Anggota Komisi VII DPR RI, Aryo Djojohadikusumo

Jakarta, Petrominer — Anggota Komisi VII DPR Aryo Djojohadikusumo menyatakan mendukung pendapat Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar terkait revisi undang-undang minyak dan gas bumi (UU Migas). Salah satu poinnya adalah, demi kedaulatan energi, maka PT Pertamina (Persero) sebagai national oil company (NOC) harus ditingkatkan.

“Termasuk dengan menjadikan SKK Migas berada di bawah Pertamina. Itu sesuai misi, visi, serta aksi manifesto perjuangan Gerindra. Kami mendukung penuh,” kata Aryo ketika dihubungi, Kamis (3/11).

Menurutnya, salah satu upaya untuk mewujudkan amanah Pasal 33 UUD 1945 adalah dengan menjadikan BUMN sebagai ujung tombak pembangunan bangsa. Oleh karena itu, BUMN seperti Pertamina harus diperkuat, baik dari segi kinerja maupun korporasi.

“Saat ini, kami rasa Pertamina sudah saatnya diperkuat. Apalagi SDM Pertamina juga sudah jauh lebih baik. Kalau di negara lain bisa, termasuk Petronas dan Saudi Aramco, kenapa kita tidak,” tegas Aryo.

Dia mencontohkan, saat ini Pertamina sedang melaksanakan megaproyek penambahan kilang sebesar 600 ribu barel per hari. Untuk menjalankan proyek tersebut, Pertamina membutuhkan pendanaan yang luar bisa besar, lebih dari US$ 20 miliar atau setara dengan Rp 261 triliun.

Artinya, untuk mendapatkan pendanaan yang besar maka balance sheet atau neraca perusahaan harus diperkuat. Salah satu caranya adalah dengan memasukkan semua aset negara ke dalam Pertamina. Dengan menjadikan SKK Migas berada di bahwa Pertamina, maka sebanyak mungkin ladang minyak di Indonesia juga bisa dimasukkan ke dalam aktiva perusahaan.

Di sisi lain, ujar Aryo, penguatan Pertamina melalui revisi UU Migas adalah sejalan dengan revisi UU yang lain, yakni UU BUMN. Karena seperti diketahui, saat ini Pemerintah juga berencana membuat holding-holding BUMN, salah satunya holding BUMN energi. Dengan begitu, harusnya revisi kedua UU tersebut bisa mengakomodir masukan-masukan tersebut.

“Pembahasan revisi UU Migas tidak akan berhasil tanpa kerja sama antara legislatif dan eksekutif. Dan karena rencana eksekutif adalah melakukan holding BUMN energi, maka kenapa tidak kita siapkan saja payung hukum untuk melakukan pengawasan terhadap SKK Migas. Melalui pembahasan tersebut, maka nantu KKKS asing tidak akan merasa dianaktirikan oleh SKK Migas jika telah berada di bawah Pertamina,” paparnya.

Perkuat BUMN

Sebelumnya, Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar menyatakan bahwa UU Migas yang baru harus memperkuat National Oil Company (NOC) alias BUMN perminyakan. Dengan begitu, ada kemungkinan, SKK Migas akan menjadi unit di bawah Pertamina.

Menurut Arcandra, cadangan migas nasional yang saat ini dikuasakan kepada SKK Migas nantinya akan berpindah ke Pertamina. Cadangan migas nasional akan dijadikan leverage alias aset yang dapat digunakan Pertamina untuk mencari pinjaman.

Dengan begitu, keuangan Pertamina bisa lebih kuat, lebih gesit, bisa berinvestasi untuk melakukan eksplorasi migas, membangun infrastruktur-infrastruktur migas, dan sebagainya. “Masalah aset, bisa kita monetisasi sebagai leverage. Sementara ini aset migas kita dikelola oleh SKK Migas yang bukan lembaga bisnis. Sekarang bagaimana agar aset-aset ini bisa kita manfaatkan agar NOC kita kuat,” jelasnya.

Penguatan NOC ini bertujuan untuk memperkuat kedaulatan energi nasional. Arcandra ingin Pertamina bisa seperti Saudi Aramco di Arab Saudi, Petrobras di Brasil, atau Petronas di Malaysia.

“Saya berpendapat, coba kita lihat kontribusi NOC terhadap produksi nasional. Saudi Aramco kontribusinya terhadap produksi nasional di atas 95%. Statoil, Petrobras juga di atas 80%, Petronas di atas 50%. Kalau UU Migas kita mengarah pd kedaulatan energi, berapa kontribusi Pertamina terhadap produksi nasional? Sekarang sekitar 24%. Adalah sebuah keharusan untuk memperkuat NOC kalau kita mau bicara tentang kedaulatan energi. Sekarang kita sepakat mau memperkuat NOC? Kalau iya, maka pertanyaan mengenai seperti apa nantinya SKK Migas kita sudah punya koridor,” tegas Arcandra.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here