Presiden Direktur PT BBJ, Stephanus Paulus Lumintang (kiri), ketika menyampaikan paparannya, didampingi Kepala Bappebti Kemendag Bachrul Chairi (tengah), dan Plt Direktur Utama PT Kliring Berjangka Indonesia (KBI), Fajar Wibhiyadi (kanan). (Petrominer/Nonie)

Malang, Petrominer – Naiknya harga jual emas logam mulia dan juga fluktuasi dolar Amerika Serikat dalam beberapa pekan ini tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja Bursa Berjangka Jakarta/BBJ (Jakarta Futures Exchange/JFX). Hal tersebut tidak berpengaruh signifikan, terutama karena kondisi di dalam negeri relatif stabil.

Demikian penjelasan Direktur Utama BBJ, Stephanus Paulus Lumintang, di sela-sela penyelenggaraan “Pelatihan Perdagangan Berjangka Komoditi Bagi Media,” di Malang, Jawa Timur, Minggu (8/10).

Hal yang justru pengaruhnya besar terhadap kinerja perdagangan berjangka komoditi adalah apabila di negara produsen komoditi terjadi badai, yang akan mempengaruhi kinerja tanaman pangan, apalagi jika areal tanamnya cukup luas. Ada juga pengaruh global, seperti politik, yang dampaknya bisa cukup luas. Tetapi kalau terkait isu Korea Utara yang akan menembakkan rudal ke Amerika Serikat, pengaruhnya tidak terlalu kelihatan.

“Jika yang menembak rudal adalah Amerika Serikat, mungkin akan besar pengaruhnya. Pasalnya, negara tersebut termasuk salah satu produsen gandum dunia,” papar Paulus.

Demikian juga fluktuaasi harga emas batangan dan dolar AS kellihatannya tidak besar pengaruhnya. Pasalnya, para pelindung nilai (hedger) sudah melakukan tindakan lindung nilai. Tidak hanya itu, mereka juga melakukan pembelian emas di Indonesia dengan menggunakan nominasi mata uang rupiah.

Sementara untuk perdagangan kopi, kakao, dan olein, jelas Paulus, semuanya dilakukan berdasarkan nominasi mata uang rupiah. Dia juga memastikan, komoditi minyak bumi yang diperdagangkan di bursa berjangka tidak akan terpengaruh besar, mengingat saat ini AS sudah menguasai sejumlah ladang minyak di luar negara-negara Arab. Dengan begitu, sejak beberapa bulan terakhir, harga minyak bumi relatif stabil.

“Sebagai gambaran saat ini harga minyak bumi berada pada kisaran US$ 46 per barel, sementara harga emas US$ 1.269 per troy once. Sementara US$ 1 setara dengan Rp 13.400, melemah sekitar Rp 95 menjadi Rp 13.495. Saat ini, harga jual emas logam mulia adalah Rp 600 ribu per kg,” tutur Paulus.

Pendekatan Langsung

Ketika ditanya bagaimana agar masyarakat luas menunjukkan minat besar berinvestasi pada bursa berjangka, Paulus menyatakan telah melakukan beragam cara. Di antaranya dengan melalui pendekatan secara langsung ke para pelaku usaha di bidang ini, termasuk menanyakan kepada para investor dan para pialang, apa yang mereka butuhkan. Ini dilakukan sebagai bagian dari upaya membangun kepercayaan di bidang perdagangan berjangka komoditi.

Karena itu salah satu upaya membangun kesadaran masyarakat luas mengenai peranan bursa berjangka sebagai alternatif berinvestasi adalah dengan membangun Futures Trading Learning Centre (FTLC) di 20 kampus pergurunan tinggi di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Langkah ini, yang sudah dilakukan dalam beberapa tahun terakhir, dilakukan dalam rangka membangun kepercayaan masyarakat terhadap perdagangan berjangka.

“Selain sebagai sarana membangun kesadaran dan mengedukasi para mahasiswa mengenai perdagangan berjangka komoditi (PBK), kami melihat minat mahasiswa untuk mengetahui lebih jauh mengenai PBK cukup tinggi. Saat ini, kami sudah membangun sekitar 20 FTLC, dan yang terbanyak berada di Jatim. Minat mengulik dan menguasai lebih banyak bidang PBK, juga sudah dipelopori oleh Universitas Surya di wilayah Gading Serpong, Banten, yang menjadikan PBK sebagai salah satu mata kuliah pilihan di Fakultas Ekonomi,” jelas Paulus.

Sementara itu, Plt Direktur Utama PT Kliring Berjangka Indonesia Persero (KBI) Fajar Wibhiyadi dalam yang kesempatan sama mengemukakan bahwa dalam upaya lebih meningkatkan transparansi dan kepercayaan nasabah dalam bertransaksi, KBI telah meluncurkan SITNa (Sistem Informasi Transaksi Nasabah). Per 5 Oktober 2017, jumlah nasabah yang sudah didaftarkan oleh pialang ke SITNa mencapai 47.064 nasabah. Dari jumlah tersebut, 27.545 nasabah telah mengakses/log in ke SITNa.

Sedangkan dari 58 pialang Anggota Kliring (AK) KBI, 56 AK atau 96,55 persen telah mendaftar ke SITNa (posisi per tanggal 5 Oktober 2017). Namun jumlah pialang yang telah memberikan akses SITNa kepada nasabahnya baru mencapai 35 AK.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here