Karen Agustiawan usai mengikuti sidang.

Jakarta, Petrominer – Majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta menolak eksepsi atau surat keberatan mantan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Karen Agustiawan. Sidang kasus investasi akuisisi blok Baster Manta Gummy (BMG) di Australia oleh Pertamina yang menjerat Karen ini akan dilanjutkan dengan pemeriksaan saksi-saksi,

“Mengadili, menyatakan eksepsi penasihat hukum terdakwa tidak dapat diterima dan memerintahkan penuntut umum melanjutkan pokok perkara,” ujar Ketua Majelis Hakim, Emilia Djajasubagja, saat membacakan putusan sela, Kamis (21/2).

Dalam pertimbangannya, hakim menyatakan menolak seluruh eksepsi Karen. Alasannya, sejumlah poin keberatan Karen harus dibuktikan dalam sidang pemeriksaan pokok perkara.

Salah satu poin keberatan yang diajukan Karen adalah investasi Pertamina dengan membeli aset milik Roc Oil Company Ltd di blok BMG Australia yang diklaim sebagai aksi korporasi. Sehingga, menurut Karen, perkara itu mestinya masuk dalam perkara perdata.

“Hal itu harus dilakukan pemeriksaan dalam pokok perkara, maka eksepsi penasihat hukum ini harus dibatalkan,” kata hakim.

Saat ditemui setelah persidangan, Karen menginginkan agar dalam sidang pemeriksaan saksi dan putusan ke depan dapat memberikan hukum yang adil kepada dirinya.

“Sebagai Warga Negara Indonesia, saya ingin ada hukum berkeadilan, karena ini bentuk dan arti dari negara pancasilais, negara pancasilais itu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, termasuk hukum yang berkeadilan,” katanya.

Dalam perkara ini, Karen didakwa memperkaya dirinya dan perusahaan ROC, Ltd Australia sehingga merugikan negara sebesar Rp 568 miliar.

Kasus ini terjadi pada tahun 2009, ketika Pertamina melakukan akuisisi (Investasi Non-Rutin) berupa pembelian sebagian aset (Interest Participating/ IP) milik ROC Oil Company Ltd di blok BMG Australia berdasarkan perjanjian pada 27 Mei 2009 lalu. Tanpa surat perintah, Karen dan jajaran direksi disebut menyetujui untuk melakukan akuisisi blok BMG.

Sementara dalam pembelaannya, Karen membantah dakwaan jaksa bahwa dirinya melakukan tindak pidana korupsi. Menurutnya, investasi Pertamina tersebut sebagai aksi korporasi.

Perbuatan Karen dan jajaran direksi Pertamina itu dinilai menjadi keinginan perseroan. Aksi tersebut dilakukan untuk meningkatkan cadangan dan produksi minyak mentah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here