Jakarta, Petrominer — ENGIE Group menandatangani tiga perjanjian kemitraan dengan perusahaan nasional untuk mendanai bersama, membangun, mengoperasikan dan mengelola jaringan mikro dan proyek energi baru terbarukan di berbagai wilayah di Indonesia. Total investasi dari ketiga kemitraan itu bisa mencapai US$ 1,25 miliar selama lima tahun ke depan.
Penandatangan ketiga perjanjian kemitraan ditandatangani, Rabu (29/3), seiring dengan kunjungan Presiden Perancis Francois Hollande ke Indonesia.
Wakil Presiden Eksekutif ENGIE Group, Didier Holleaux, menyebutkan, ketiga perjanjian kemitraan ini menegaskan kembali komitmen ENGIE kepada Indonesia guna mendukung penyediaan akses terhadap energi bagi seluruh pihak. Proyek-proyek tersebut akan menjadi langkah signifikan bagi Indonesia guna mencapai target untuk mengurangi ketergantungan pada sumber energi fosil, dan juga menyediakan listrik bagi 97 persen penduduknya pada tahun 2019.
“Strategi kami adalah untuk bekerja melalui kemitraan ekosistem guna mengembangkan dan menelaah energi terbarukan dan memberikan solusi teknologi rendah karbon yang inovatif untuk mengatasi tantangan energi yang khas dari negara ini,” ujar Holleaux.
Perjanjian pertama ditandatangani ENGIE dan Sugar Group Companies. Kemitraan ini merupakan investasi bersama bernilai US$ 1 miliar yang akan berlangsung selama lima tahun ke depan untuk mengembangkan pembangkit listrik fotovoltaik dan pembangkit listrik biomassa, dengan total kapasitas sebesar 500 megawatt di wilayah Sumatera dan Indonesia bagian timur.
Proyek ini akan memberikan kontribusi yang besar bagi pelaksanaan program nasional untuk mengurangi efek gas rumah kaca dan perubahan iklim, dengan perkiraan penghindaran karbon sebanyak 1,5 juta ton CO2e per tahun. Taman panel surya di Sumatra dan Indonesia Timur akan memiliki total kapasitas pembangkit listrik sebesar 300 megawatt, termasuk didalamnya sebuah taman panel surya berkapasitas 140 megawatt di provinsi Lampung yang menjadikannya salah satu fasilitas tenaga surya terbesar di Asia Tenggara. Sementara pembangkit listrik biomassa dengan total kapasitas pembangkit listrik sebesar 200 megawatt akan memanfaatkan limbah pertanian serta bahan dari pembukaan lahan. Dengan demikian proyek ini akan memungkinkan Indonesia untuk mencapai target energi terbarukannya dan mengurangi polusi dari kegiatan pembukaan lahan.
Kedua, ENGIE dan Electric Vine Industries. Mereka akan mengembangkan jaringan mikro Dalam perjanjian kemitraan ini, ENGIE dan Electric Vine Industries berencana bermitra guna mengembangkan, membiayai, membangun, mengoperasikan dan memelihara jaringan mikro fotovoltaik cerdas yang menyediakan listrik 24 jam penuh bagi 3.000 desa di Provinsi Papua selama 20 tahun. Dengan proyek baru ini, sekitar 2,5 juta orang di seluruh Papua akan dapat menikmati energi yang bersih dan dapat diandalkan tanpa gangguan. Total investasi dimaksud diperkirakan sebesar US$ 240 juta untuk lima tahun ke depan.
Ketiga, ENGIE dan PT Arya Watala Capital, yang akan mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya. Dengan menandatangani perjanjian kemitraan ini, kedua perusahaan berkomitmen untuk menginvestasikan US$ 15 juta selama tiga tahun ke depan guna mengembangkan total kapasitas pembangkit listrik hingga 10 megawatt peak (MWp) di Nusa Tenggara Timur, provinsi paling selatan di Indonesia. Proyek ini akan terletak di sepuluh daerah yang berbeda di pulau-pulau besar di provinsi tersebut seperti Timor Barat, Flores dan Sumba.








Tinggalkan Balasan