Menteri ESDM, Arifin Tasrif.

Jakarta, Petrominer – Penggunaan sumber energi fosil semakin besar seiring meningkatnya kebutuhan membuat cadangan sumber energi fosil kian menipis. Untuk itu, peralihan penggunaan energi fosil menuju Energi Baru dan Terbarukan (EBT) merupakan sesuatu yang mutlak dilakukan.

“Transisi energi ini mutlak diperlukan untuk menjaga ketersediaan energi di masa mendatang,” kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif, dalam sebuah acara webinar, Rabu (21/10).

Menurut Arifin, transisi energi ini diharapkan akan memperbaiki neraca perdagangan. Selama ini, Pemerintah sangat serius memperbaiki neraca perdagangan dengan mengurangi impor BBM melalui biodiesel, mengembangkan dan membangunan kilang baru untuk menambah kapasitas (migas) nasional, serta mempercepat implementasi kendaraan listrik.

Lebih lanjut, dia memaparkan bahwa saat ini Indonesia memiliki kapasitas (pembangkitan) sumber energi sebesar 70,96 Giga Watt (GW). Dari kapasitas tersebut, 35,36 persen berasal dari batubara; 19,36 persen gas bumi, 34,38 persen minyak bumi, dan EBT sebesar 10,9 persen.

Pemerintah pun tengah mengatur berbagai strategi. Selain meningkatkan kegiatan eksplorasi sumber energi fosil, hal yang paling penting adalah mengoptimalkan penggunaan EBT. Indonesia tercatat memiliki potensi sumber daya EBT lebih dari 400 GW, dari jumlah tersebut baru dimanfaatkan sebesar 2,5 persen atau 10 GW.

Arifin menilai EBT merupakan strategi penting dalam mendorong pemulihan roda ekonomi pasca pandemi serta menuju Indonesia yang berketahanan. EBT akan mendorong terciptanya pembangunan ekonomi jangka panjang yang stabil, berkelanjutan, mengurangi gas rumah kaca (GRK), dan dapat menciptakan banyak lapangan energi.

Sebagai tindak lanjut, Pemerintah telah menyiapkan aturan tentang EBT yang akan keluar dalam waktu dekat. Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rida Mulyana mengatakan beleid berbentuk Peraturan Presiden (Perpres) tersebut tengah difinalisasi.

“Di dalamnya akan mendorong pemanfaatan EBT dan juga meningkatkan investasi dalam negeri. Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri dalam transisi energi ini. Semua sangat bergantung pada investasi karena dana yang dimiliki pemerintah terbatas,” ungkap Rida.

Di samping itu, Pemerintah juga tengah menyiapkan program Renewabale Energy Based Industry Development (REBID) dan Renewable Energy Based on Economic Development (REBED) yang dirancang untuk mempercepat EBT di kawasan industri, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan ekonomi lokal khusus di wilayah 3T (Terpencil, Terluar, dan Tertinggal).

Adapula pembangunan pembangkit surya dan angin, memaksimalkan pemanfaatan bioenergi melalui Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di 12 kota dan biomassa sebagai bahan baku co-firing pada PLTU, implementasi B-30 hingga pembangunan Green Refinery.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here