(Petrominer/Fachry Latief)

Jakarta, Petrominer – Listrik begitu terasa telah membawa perubahan di masyarakat. Kehidupan diesa-desa yang sebelumnya tidak dialiri listrik dari PT PLN (Persero), akan banyak berubah ketika listrik mulai masuk. Roda ekonomi pun bergerak lebih cepat dibandingkan sebelumnya.

Seperti yang dialami dan disaksikan langsung oleh Fatah Triyatna (49), seorang arsitek dan pengembang perumahan di Yogyakarta.

Fatah mengaku telah berulangkali menjadi saksi terjadinya perubahan kehidupan masyarakat berkat adanya aliran listrik PLN. Seperti di beberapa daerah pelosok di Kabupaten Gunungkidul tempatnya membuka lokasi perumahan baru, yakni di Kecamatan Semanu, Karang Rejo, Playen, bahkan Wonosari Kota.

Rumah-rumah yang dahulunya gulita begitu maghrib, kini lebih hidup setelah listrik masuk memberi penerangan. Anak-anak belajar tenang dalam durasi lebih panjang, warung-warung buka sampai malam, suara siaran televisi terdengar dari hampir setiap rumah. Masuknya aliran listrik telah mengubah kehidupan di di desa-desa terpencil itu.

Roda ekonomi bergerak lebih cepat dengan munculnya berbagai jenis usaha baru. Berawal dari euphoria biasa, masyarakat menemukan nilai-nilai tambah baru dari sisi ekonomi setelah ada listrik.

Peternakan burung puyuh dan ayam petelur beserta usaha penetasannya, bahkan peternakan jangkrik, tiba-tiba menjadi tren bisnis yang menggairahkan kehidupan sebuah dusun. Selain itu, muncul beberapa bisnis yang sebelumnya tidak dikenal dalam kehidupan desa. Seperti layanan percetakan, kios token listrik, kios pulsa elektrik, dan sebagainya.

Fatah mengaku selalu bahagia ketika proyek pembangunan perumahan yang tengah dibangun ikut memberi manfaat kehidupan bagi penduduk di desa-desa sekitarnya. Sebagai pengembang, dia harus bisa menyediakan layanan listrik untuk konsumennya. Imbasnya, pemukiman di sekitar proyek yang semula belum teraliri listrik, bisa ikut “nebeng” tiang listrik dan trafo yang dibangun PLN. Ini tentunya berdasarkan izin yang diajukan Fatah untuk perumahannya.

Meski PLN Distribusi Jawa Tengah dan DIY telah menargetkan rasio elektrifikasi mencapai 100 persen tahun ini, namun Fatah sering menemukan spot-spot pemukiman yang luput dari jangkauan aliran listrik. Spot itu biasanya berupa komunitas rumah yang penduduknya tidak terlalu banyak, dan jaraknya cukup jauh dari transmisi tegangan menengah listrik.

Hanya saja, PLN pun harus mempertimbangkan efisiensi biaya untuk mengalirkan listrik ke sana. Karena selain butuh trafo tersendiri, untuk mengalirkan listrik ke pemukiman di pelosok seperti itu, pasti butuh sambungan kabel transmisi dan tiang-tiang listrik baru, yang biayanya tidak sedikit.

Di kota lainnya ada Ridwan Hartono. Dia juga menjadi saksi geliat kehidupan dan ekonomi masyarakat yang terjadi akibat masuknya listrik di Tembilahan, satu kabupaten di Provinsi Riau di perbatasan Jambi.

Daerah di pelosok Indragiri hilir yang biasanya mati begitu Maghrib itu, sejak setahun terakhir ini masih hidup sampai malam. Warung-warung buka lebih larut, udara malam tak lagi sepi berhias suara jangkrik, karena sekarang ada televisi yang menguar dari rumah-rumah.

Ridwan biasanya singgah di Tembilahan untuk sholat Subuh dalam perjalanan menuju lokasi hutan HTI tempatnya bekerja merawat pokok-pokok akasia. Selama setahun terakhir setelah ada listrik di Tembilahan, dia merasa perjalanan 300 km dari rumahnya di Pekanbaru menjadi tidak terlalu mencekam seperti sebelumnya.

Suara adzan dari masjid tempat dia biasa ikut sholat subuh, terdengar semakin jelas dan terasa lebih lapang karena mendapat penerangan listrik PLN sepanjang malam. Shaf jamaah sholat Subuh pun bertambah banyak, karena penduduk Muslim tidak lagi terhambat oleh gelap untuk beribadah.

Masih Ada PR

Perjalanan Republik ini dalam melistriki negerinya memang sangat panjang. Hingga tujuh dekade Indonesia merdeka, masih terdapat jutaan rakyat yang belum menikmati listrik.

Kendati program elektrifikasi yang dicanangkan Pemerintah sudah mencapai angka 98,3 persen, namun kenyataannya masih ada 1,8 juta Rumah Tangga (RT) yang belum teraliri listrik di seluruh Indonesia.

Berdasarkan data yang diriilis Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, wilayah terbanyak yang belum mendapat aliran listrik, adalah Provinsi Jawa Timur, di mana masih 238.687 rumah tangga. Angka itu jauh lebih banyak dibandingkan Papua (7.670 rumah tangga) dan Papua Barat (3.135 rumah tangga).

Menurut I Made Suprateka, Executive Vice President Corporate Communication and CSR PLN, data itu masuk akal. Made beralasan, kenyataan di lapangan memperlihatkan masuknya jaringan listrik ke suatu desa tidak otomatis menjadikan seluruh warganya langsung bisa menikmati listrik.

“Selalu ada anomali, terutama terkait masalah daya beli konsumen listrik yang tidak merata. Tidak hanya itu, masih banyak rumah tangga yang sudah berdiri sendiri, namun listriknya masih levering (nyantol) dari rumah tangga induk,” paparnya.

Bagi Made, angka-angka tersebut sekaligus memberi gambaran bahwa PLN masih punya pekerjaan rumah (PR) besar dalam mewujudkan target menuju rasio elektrifikasi 99,9 persen yang ditetapkan pemerintah akhir tahun ini.

Meski terkesan ‘kecil’, namun tantangan untuk melistriki sisa 1,7 persen desa yang belum dialiri listrik saat ini tak bisa dibilang mudah bagi PLN. Ditjen Ketenagalistrikan juga mengakui, dari sekitar 1,8 juta rumah tangga yang belum teraliri listrik saat ini, kemungkinkan baru 1,62 juta rumah tangga yang akan dialiri listrik dari sistem pembangkit PLN.

Lebih jauh Made memaparkan, untuk mencapai target elektifikasi tersebut, setidaknya PLN harus mampu menjawab dua tantangan besar yang menghadang. Pertama, masalah daya beli masyarakat, dan yang kedua persoalan infrastruktur.

“Apalagi sejak tahun 2016, program listrik pedesaan sudah sepenuhnya ditangani oleh PLN. Dan tidak lagi menggunakan APBN yang dikelola oleh Kementerian ESDM,” tegasnya.

PLN, menurut Made, sangat menyadari penuntasan masuknya listrik ke berbagai wilayah sangat krusial untuk mengangkat harkat penduduk daerah tersebut. Karena selain dapat mendorong peningkatan kualitas hidup masyarakat, juga sangat diperlukan untuk perkembangan berbagai usaha yang menopang kehidupan. Perkembangan kebudayaan penduduk desa juga diyakini akan meningkat lantaran berkat listrik banyak aktivitas yang bisa dilakukan dengan lebih lama bahkan hingga malam hari.

“Apapun kendalanya, PLN terus berusaha menggenjot ketersediaan listrik hingga di pedesaan,” tegasnya.

Akses yang terbatas adalah kendala terbesar dalam upaya PLN mengalirkan listrik ke desa-desa terpencil dan daerah yang kondisi geografisnya sulit dijangkau. Kendala biasanya muncul dalam proses pengiriman peralatan listrik, karena banyak akses jalan yang tidak memadai untuk dilalui kendaraan pengangkut material.

Namun pemerintah juga tidak lepas tangan begitu saja. Ada upaya dari Kementerian ESDM untuk mendorong peningkatan elektrifikasi.

Menurut Humas Dirjen Ketenagalistrikan, Pandu Satria Jati, selain upaya penambahan jaringan melalui Program Listrik Perdesaan yang dilakukan PLN dan membagikan Listrik Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE), pada 1 Pebruari 2019 lalu Menteri ESDM telah menyurati Gubernur se-Indonesia untuk mengalokasikan anggaran pasang baru listrik 450 VA bagi Rumah Tangga Miskin.

“Untuk keperluan ini, Pemda bisa mengalokasikan anggaran dari APBD atau dana Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan di daerah,” tegasnya.

Selain itu, Kementrian ESDM juga meminta kepada Pemerintah Daerah (Pemda) untuk memperbaiki akses jalan, sehingga bisa mempermudah PLN dalam proses penyaluran listrik di daerah tersebut. Bagaimanapun juga, program elektrifikasi 100 persen untuk memajukan masyarakat akan sulit terwujud tanpa dukungan pemda-pemda setempat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here