Salah satu pabrik paving blok yang berhasil memanfaatkan limbah PLTU Suralaya di Cilegon, Banten.

Jakarta, Petrominer – Kementerian Perindustrian berinisiatif mengajukan rancangan Peraturan Presiden yang dapat mengakomodasi kepentingan industri dalam memanfaatkan limbah pembakaran batubara Fly ash dan bottom ash (FABA) pada pembangkit listrik. Tentunya, pemanfaatan limbah ini tetap sejalan dengan standar industri hijau yang berperan meningkatkan daya saing sektor manufaktur.

Fly ash dan bottom ash sebagai limbah padat yang dihasilkan dari pembakaran batubara pada pembangkit tenaga listrik sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk industri. Baik sebagai substitusi bahan baku, substitusi sumber energi, maupun bahan baku sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,” ujar Kepala Pusat Industri Hijau, Kementerian Perindustrian, Teddy Caster Sianturi, Jum’at (12/7).

Namun, ujar Teddy, pemanfaatan FABA terbentur prosedur yang ditetapkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dalam Peraturan Pemerintah (PP) No 101 tahun 2014. Dalam bleid tersebut, FABA dikategorikan sebagai limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).

Limbah B3 adalah sisa suatu usaha atau kegiatan yang mengandung B3 yang karena sifat atau konsentrasinya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan atau merusak lingkungan hidup, dan dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain.

Menurutnya, Pemerintah sudah beberapa kali menggulirkan sejumlah paket penyederhanaan peraturan dalam bentuk paket kebijakan ekonomi. Namun khusus untuk FABA masih tetap dikategorikan sebagai limbah B3. Sebagai limbah B3, prosedur yang harus dilalui pun menjadi sangat sulit oleh pengusaha yang bergerak dalam industri tersebut.

Teddy mengeluhkan banyak sekali dokumen yang harus dilengkapi oleh pengusaha agar dapat memanfaatkan FABA. Antara lain harus menyertakan salinan izin lingkungan; salinan persetujuan pelaksanaan uji coba pengolahan limbah B3; bukti penyerahan limbah B3 dari penghasil limbah B3 kepada pengolah limbah B3; identitas pemohon; akta pendirian badan hukum; dokumen pelaksanaan hasil uji coba pengolahan limbah B3; dokumen mengenai nama, sumber, karakteristik, dan jumlah limbah B3 yang akan diolah; dokumen mengenai tempat penyimpanan limbah B3 sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 sampai dengan Pasal 18; serta sejumlah dokumen lainnya.

“Padahal, sejumlah industri seperti petrokimia, semen, pupuk, dan berbagai manufaktur lainnya juga sudah mulai mengganti sumber energinya ke batubara. Termasuk juga PT PLN (Persero) yang banyak membangun PLTU dengan sumber energi primer batubara. Dengan tingginya penggunaan batubara, maka FABA yang tidak termanfaatkan akan menumpuk menjadi berbentuk gunung,” tegasnya.

Teddy juga menjelaskan bahwa banyak pembangunan infrastruktur yang dapat memanfaatkan FABA sebagai bahan dasar atau campuran untuk pembangunan jalan dan sebagainya. FABA juga dapat dijadikan produk lain yang bermanfaat seperti genteng dan paving block.

“Karena itulah, Kementerian Perindustrian berinisiatif mengajukan Peraturan Presiden yang dapat mengakomodasi kepentingan pihak industri. Dengan demikian tujuan pengendalian polusi udara tetap terjaga, tetapi di sisi lain FABA juga dapat dimanfaatkan menjadi sesuatu yang bermanfaat,” ujarnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here