,

FABA dari PLTU Holtekamp untuk Bangun Rumah Mengaji

Posted by

Jayapura, Petrominer – PT PLN (Persero) memanfaatkan limbah hasil pembakaran batubara atau Fly Ash Bottom Ash (FABA) Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) untuk membangun rumah mengaji dan marbot Ar-Razaq di Kampung Selayar, Kota Jayapura, Papua. Pembangunan fasilitas sosial tersebut menghabiskan FABA sebanyak 28 ton dari PLTU Holtekamp.

Bantuan tersebut diberikan melalui Yayasan Baitul Maal (YBM) PLN. Bantuan senilai Rp 298,6 juta ini disalurkan kepada pengurus Musala Ar-Razaq untuk mendukung kegiatan anak-anak mengaji.

PLN bersama Komando Daerah Militer (Kodam) XVII/Cenderawasih membuat 1.500 batako berbahan campuran FABA untuk digunakan sebagai material bangunan. Dalam sebulan, rumah mengaji tersebut selesai dibangun hanya dalam waktu sebulan. Kemudian diresmikan oleh PLN bersama Pemerintah Kota Jayapura.

Wakil Walikota Kota Jayapura, Rustan Saru, menyampaikan apresiasinya kepada PLN dan berbagai pihak yang turut andil dalam proses pembangunan. Pemanfaatan FABA sebagai material buangan yang diolah dan dikelola dengan benar membuktikan bahwa limbah pembakaran batubara dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Ke depannya, pengolahan FABA ini diharapkan dapat meningkatkan ekonomi bagi masyarakat sekitar.

“Luar biasa PLTU Holtekamp dapat menghasilkan FABA yang sangat berguna. Sebelumnya Fly Ash Bottom Ash dianggap limbah namun dapat dimanfaatkan dengan baik, salah satunya oleh pihak Kodam untuk membuat jalan, batako dan batu bata,” ungkap Rustan.

PLN bersama Kodam XVII/Cenderawasih membuat 1.500 batako berbahan campuran FABA untuk digunakan sebagai material pembangunan rumah mengaji di Kampung Selayar, Kota Jayapura, Papua.

Sementara General Manager PLN UIW Papua dan Papua Barat, Moch. Andy Adchaminoerdin, menyatakan langkah ini dilakukan PLN sebagai bentuk komitmen PLN berinovasi dan mengolah barang sisa menjadi barang ekonomis.

Pengelolaan dan pengolahan limbah FABA yang tepat akan menghasilkan produk turunan yang bermanfaat, seperti paving block, batako dan bahan material cor. Penggunaan olahan limbah PLTU tersebut juga dirasa lebih ekonomis karena dapat mengurangi biaya pembangunan hingga 30 persen.

“Ini salah satu upaya untuk menjaga keseimbangan ekosistem lingkungan,” ujar Andy.

Dia berharap bantuan ini dapat mendukung masyarakat sekitar dalam menjalankan kegiatan keagamaan. Fasilitas sosial tersebut diharapkan agar terus dijaga sehingga dapat digunakan secara maksimal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *