Pri Agung Rakhmanto

Jakarta, Petrominer — Harga minyak mentah terus bergerak turun. Harga minyak Brent sempat menyentuh level US$ 27,88 per barel pada perdagangan 18 Januari 2016 lalu. Saat artikel ini ditulis, harga bergerak di kisaran US$ 30-31 per barel. Kemungkinan harga akan semakin rendah masih terbuka lebar.

Sampai serendah apa harga minyak akan terus turun, tidak ada yang tahu. Tidak ada yang bisa memastikan. Namun, satu hal yang lebih pasti adalah harga belum akan membaik selama belum ada pengurangan atau penurunan produksi dari negara-negara produsen utama seperti Saudi Arabia, Rusia, dan Amerika Serikat.

Sepanjang 2015, dalam kondisi harga minyak yang sudah relatif rendah, ketiga negara itu masih mampu mempertahankan dan bahkan meningkatkan produksi minyaknya. Amerika Serikat stabil di kisaran 9,4 juta barel per hari, Saudi Arabia dengan 9,9 juta barel per hari, dan Rusia bahkan mencatat rekor produksi tertingginya 10,8 juta barel per hari. Jika di tahun ini, dengan harga yang sudah di bawah US$ 30 per barel, mereka masih saja berlomba memacu produksinya – dan kemungkinan memang demikian – jangan harap harga minyak akan membaik.

Lalu, apa yang dapat dan perlu dilakukan Pemerintah Indonesia untuk merespon harga minyak yang rendah ini? Di tingkat makro, pemerintah perlu merevisi asumsi harga minyak mentah (Indonesian Crude Price/ICP) APBN 2016 yang saat ini ditetapkan US$ 50 per barel. Revisi asumsi ICP tentu dilakukan dalam kerangka perubahan APBN secara keseluruhan. Kisaran US$ 30-35 per barel kemungkinan akan lebih realistis. Jika hal itu terjadi, penerimaan migas berpotensi turun Rp 50-70 triliun.

Di hulu migas, langkah terobosan konkret juga harus dilakukan untuk membantu industri migas yang tanpa harga minyak rendah pun sudah dalam keadaan tertekan. Pilihannya adalah memberikan insentif non-fiskal, dalam bentuk kemudahan dan percepatan dalam pengambilan keputusan dan pelaksanaan kegiatan eksplorasi-produksi migas.

Penyederhanaan birokrasi dan perizinan harus lebih konkret, bukan sekadar memindahkan izin usaha yang tak berhubungan dengan itu ke BKPM. Pengambilan keputusan menyangkut persetujuan atau penolakan rencana pengembangan suatu blok migas dipercepat dan tidak dipolitisasi. Penyelesaian revisi UU No. 22 Tahun 2001 tentang Migas mutlak diprioritaskan, untuk memberikan kepastian aturan main bagi semua pihak. Prinsipnya, keberlangsungan industri hulu migas nasional, dengan aktifitas eksplorasi-produksi dan seluruh sumber daya manusia di dalamnya, harus tetap dijaga.

Di hilir, harga minyak rendah adalah momentum untuk menerapkan beragam kebijakan energi strategis yang dapat memberikan manfaat bagi ketahanan energi nasional jangka panjang. Di negara yang memiliki Strategic Petroleum Reserves (SPR) ataupun tanki timbun BBM yang berkapasitas besar, harga minyak rendah dimanfaatkan untuk memborong minyak mentah dan BBM jalam jumlah besar yang kemudian disimpan kembali untuk persediaan. Indonesia, karena belum memiliki SPR dan fasilitas penyimpan BBM yang masih terbatas, perlu mulai merintisnya dari sekarang. Harga BBM, perlu dijaga pada tingkat yang tidak hanya merepresentasikan tingkat keekonomian dan keterjangkauannya di masyarakat, namun juga harus berorientasi pada peningkatan ketahanan energi.

Gagasan untuk menerapkan Dana Ketahanan Energi yang diambilkan dari sebagian pendapatan negara dari penjualan BBM, yang sempat tertunda awal tahun ini karena dasar aturan yang belum kuat, perlu tetap direalisasikan. Inilah saatnya bagi pemerintah untuk segera menyelesaikan aturan hukum yang diperlukan. Agar fokus dan tidak melebar kemana-mana, alokasi pemanfaatan Dana Ketahanan Energi untuk tahap awal sebaiknya diarahkan penggunaannya untuk satu tujuan yang jelas dan prioritas saja, misalkan untuk pembangunan infrastruktur penyimpanan minyak mentah seperti SPR ataupun BBM.

Di tingkat global, Pemerintah harus dapat memaksimalkan manfaat dari keanggotaannya di OPEC maupun International Energi Agency (IEA), terutama untuk kepentingan market intelligence, keamanan pasokan dan prospek pasar. Harga minyak rendah bukan berarti pasrah.

———————
Pri Agung Rakhmanto
Dosen Fakultas Teknik Perminyakan Universitas Trisakti, Jakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here