Jakarta, Petrominer – Proyek gasifikasi batubara di Tanjung Enim, Sumatera Selatan, yang digagas oleh PT Bukit Asam Tbk (PTBA) telah ditetapkan menjadi proyek strategis nasional (PSN). Ketentuan ini tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) No 109 Tahun 2020 yang ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo pada 17 November 2020.

Corporate Secretary PTBA, Apollonius Andwie C, menjelaskan Perpres Nomor 109 Tahun 2020 merupakan revisi Perpres Nomor 3 Tahun 2016 tentang percepatan pelaksanaan Proyek Strategis Nasional. Dalam Perpres sebelumnya itu, proyek gasifikasi batubara PTBA bersama PT Pertamina (Persero) dan Air Products and Chemical Inc dimasukkan sebagai proyek prioritas nasional.

“Selain proyek gasifikasi batubara, pemerintah juga menetapkan Kawasan Industri Tanjung Enim sebagai bagian dari proyek strategis nasional. Tanjung Enim akan menjadi kawasan industri untuk pengembangan industri hilirisasi batubara,” ujar Apollonius, Selasa (1/12).

Dia menegaskan bahwa naiknya status proyek gasifikasi batubara sebagai salah satu Proyek Strategis Nasional merupakan sinyal positif dan dukungan besar dari Pemerintah untuk mempercepat pengoptimalan sumber daya alam yang berlimpah. Dukungan ini juga demi meningkatkan pertumbuhan ekonomi, pemerataan pembangunan, dan kesejahteraan masyarakat sebagaimana tertuang dalam tujuan Perpres Nomor 109 Tahun 2020.

Proyek gasifikasi batubara merupakan program pemrosesan batubara menjadi dimethyl ether (DME) untuk digunakan sebagai alternatif pengganti LPG. Proyek ini dikembangkan dan dilaksanakan bersama antara PTBA, Pertamina, dan Air Products and Chemicals Inc sebagai investor dengan nilai investasi berkisar US$ 2,1 miliar.

Pabrik ini akan mengolah sebanyak 6 juta ton batu bara per tahun untuk diproses menjadi 1,4 juta ton DME.Produk ini diyakini mampu membantu mengurangi impor LPG sebanyak lebih dari 1 juta ton per tahun.

“Pengurangan impor LPG tersebut dapat menghemat cadangan devisa negara sebesar Rp 8,7 triliun per tahun atau Rp 261 triliun selama 30 tahun,” ungkap Apollonius.

Proyek gasifikasi batu bara jangan hanya dipandang dari sisi komersial, tapi juga harus dilihat sebagai sebuah proyek pioneer untuk menunjang ketahanan dan kemandirian energi Indonesia di masa mendatang. Pasalnya, selain membawa sejumlah manfaat yang sudah disebutkan di atas, hilirisasi batubara tentunya juga memiliki multiplier effect atau efek berkesinambungan bagi Indonesia.

Di antaranya adalah Multiplier effect berupa manfaat langsung yang diperoleh pemerintah senilai Rp 800 miliar per tahun atau Rp 24 triliun selama 30 tahun. Penghematan neraca perdagangan sebesar kurang lebih Rp 5,5 triliun per tahun atau senilai Rp 165 triliun selama 30 tahun. Dan pemberdayaan industri nasional dengan melibatkan tenaga lokal dan penyerapan jumlah tenaga kerja sebanyak 10.570 orang saat tahap konstruksi dan 7.976 orang selama masa operasi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here