembangkit tersebut bagi lingkungan sekitar.

Senior Advisor NSHE, Emmy Hafild, menjelaskan pihaknya telah melakukan upaya mitigasi untuk meminimalkan dampak pembangunan PLTA. Salah satu hasilnya menyimpulkan bahwa kegiatannya tidak akan menyebabkan kepunahan orangutan Tapanuli.

“Kami senang melihat hasil studi baru-baru ini oleh CSERM (Centre for Sustainable Energy and Resources Management), Universitas Nasional (UNAS) mengenai keanekaragaman hayati dan populasi orangutan yang tinggal di dalam dan berdekatan dengan Area of Influence (AOI) perusahaan sebesar 1.812 hektar,” ujar Emmy, Kamis (20/2).

Meski begitu, dia menekankan bahwa masa depan spesies tergantung tidak hanya pada apa yang terjadi dalam AOI, tetapi pada apa yang terjadi di luar lanskap yang lebih luas. Untuk kelangsungan hidup jangka panjang orangutan Tapanuli, ada kebutuhan penting untuk menjaga dan meningkatkan konektivitas habitat serta mengurangi hilangnya habitat, perburuan, dan konflik manusia-orangutan di seluruh Ekosistem Batang Toru secara keseluruhan.

Menurut Emmy, AOI sekarang jauh lebih kecil dibandingkan izin lokasi perusahaan sebelumnya untuk eksplorasi, karena tahap eksplorasi telah selesai. Perusahaan juga telah membeli 669 ha lahan dan akan membeli area tambahan yang diperlukan untuk pengembangan proyek di dalam AOI, dan sisa izin lokasi saat ini seluas 1.812 ha pada akhirnya juga akan diserahkan kembali kepada pemerintah, sebagaimana diharuskan oleh hukum Indonesia.

Studi CSERM memeriksa secara rinci skala dan luas operasi NSHE dan dampak langsungnya di lapangan, sehubungan dengan kekhawatiran tentang dampak proyek terhadap Orangutan Tapanuli yang terancam punah, yang jumlahnya diperkirakan sekitar 767 ekor.

Studi ini menyimpulkan bahwa dampaknya, sebagian besar karena hilangnya habitat orangutan, dapat dikategorikan menjadi ‘kerugian permanen’ dan ‘kerugian sementara’. Dari hilangnya habitat yang telah terjadi tahun 201 hingga saat ini, mencapai 371,68 ha. Dengan rincian, 86,47 ha kerugian permanen yang harus diimbangi, dan 285,21 ha adalah kerugian sementara yang akan dipulihkan.

“Kami mengakui bahwa lokasi AOI perusahaan tidak akan berdampak pada potensi koridor habitat di masa depan yang menghubungkan Blok Hutan Batang Toru Timur dengan Blok Hutan Batang Toru Barat, dan karenanya populasi orangutan Timur dengan populasi Barat, yang hampir pasti sudah dipisahkan oleh jalan lintas trans Sumatra dan sungai Batang Toru,” tegas Emmy.

Hasil survei CSERM, yang dipresentasikan dalam sebuah lokakarya yang digelar, Rabu (19/2), mengkonfirmasi ada orangutan dan habitat orangutan di seluruh AOI. Studi ini memperkirakan kepadatan orangutan di AOI sekitar 0,32 ekor per km2, yang setara dengan rata-rata sekitar 6 orangutan yang menggunakan AOI pada titik waktu tertentu.

Mengingat jumlah orangutan yang besar dan adanya tumpang tindih di rumah, jumlah orangutan yang benar-benar menggunakan AOI NSHE hampir pasti lebih dari 6 ekor. Namun, berapa banyak orangutan yang menggunakan kawasan ini, dan seberapa sering mereka menggunakannya perlu penelitian lebih lanjut.

Dalam kesempatan itu, Emmy menyatakan pihaknya sangat mendukung studi lanjutan dan pemantauan populasi orangutan di wilayah NSHE dan upaya mereka untuk mengurangi dampak langsung dan tidak langsung pada semua orangutan menggunakan AOI-nya. Hal itu bisa dilakukan dengan:

  • Memelihara hutan yang utuh;
  • Mengembalikan area hutan terbuka;
  • Membatasi akses publik;
  • Menerapkan patroli SMART;
  • Membangun struktur persilangan satwa liar;
  • Penggunaan tanda-tanda persimpangan jalan.
  • Menciptakan daerah offset untuk hilangnya habitat permanen
  • Memastikan orangutan dapat dengan bebas menyeberang di bawah infrastruktur saluran listrik yang diusulkan dalam AOI.
  • Peningkatan kesadaran dan pendidikan konservasi untuk populasi di sekitar wilayah proyek NSHE khususnya sebagai kewajiban dan berkontribusi pada program di wilayah Batang Toru yang lebih besar.

“Kami juga menyoroti perlunya peningkatan upaya pemantauan untuk mengurangi deforestasi dan perburuan, dan untuk meminimalkan konflik manusia-orangutan,” ungkap Emmy.

Untuk memaksimalkan prospek kelangsungan hidup spesies ini, NSHE merekomendasikan agar para masyarakat yang terlibat dari sektor swasta, pemerintah, dan masyarakat setempat bergabung dengannya untuk meningkatkan konektivitas di dua lokasi utama, yakni dari blok Hutan Batang Toru Barat ke blok Hutan Batang Toru Timur, dan dari blok Barat melalui lanskap koridor tenggara (Sitandiang/Sibual-Buali) ke Cagar Alam Dolok Sibual-buali.

Kiri ke kanan: Jito Sugarjito dari Centre for Sustainable Energy and Resources Management CSERM), Randal D Glaholt dari Biotechnic, dan Senior Advisor PT NSHE, Emmy Hafild.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here