, ,

Economic Scale Biomassa Meningkat Berkat Cofiring PLTU

Posted by

Jakarta, Petrominer – Penggunaan biomassa sebagai substitusi bahan bakar (cofiring) Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) diklaim sejalan dengan upaya Indonesia menuju net zero emission di masa depan. Selain turut meningkatkan kontribusi energi terbarukan pada bauran energi nasional, cofiring juga berdampak positif kepada pengembangan ekonomi kerakyatan (circullar economy).

“Program cofiring ini dapat membuka lapangan kerja dan peluang bisnis di sektor biomassa, khususnya yang berbasis sampah dan limbah,” ungkap Sekretaris Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Sahid Junaidi, pada acara Launching Go Live Commercial Cofiring PLTU Indramayu, PLTU Paiton 9 dan PLTU Tanjung Awar Awar yang diselenggarakan secara daring, Senin (21/6).

Sahid menjelaskan, biomassa untuk cofiring bisa diambil dari limbah pertanian, limbah industri pengolahan kayu, hingga limbah rumah tangga serta tanaman energi yang ditanam pada lahan kering atau dibudidayakan pada kawasan Hutan Tanaman Energi seperti pohon Kaliandra, Gamal dan Lamtoro.

Menurutnya, tantangan terbesar dalam implementasi cofiring biomassa adalah upaya untuk menjaga keberlanjutan pasokan bahan baku biomassa dengan tetap memperhatikan aspek keekonomian. Dengan begitu, nantinya harga listrik yang dihasilkan tetap terjangkau dan tidak melebihi biaya pokok penyediaan (BPP) yang ditetapkan.

Dalam kesempatan itu, Sahid menegaskan bahwa pihaknya mendukung upaya yang telah dilakukan PLN untuk terus mencari peluang-peluang pemanfaatan biomassa. Tidak hanya itu, PLN juga diakui telah melakukan komitmen dengan pemasok biomassa besar seperti Perhutani, PTPN, dan Shang Hyang Seri, serta mendorong berkembangnya pasar biomassa skala menengah dan kecil.

“Kami berharap upaya-upaya ini terus dilanjutkan di setiap titik lokasi PLTU di Indonesia sehingga nantinya akan tercipta pasar demand & supply yang semakin besar dan keekonomian serta economics of scale yang semakin baik,” ujarnya.

Namun, dia berharap program ini tidak hanya berhenti sampai di sini. Program ini juga harus berkelanjutan dengan persentase dari campuran biomassanya yang terus meningkat.

PT PLN (Persero), melalui anak-anak usahanya, telah berhasil melakukan implementasi cofiring atau pencampuran biomassa dengan batubara pada 17 PLTU hingga Juni 2021. Dari proyek cofiring tersebut, PLN mampu menghasilkan energi hijau dari ekivalen kapasitas pembangkit 189 Mega Watt (MW).

Dari total 17 PLTU yang menggunakan biomassa secara komersial tersebut, sekitar 12 PLTU tersebar di Jawa dan 5 lokasi di luar Jawa. Pembangkit-pembangkit itu dikelola dua anak usaha PLN yaitu PT Indonesia Power dan PT Pembangkitan Jawa Bali.

Indonesia Power menghasilkan energi hijau melalui cofiring di PLTU Suralaya 1-4, PLTU Suralaya 5-7, PLTU Sanggau, PLTU Jeranjang, PLTU Labuan, PLTU Lontar, PLTU Pelabuhan Ratu, PLTU Barru dan PLTU Adipala.

Sementara PJB menghasilkan energi hijau melalui cofiring PLTU Paiton Unit 1-2, PLTU Pacitan, PLTU Ketapang, PLTU Anggrek, PLTU Rembang, PLTU Paiton 9, PLTU Tanjung Awar-Awar dan PLTU Indramayu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *