Jakarta, Petrominer – Selasa pagi ini (8/12), PT Pertamina (Persero) menggelar Pertamina Energy Webinar 2020. Seminar virtual tersebut dapat diakses melalui akun YouTube resmi Pertamina atau link https://ptm.id/PertaminaEnergyWebinar2020.

Menurut VP Corporate Communication Pertamina, Fajriyah Usman, kegiatan itu digelar untuk memperkuat komitmen Pertamina dalam menerapkan Environmental, Social, and Governance (ESG) Framework secara komprehensif. Kerangka kerja ini dilakukan agar dapat bertahan di tengah agilitas perubahan dan dinamika lingkungan bisnis, serta menciptakan bisnis yang sustainable dan meningkatkan enterprise value dari perusahaan.

“Forum yang mengangkat tema Energizing The Energy Transition ini akan memberikan gambaran tentang kondisi energi Indonesia di masa depan agar Indonesia dapat mempersiapkan diri menghadapi peluang dan tantangan di era energi transisi,” ujar Fajriyah, Senin (7/12).

Melalui forum ini, Pertamina berharap bisa memperoleh insight mengenai perkembangan ESG di ranah global investment dan rating agency. Dengan begitu, Pertamina dapat merumuskan strategi yang tepat dalam memformulasikan ESG Framework.

“Kehadiran Subholding Power and New Renewable Energy (NRE) kian mempertegas komitmen Pertamina dalam pengembangan energi bersih dan ramah lingkungan. Dengan potensi sumber energi bersih yang berlimpah di Indonesia, ini menjadi peluang besar untuk mendukung kemandirian energi yang lebih bersih,” tegasnya.

Sementara itu, CEO Pertamina Subholding Power and NRE, Heru Setiawan, menegaskan bahwa Pertamina terus mendorong proses transisi energi dari berbasis fosil ke energi baru dan terbarukan (EBT), yang lebih bersih guna menjawab tantangan bisnis di masa depan.

“Saat ini, negara-negara di dunia telah bergerak menuju pemanfaatan energi bersih. Tren global sekarang ini adalah masyarakat mempunyai pilihan untuk beralih dari mengonsumsi energi berbasis fosil ke energi sesuai keinginan yakni energi bersih termasuk listrik,” ujar Heru.

Berdasarkan rencana jangka panjang Pertamina, jelasnya, kebutuhan pendanaan untuk transisi energi mencapai sekitar US$ 18 miliar. Selain internal Pertamina, pendanaan nantinya juga berasal dari eksternal seperti project financing, green bond, ecofinancing, dan equity dengan mengundang mitra.

Menurut Heru, ada beberapa faktor yang memicu percepatan proses transisi ke energi bersih. Pertama adalah pandemi Covid-19 yang membuat pengembangan EBT mendapat perhatian lebih. Faktor lainnya adalah penurunan produksi migas nasional, isu lingkungan, neraca perdagangan, adanya peralihan pemanfaatan listrik seperti untuk kendaraan dan kompor, hingga sumber EBT di Indonesia yang melimpah.

“Faktor-faktor itulah yang mendorong Pertamina mempercepat transisi energi. Jadi, transisi energi ini didorong dari aspek suplai maupun demand-nya,” ungkapnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here