Jakarta, Petrominer — Pemerintah Denmark membawa enam perusahaan untuk menjajaki kerjasama dalam pengembangan energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia. Para pimpinan perusahaan asal Denmark itu ikut mendampingi Menteri Kerja Sama Pembangunan Denmark, Ulla Tornaes, bertemu dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Igansius Jonan.
Usai pertemuan itu, perusahaan-perusahaan energi dari kedua negara dipertemukan dalam acara Forum Bisnis Energi Indonesia-Denmark, yang digelar di Kementerian ESDM, Selasa (2/5). Forum ini memfasilitasi hubungan kerjasama B-to-B antara Indonesia dan Denmark untuk meningkatkan investasi langsung, serta mendorong kerja sama bisnis kedua negara dalam bentuk proyek bersama, pembentukan Joint Venture Company, pembiayaan dan asuransi proyek sektor energi.
Keenam perusahaan Denmark yang hadir dan telah menyatakan tertarik untuk berinvestasi di Indonesia adalah Siemens Wind Power, Burmeister & Wain Scandinavian Contractor (BWSC), Vestas Wind System, Dong Energy, Welltec, dan Babcock & Wilcox Volund.
Menurut Jonan, pertemuan ini diadakan sebagai tindak lanjut kerja sama dalam kerangka Strategic Sector Cooperation (SSC) yang telah berlangsung sejak Januari 2016. SSC merupakan tindak lanjut penandatanganan MoU tentang Kerja Sama bidang Energi Bersih/Terbarukan dan Konservasi Energi pada 22 Oktober 2015 oleh Menteri ESDM dan Menteri Energi, Bangunan dan Iklim Kerajaan Denmark.
Dalam pertemuan tersebut, Jonan dan Menteri Ulla Tornaes meluncurkan buku Peta Potensi Energi Angin Indonesia dan buku Integration of Wind Energy in Power Systems.
“Peta Potensi Energi Angin Indonesia ini memberikan informasi mengenai potensi energi angin yang dimiliki Indonesia yang terbuka untuk publik dan diharapkan dapat membantu pemerintah dan pelaku usaha dalam menentukan wilayah yang memiliki potensi untuk dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Angin,” ujar Jonan.
Sedangkan Buku “Integration of Wind Energy in Power Systems” bisa dijadikan panduan bagi para pengambil kebijakan dan pelaksana dalam mengintegrasikan energi listrik yang di produksi PLT Bayu ke dalam sistem jaringan listrik PT PLN (Persero) yang didasari oleh pengalaman Denmark.
Belum Maksimal
Menurut Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan Dan Konservasi Energi, Kementerian ESDM, Rida Mulyana, potensi energi angin yang dimiliki Indonesia cukup lumayan namun pemanfaatanya belum maksimal. Pengembangan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) tentunya akan mendukung pencapaian target 25 persen EBT dalam bauran energi Indonesia di tahun 2025 dan membantu pengurangan emisi sebesar 29 persen di 2030.
“Investasi pengembangan energy angin sudah jalan satu di Janeponto dan satu di Sidrap masing-masing dengan kapasitas 75 MW dan 70 MW,” ujar Rida.
Potensi energi angin di Indonesia telah teridentifikasi di beberapa lokasi terutama di wilayah Jawa, Sulsel, Nusa Tenggara dan Maluku. Beberapa pengembang telah mengusulkan pembangunan PLTB di beberapa lokasi seperti: Sukabumi, Sidrap, Bantul dan Jeneponto. Hingga tahun 2025, Pemerintah mentargetkan pengembangan potensi PLTB sebesar 2.500 MW. Skema pengembangan PLTB tersebut dapat melalui skema feed in tariff atau negosiasi dengan PLN.
Rida menyatakan, Indonesia akan belajar banyak dengan Denmark dalam pemanfaatan energi angin. Sebagaimana diketahui, Denmark adalah negara yang berhasil mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB). Sekitar 40% energi listrik yang dihasilkan negara ini berasal dari energi bayu, bahkan saat ini Denmark sudah mengoperasikan PLTB di tengah laut (Offshore).
Perkembangan teknologi telah berdampak positif terhadap biaya produksi listrik dari PLTB yang semakin murah. Saat ini, di Denmark, energi listrik dari PLTB telah mencapai sekitar 6 Sen US$/kWh.
“Harga yang rendah ini bisa dicapai berkat rendahnya resiko investasi di Denmark, yang sekaligus juga mendorong turunnya bunga pinjaman untuk investasi,” jelasnya.









Tinggalkan Balasan