
Bandung, Petrominer – Pengembangan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) dan Carbon Capture, Utilization and Storage (CCUS) di Indonesia saat in memasuki fase yang semakin strategis. Pemerintah pun terus memperkuat regulasi dan ekosistem pengembangan CCS/CCUS, sementara potensi penyimpanan karbon Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 600 gigaton. Sejumlah proyek juga ditargetkan mulai beroperasi hingga 2030.
Perkembangan tersebut membuat pemahaman lintas disiplin semakin dibutuhkan dalam pengembangan CCS/CCUS. Tidak hanya aspek teknologi dan penyimpanan karbon, pembahasannya juga mencakup drilling, monitoring, regulasi, keekonomian, pengembangan proyek, hingga perspektif industri.
Kebutuhan akan pemahaman yang lebih luas tersebut menjadi salah satu latar belakang bagi Jakarta Drilling Society (JDS) bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk menggelar Workshop CCS/CCUS di Bandung pada 19 September 2026 lalu. Kegiatan ini mempertemukan mahasiswa, akademisi, dan profesional industri untuk memperluas pemahaman mengenai perkembangan CCS dan CCUS, sekaligus melihat penerapannya dalam industri energi.
Kegiatan dikemas melalui general lecture dan panel discussion yang membahas berbagai aspek dalam rantai nilai CCS/CCUS. Mulai dari CO₂ capture, drilling, completion, hingga Monitoring, Measurement, Reporting, and Verification (MMRV).
Pembahasan juga mencakup perspektif industri, peluang bisnis, serta perkembangan CCS/CCUS di Indonesia. Sejumlah praktisi dan akademisi dari berbagai latar belakang turut menjadi pembicara, di antaranya Redha Bhawika Putra (JDS), Dewi Mersitarini (PT Pertamina Persero), M. Aswin Batubara (Pertamina Hulu Energi), Aqsha (Indonesia Center of Excellence for CCS and CCUS – ITB), Riskiray Ryannugroho (Wavelet Ltd), Ali Sundja (PT Pertamina), M. Rachmat Sule (Indonesia Center of Excellence for CCS and CCUS – ITB), dan Triharyo Soesilo (Indonesia Center of Excellence for CCS and CCUS – ITB).
Salah satu agenda utama workshop adalah panel discussion bertajuk “CCS/CCUS Development in Indonesia: Industry Perspective, Business Opportunities, and Future Outlook.” Diskusi ini membahas perkembangan CCS/CCUS dari perspektif industri, peluang pengembangan dan bisnis, serta prospek implementasinya di Indonesia.
Melalui diskusi tersebut, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai aspek teknis CCS/CCUS, tetapi juga mendapatkan gambaran mengenai perkembangan teknologi tersebut dalam konteks industri, peluang bisnis, serta kebutuhan pengembangan proyek di Indonesia.
Rangkaian kegiatan juga dilengkapi laboratory visit ke fasilitas Indonesia Center of Excellence for CCS and CCUS – ITB. Kunjungan ini memberikan kesempatan kepada peserta untuk melihat lebih dekat fasilitas riset yang mendukung pengembangan teknologi CCS/CCUS, termasuk EOR Lab, Monitoring CO₂ Injection Lab, GGR for CO₂ Storage Lab, dan Capture CO₂ Lab.
Kunjungan laboratorium menjadi bagian penting karena peserta dapat menghubungkan materi yang diperoleh selama workshop dengan fasilitas serta aktivitas riset yang secara langsung mendukung pengembangan CCS/CCUS.
Melalui kolaborasi tersebut, JDS dan ITB berharap workshop dapat menjadi ruang pembelajaran, diskusi, dan networking yang mempertemukan generasi muda dengan akademisi serta praktisi industri. Kegiatan ini juga diharapkan membuka wawasan peserta mengenai perkembangan CCS/CCUS serta peran dan peluang generasi muda dalam perkembangan sektor energi di Indonesia.
Workshop CCS/CCUS diselenggarakan melalui kolaborasi JDS dan ITB, dengan pelaksanaan yang turut dikoordinasikan tim DPM-10 JDS Batch 7. Tim tersebut diketuai Thaha Fajri Amin bersama Andika Pratama, Cori Mustika Putri, Renni Puri Wardhianti, Rifani Lutfiyya Sule, Satria Nugeraha Ariyanto, Tony Abimanyu, dan Unggul Laksana Bagaskara.
Kegiatan ini turut didukung OPT Oilfield Services, Kintec Global Recruitment, Halliburton, dan Ancora Bormindo, serta mendapat dukungan dari SPE dan IATMI.









Tinggalkan Balasan