Direktur Utama JFX, Stephanus Paulus Lumintang, saat memaparkan kinerja Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) atau Jakarta Futures Exchange (JFX) tahun 2020, didampingi Direktur JFX, Hami Hassyarbani (kiri), serta Direktur Utama PT KBI (Persero), Fajar Wiibhiyadi, dan Direktur JFX, Andreas Tanadjaya (kanan).

Jakarta, Petrominer – Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) atau Jakarta Futures Exchange (JFX) mencatat kinerja positif di tengah pandemi Covid-19. Kinerja kontrak dan perdagangan mengalami kenaikan cukup signifikan selama tahun 2020 ini.

Direktur Utama JFX, Stephanus Paulus Lumintang, menyatakan bahwa sejak pertengahan tahun 2020, kinerja kontrak di JFX telah melampaui target tahun 2020. Malahan, pencapaian total transaksi kontrak hingga pertengahan bulan November ini telah melebihi dari target 8,25 juta lot, yaitu 8,252 jut lot atau lebih tinggi 0,03 persen.

“Harga komoditi emas yang cukup fluktuatif sepanjang tahun 2020 menjadi pendorong ramainya transaksi Kontrak Berjangka Emas di JFX khususnya di masa pandemi ini,” ujar Paulus, Jum’at (20/11).

Begitu juga demand kopi di pasar lokal, yang semakin tinggi dan harga yang membaik dibandingkan tahun lalu, menjadi pemicu pertumbuhan transaksi kopi. Adanya revitalisasi kontrak Olein 10 juga penyumbang transaksi yang cukup besar di JFX.

“Kinerja kontrak tersebut tidak lepas dari peran pialang dan pedagang dan dukungan kebijakan dari Bappebti (Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi) serta para pelaku pasar yang memberi andil besar dalam peningkatan volume transaksi tahun 2020,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Paulus memaparkan bahwa kinerja perdagangan hingga 16 November 2020 terdapat kenaikan yang signifikan, yakni 22,46 persen menjadi 8.252.710,24 lot dari 6.739.081,55 lot pada periode yang sama tahun 2019.

Hingga pertengahan November 2020, volume transaksi untuk kontrak Multilateral mencapai 1.450.030 lot, dari target 1.750.000 lot. Sementara volume transaksi untuk kontrak Bilateral telah melampaui target, yaitu sebesar 6.802.680,24 lot, dari 6.500.000 lot yang ditargetkan atau naik 4,65 persen.

“Meskipun hingga pertengahan bulan November ini (16/11) kontrak Multilateral baru mencapai 83 persen dari target, namun kami yakin pada akhir tahun akan dapat mencapai target,” jelasnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT Kliring Berjangka Indonesia – KBI (Persero), Fajar Wibhiyadi, menyebutan bahwa pencapaian volume transaksi di JFX merupakan hal yang positif bagi industri perdagangan berjangka komoditi di tengah pandemi yang melanda Indonesia sejak awal tahun.

“Ini semua merupakan bukti bahwa industri perdagangan berjangka komoditi cukup bertahan terhadap kontraksi ekonomi, baik nasional maupun global,” tegas Fajar.

Pasar Fisik Digital

Di bulan November 2020 ini, JFX telah menerima Surat Keputusan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi Nomor 01/BAPPEBTI/SP-BBPF/11/2020 tentang Persetujuan Bursa Berjangka untuk Melakukan Kegiatan Penyelenggaraan Pasar Fisik Emas Digital.

Surat keputusan yang diterbitkan tanggal 11 November 2020, mengukuhkan JFX sebagai penyelenggara Pasar Fisik Digital yang berkolaborasi dengan Kliring Berjangka Indonesia (KBI) yang telah ditunjuk sebagai Lembaga Kliring Penyelesaian dan Penjaminan Transaksi di Pasar Fisik Emas Digital (LK-PFED).

Pelaksanaan ini merupakan penyelarasan kepada Peraturan Menteri Perdagangan No. 119 tahun 2018 tentang kebijakan umum mengenai perdagangan fisik emas digital di Bursa Berjangka dan peraturan Bappebti No.13 tahun 2019 tentang perubahan atas peraturan Bappebti No. 04 tahun 2019 tentang Ketentuan Teknis Penyelenggaraan Pasar Fisik Emas Digital di Bursa Berjangka.

“Saat ini JFX sudah siap untuk menerima pendaftaran kepesertaan, dan sedang melakukan sosialisasi kepada calon peserta dan investor,” ujar Paulus.

Menurutnya, untuk mekanisme transaksi emas digital, JFX menawarkan dua pilihan mekanisme transaksi yang memudahkan para investor dan pelaku industri, yakni melalui metode on exchange dan mekanisme transaksi secara off exchange. Selain itu, JFX juga menyediakan transaksi terkecil mulai dari 1 lot = 0,0001 gram, hingga yang terbesar 1 lot = 10.000 gram.

Sementara menurut Fajar, mulai berjalannya pasar fisik emas digital akan meningkatkan ekosistem di perdagangan emas digital.

“Adanya transformasi teknologi dan industri 4.0 yang telah masuk ke semua sektor kehidupan menjadikan kegiatan yang serba digital akan menjadi kebutuhan masyarakat. Dengan melihat potensi yang ada, kami optimis pasar fisik emas digital kedepan akan terus tumbuh,” ungkapnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here