Presiden Direktur PTFI Tony Wenas dalam panel diskusi bertajuk “Becoming the World’s Leaders in Green Economy: Leading NDC Implementation” di Paviliun Indonesia COP26, Glasgow.

Glasgow, Petrominer – Conference of the Parties (COP) ke-26 di Glasgow, Britania Raya, menjadi partisipasi pertama PT Freeport Indonesia (PTFI) dalam kegiatan yang digelar United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC). Di ajang ini, PTFI menegaskan kembali komitmen perusahaan untuk mengurangi 30 persen emisi gas rumah kaca (GRK) pada tahun 2030.

Presiden Direktur PTFI Tony Wenas dan Wakil Presiden Direktur Jenpino Ngabdi tampil dalam panel diskusi bertajuk “Becoming the World’s Leaders in Green Economy: Leading NDC Implementation” di Paviliun Indonesia, Kamis (4/11).

Dalam paparanya, Tony menyampaikan strategi iklim PTFI dan target yang akan dicapai. Dia juga menegaskan peran PTFI mengurangi emisi GRK sejalan dengan prinsip untuk menciptakan produksi aman dan berkelanjutan.

“Sebagai perusahaan yang terus berinovasi untuk keberlanjutan, PTFI berkomitmen dalam mengurangi emisi GRK sebesar 30 persen pada tahun 2030. Hal ini meneguhkan kembali dedikasi kami untuk mendukung ekonomi hijau (green economy), mengelola lingkungan dengan baik, serta menciptakan nilai tambah bersama bagi kepentingan semua pemangku kepentingan,” ungkapnya.

Selaras dengan komitmen dan target keberlanjutan yang selama ini digaungkan, PTFI sedang memfokuskan strateginya pada beberapa upaya. Yakni efisiensi aset dan energi, pembangunan pembangkit listrik bahan bakar ganda baru berkapasitas 129 megawatt (MW) sebagai pengganti batubara, dan evaluasi penggunaan energi alternatif seperti gas pada pembangkit listrik operasional perusahaan. Selain itu, PTFI juga terus mencari peluang baru untuk penggunaan tenaga listrik di peralatan tambang.

Tony juga menjelaskan peran sentral tembaga, produk utama PTFI, sebagai salah satu komoditas penting untuk menyokong penggunaan teknologi ramah lingkungan di berbagai industri.

“Permintaan dunia akan tembaga terus tumbuh bersamaan dengan kian meningkatnya penggunaan teknologi ramah lingkungan di berbagai sektor industri, termasuk untuk pembuatan mobil listrik yang sangat bergantung pada tembaga. Kami terus menyeimbangkan peningkatan produksi tembaga sambil tetap memperkuat komitmen menjalankan ekonomi hijau, guna menjawab kebutuhan dunia akan tembaga dari Indonesia,” paparnya.

Selain upaya yang berfokus pada pengembangan energi hijau dan teknologi ramah lingkungan, langkah strategis PTFI turut diperkuat dengan program revegetasi dan rehabilitasi lahan. PTFI telah menggencarkan penanaman tanaman mangrove (Rhizophora mucronata) di 401,31 hektar area Muara Ajkwa, Mimika, sejak tahun 2005.

Sepanjang tahun 1992-2020, PTFI telah menanam lebih dari 4 juta pohon di 2 ribu hektar area, yang akan dilanjutkan dengan target penanaman 2,3 juta pohon di 2.210 hektar area pada tahun 2022 untuk area Jayapura. Diharapkan, seluruh upaya menyeluruh ini dapat mendorong tercapainya target Indonesia dalam mengurangi emisi GRK di tahun 2030 mendatang.

“Kami meyakini upaya pencapaian target zero (nol) emisi pada tahun 2050 membutuhkan upaya kolektif dari seluruh masyarakat dunia, tidak hanya pemerintah, namun juga para pelaku industri. Untuk itu, dari COP 26 di Glasgow kami mengajak para pelaku industri di Indonesia untuk berani meneguhkan komitmen menjalankan ekonomi hijau demi masa depan Bumi yang lebih baik,” ujar Tony.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here