Jakarta, Petrominer – Ini merupakan kasus pertama di industri hulu minyak dan gas bumi (migas). Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) merubah skema kontrak bagi hasil (Production Sharing Cost/PSC) yang sedang berjalan, dari cost recovery menjadi gross split.

Adalah ENI Indonesia Ltd. yang telah menyepakati perubahan skema PSC tersebut untuk kontraknya di Blok East Sepinggan, Kalimantan Timur. Perubahan tersebut dilakukan untuk mempercepat upaya pengembangan lapangan gas Merakes.

“ENI sepakat dan setuju untuk merubah dari cost recovery menjadi gross split,” ujar Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arcandra Tahar, Selasa (4/12).

Selanjutnya, jelas Arcandra, ENI akan segera merevisi dua dokumen penting. Pertama, amendemen kontrak Blok East Sepinggan dari cost recovery menjadi gross split. Kedua, merevisi proposal pengembangan lapangan (Plan of Development/POD) Merakes yang sudah disetujui sebelumnya untuk menyesuaikan dengan konsep gross split.

Berapa besarnya nilai proyek pengembangan Lapangan Merakes saat ini, belum bisa diungkapkan. Namun yang jelas nilainya tak lagi sama dengan dokumen POD sebelumnya.

“Kita targetkan POD-nya disetujui dan PSC kontraknya diamandemen paling lambat sebelum tanggal 12 Desember 2018,” tegasnya.

Menurut Arcandra, proses pengalihan skema PSC itu berlangsung sangat cepat. Keputusan bisa dicapai sebulan setelah ENI mengajukan permohonan perubahan tersebut.

“Intinya proses pengalihan dari PSC cost recovery ke gross split itu bisa berlangsung dengan sangat cepat. Mereka mengajukan, dan kita proses kurang dari sebulan,” ujarnya.

Arcandra menjelaskan, ada tiga hal yang menjadi pertimbangan perusahaan migas asal Italia itu mengubah kontraknya dari skema cost recovery menjadi gross split, yakni efficiency, certainty dan simplicity.

Lebih lanjut, dia memaparkan bahwa skema PSC gross split akan memudahkan Kontraktor melakukan pengadaan barang dan jasa yang dapat dilakukan sendiri sehingga lebih efisien. Kontraktor juga akan mendapat kepastian besaran bagi hasil yang akan mereka terima dengan cara menghitung sendiri. Tidak hanya itu, dengan skema gross split, Kontraktor akan lebih mudah lagi menjalankan kegiatannya karena tidak perlu lagi melakukan diskusi panjang dengan SKK Migas terkait rencana kerja dan anggaran. Skema gross split membuat sistem fiskal menjadi lebih sederhana. Spirit yang terakhir adalah efisiensi.

Kontrak Blok East Sepinggan ditandatangani pada 20 Juli 2012 dan akan berakhir pada 19 Juli 2042 mendatang. Komposisi participating interest blok migas ini adalah ENI 85 persen (operator) dan 15 persen dimiliki PT Pertamina Hulu Energi East Sepinggan.

Dari hasil eksplorasi yang dilakukan ENI, lapangan Merakes diprediksi memiliki cadangan gas mencapai 814 triliun cubic feet (TCF). Proyek pengembangan gas di lapangan ini direncanakan on stream tahun 2021, dengan laju produksi awal 155 million standard cubic feet per day (MMSCFD) dan produksi puncak sebesar 391 MMSCFD. Usia Lapangan Merakes hingga batas economic limits 9 tahun.

Wamen ESDM, Arcandra Tahar, didampingi Dirjen Migas, Djoko Soesilo, memberi keterangan mengenai perubahan kontrak bagi hasil Blok East Sepinggan.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here