Destination of Russian seaborne crude oil (in million barrels per day). (Source: Statita)

Jakarta, Petrominer – Beberapa negara telah melarang impor minyak Rusia menyusul serangannya ke Ukraina. Kondisi ini telah memaksa Rusia untuk memikirkan kembali hubungan perdagangannya dengan lebih menekankan pada Asia. Menurut analisis CryptoMonday, ekspor minyak Rusia ke Asia tumbuh sebesar 58 persen sejak Februari 2022 hingga sekarang, dari 1,2 juta barrels per day (BPD) hingga mendekati angka 1,9 juta BPD.

“Rusia harus membuat beberapa pilihan sulit setelah sanksi yang menggigit. Embargo ekonomi yang dihadapi memaksanya untuk mempertimbangkan pasar alternatif selain minyaknya. Itu terlihat dengan memperluas pengirimannya ke Asia, khususnya China dan India. Rusia menerapkan harga diskon yang sangat tinggi untuk menumbuhkan pangsa pasar di wilayah tersebut,” kata CEO CryptoMonday, Jonathan Merry, Selasa (21/6).

Invasi Rusia ke Ukraina telah mengubahnya menjadi negara Paria atau terkucilkan. Pengucilan itu pun harus dibayar dengan sanksi ekonomi yang berat. Misalnya, salah satu penghasil pendapatan utamanya, yakni industri perminyakan, menatap masa depan yang tidak pasti. Pasalnya, Uni Eropa sebagai pasar utama Rusia untuk minyak dan produknya telah memotong impornya hingga dua pertiga.

Malahan, beberapa negara, termasuk Inggris dan AS telah melarang impor minyak Rusia. Kondisi ini telah memaksa negara untuk memikirkan kembali hubungan perdagangannya dengan lebih menekankan pada Asia. Hasilnya, ekspor minyak Rusia ke Asia tumbuh sebesar 58 persen sejak awal invasi ke Ukrainan pada Februari 2022 hingga sekarang. Pertumbuhan itu terlihat dari pasokan awalnya sebesar 1,2 juta BPD ke wilayah Asia menjadi mendekati angka 1,9 juta BPD.

Meski ekspor ke Asia meningkat, namun pendapatan Rusia menurun. Pasalnya, peningkatan ekspor tersebut telah menimbulkan kenaikan biaya yang signifikan bagi Rusia. Negara ini harus banyak mengurangi pengiriman minyak mentahnya untuk menarik pembeli Asia. Sebuah laporan Bloomberg menunjukkan bahwa antara Mei hingga Juni 2022, tarif bea untuk minyak Rusia menyusut 10 persen setelah turun dari US$ 6,81 per barel menjadi US$ 6,11 per barel.

“Angka-angka itu 27 persen lebih rendah dari angka tertinggi pada April 2022 yang tercatat sebesar US$ 8,30 per barel,” ungkap Merry.

Data pasar menunjukkan bahwa Asia menyerap 50 persen ekspor minyak mentah Rusia. Itu adalah lompatan signifikan dari sekitar 33 persen dari sebelum invasi Ukraina. China dan India mengambil bagian terbesar dari pengiriman tersebut.

China menyumbang sekitar 1 juta BPD, naik dari hampir 600.000 di bulan Februari. Sementara India meningkat hingga 24 kali lipa dari 25.000 BPD yang diimpor pada Februari 2022.

Meskipun itu adalah berita positif bagi Rusia, Namun bukanlah begitu cerah untuk pasar Eropa Utara (NE). Sanksi tersebut telah menghapus hampir dua pertiga dari ekspor minyak Rusia ke NE. Akibatnya, ekspor berkurang menjadi sekitar 450.000 BPD dari 1,25 juta BPD pada awal Januari 2022.

Dalam perkembangan terakhir, Uni Eropa telah meratifikasi serangkaian sanksi yang menargetkan bisnis minyak Rusia. Sanksi yang akan mulai berlaku pada 5 Desember 2022 ini menargetkan ekspor Rusia. Malahan, beberapa negara sudah memberlakukan embargo yang mengakibatkan kerugian besar Rusia di pasar Eropa Utara.

Serangkaian larangan baru ini tidak termasuk pasokan melalui jaringan pipa Druzhba. Meski begitu, Jerman dan Polandia telah memutuskan untuk mengakhiri impor minyak Rusia melalui pipa. Keluarnya kedua negara ini meninggalkan Hongaria, Slovakia, dan Republik Ceko sebagai pengguna tersisa dan akan memotong pengiriman Eropa hampir 90 persen.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here