Menteri ESDM Ignasius Jonan saat menjadi pembicara dan menyampaikan pesan kunci dalam LNG Producer-Consumer Conference 2017 di Tokyo, Jepang, Rabu (18/10). Dalam konferensi ini Jonan menyampaikan materi tentang pengembangan LNG yang berkelanjutan di Indonesia.

Jakarta, Petrominer – Inpex Corp. telah memberi kepastian kelanjutan pengembangan Blok Masela kepada Pemerintah. Hal itu disampaikan dalam pertemuan antara Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan, dengan CEO Inpex Corp, Toshiaki Kitamura, di Tokyo, Jepang, Selasa lalu (17/10).

Pertemuan di kantor pusat Inpex tersebut dilakukan di sela-sela kunjungan kerja Jonan ke Jepang sejak Senin (16/10) hingga Rabu (18/10). Pengembangan Blok Masela menjadi salah satu hasil penting dari kunjungan tersebut.

Pertemuan dengan Inpex membuahkan tiga keputusan. Pertama, Pemerintah tetap meminta Inpex untuk mengembangkan LNG di darat sesuai dengan instruksi Presiden Joko Widodo. Kedua, Pemerintah akan memberikan perpanjangan 20 tahun kepada Inpex ditambah dengan 7 tahun sebagai kompensasi atas perubahan pengembangan kilang LNG dari skema terapung menjadi darat. Dan ketiga, Pemerintah memberikan keleluasaan kepada Inpex untuk memilih sendiri lokasi tempat pembangunan kilang LNG darat tersebut.

“Keputusan terkait Inpex ini, akan memberikan perpanjangan 20 tahun kepada Inpex karena sudah hampir habis masa kontraknya. Ditambah dengan 7 tahun sebagai kompensasi mengubah skema pengembangan kilang terapung menjadi kilang darat,” ujar Jonan.

Saat ini, Inpex sedang melakukan kajian pre Front End Engineering Design (pre-FEED) setelah menerima surat perintah kerja dari SKK Migas. Pasca kunjungan Menteri ESDM ke Jepang pada 16 Mei 2017 lalu juga telah disepakati bahwa pre-FEED dilakukan dengan satu opsi kapasitas produksi dan satu pulau.

Berdasarkan surat perintah tersebut, kapasitas kilang LNG ditetapkan 9,5 mtpa dan produksi gas pipa sebesar 150 mmscfd. Pra-FEED akan menjadi tahapan penting untuk memformulasikan revisi rencana pengembangan lapangan (plan of development/PoD). Seperti diketahui, sebelumnya revisi PoD dilakukan untuk menambah kapasitas produksi LNG ketika masih menggunakan skema kilang terapung.

Blok Masela yang ditandatangani tahun 1998 dikelola oleh Inpex sebagai operator dengan kepemilikan saham 65 persen dan Shell Upstream Overseas Services sebesar 35 persen. Pemerintah berharap agar Inpex bisa segera memulai proyek lapangan gas tersebut.

Agenda lainnya

Dalam pertemuan dengan LNG Japan Corporation, Senin (16/10), Jonan menyampaikan bahwa kebijakan pembelian gas Indonesia utamanya dengan jangka waktu kontrak lebih lama dengan volume tetap. Dalam kesempatan itu, juga disampaikan bahwa sebisa mungkin menghidari spot cargo, Pertamina pun diminta untuk berdialog lebih detail terkait pembelian gas ini. Selain itu, kebijakan utama gas Indonesia itu diutamakan untuk pemenuhan dalam negeri, sisanya untuk baru ekspor.

Menteri ESDM juga meminta agar dilakukan diskusi lebih detail dengan SKK Migas untuk penurunan cost pada proyek LNG Tangguh. Demikian halnya untuk LNG Benoa, bahwa harga untuk pengapalan saat ini sangat mahal, agar usaha-usaha penurunan harga segera dilakukan.

Menteri ESDM, Ignasius Jonan (lima kiri) berfoto bersama dengan anggota delegasi Producer-Consumer Conference 2017 di Tokyo, Jepang, Rabu (18/10).

Sementara saat bertemu dengan Tokyo Gas, Selasa (17/10), pihak Tokyo Gas meminta dukungan Pemerintah Indonesia atas study LNG di Sulawesi termasuk dukungan agar peraturan perundangan di Indonesia dapat mendorong bisnis gas tersebut. Saat ini Tokyo Gas, sedang melakukan study pembangunan LNG di Sulawesi dan berkomitmen untuk mempercepat penyelesaian study tersebut.

“Tokyo Gas rencananya akan membangun LNG di Indonesia, sedang dilakukan study untuk di Sulawesi. Saat ini bersama dengan Pertamina, mereka sedang menjalankan proyek pembangunan LNG Bojonegara, Banten. Pada pertemuan dengan Tokyo Gas, Bapak Menteri kembali menekankan pentingnya efisiensi,” ujar Kepala Biro Komunikas, Layanan Informasi dan Kerja Sama Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana.

Jonan juga menyampaikan kepada Tokyo Gas agar jual beli LNG atas gas sebaiknya kontrak jangka panjang. Selain itu, pengusahaan gas jangan hanya sampai membangun infrastruktur gas saja, tetapi sekaligus pembangunan pembangkit listrik. Tantangannya adalah transportation cost yang mahal untuk wilayah Indonesia Timur. Agar biaya lebih efisien dan murah, Bapak Menteri meminta agar pembagunan pembangkit listrik dilakukan di dekat sumber energinya, di mulut sumur. Kebijakan gas Indonesia itu diutamakan untuk pemenuhan dalam negeri, sisanya untuk ekspor.

Hari Rabu (18/10), agenda Menteri ESDM adalah menghadiri dan menyampaikan pesan kunci dalam LNG Producer Consumer Conference 2017. Jonan menyampaikan materi tentang pengembangan LNG yang berkelanjutan di Indonesia. LNG Producer Consumer Conference 2017 diselengggarakan oleh Kementerian Perdagangan dan Industri Jepang (Ministry of Economic, Trade and Industry/METI) dan Asia Pacific Energy Research Centre (APERC). Mengambil tema ‘Opportunities in LNG Market Driven by Innovation”, konferensi ini bertujuan untuk Memperdalam pemahaman bersama mengenai tren pasar dan pengembangan pasar LNG global. Konferensi yang dihadiri lebih dari seribu orang peserta ini akan dihadiri oleh wakil pemerintah, Bisnis dan institusi riset.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here