
Bandung, Petrominer – Jawa Barat merupakan pasar listrik terbesar dengan 17,5 juta pelanggan PLN. Jumlah ini mencakup sekitar 18,9 persen dari total pelanggan nasional. Dengan proyeksi kenaikan penjualan listrik sebesar 43 persen hingga tahun 2034, penambahan kapasitas pembangkit yang bersih menjadi sebuah keharusan.
Yayasan Kesejahteraan Berkelanjutan Indonesia (SUSTAIN) mengungkapkan Jawa Barat memiliki peluang besar untuk mengakselerasi transisi energi melalui pemanfaatan atap surya dan power wheeling. Mengutip data Dinas ESDM Provinsi Jawa Barat, disebutkan total potensi energi terbarukan Jawa Barat mencapai 192 giga watt (GW), namun utilisasinya baru menyentuh angka 4 GW atau sekitar 2,1 persen.
“Sebagai konsumen listrik terbesar nasional, Jawa Barat harus memimpin akselerasi energi terbarukan,” ujar Direktur Eksekutif SUSTAIN, Tata Mustasya, dalam diskusi bertajuk Transisi Energi Berkeadilan di Jawa Barat: Peluang, Tantangan, dan Strategi Implementasi Multi Pihak, Sabtu (25/4).
Hingga saat ini, porsi energi terbarukan dalam bauran energi primer Jawa Barat berada di angka 24,46 persen. Meski energi surya memiliki potensi paling besar yakni 147 GW, namun utilisasinya baru mencapai 0,48 GW. Hal ini masih jauh tertinggal dibandingkan potensi panas bumi (geothermal) yang sudah terutilisasi sebesar 1,23 GW dari potensi 4,76 GW.
Tata menyebutkan, SUSTAIN memetakan dua jalur utama untuk mencapai penambahan kapasitas tersebut. Satu, PLTS Atap rumah tangga, dengan menggunakan proporsi pelanggan rumah tangga nasional yang diterapkan pada total rumah tangga di Jawa Barat, diperkirakan terdapat 545.924 pelanggan kategori R-2 dan R-3 yang berpotensi menyumbangkan kapasitas sebesar 546 hingga 1.092 MWp.
Kedua, power wheeling industri, di mana pengalihan 10 hingga 20 persen konsumsi listrik industri ke tenaga surya berpotensi menghasilkan kapasitas 1,5 hingga 3,0 GWp. Secara total, Jawa Barat dapat menambah kapasitas listrik surya sebesar 2,0 hingga 4,1 GWp secara cepat, bersih, dan tanpa membebani APBN.

Jawa Barat Istimewa
Untuk memaksimalkan potensi tersebut, menurut Tata, SUSTAIN telah merumuskan lima langkah kunci bagi Pemda Jawa Barat. Ini sesuai dengan visi “Jawa Barat Istimewa.”
“Fokus utama adalah lima kunci kebijakan. insentif PLTS atap, regulasi power wheeling industri yang kompetitif, penguatan peran Pemda Jawa Barat sebagai enabler, investasi jaringan transmisi skala besar, serta koneksi dengan pembangunan ekonomi daerah,” paparnya.
Adopsi PLTS Atap. Mendorong penggunaan atap surya pada perumahan melalui insentif dan kemudahan perizinan.
Skema Power Wheeling. Membuka akses bagi industri untuk menggunakan jaringan transmisi dalam menyerap energi terbarukan melalui regulasi yang kompetitif.
Penguatan Peran Pemda. Menjadikan pemerintah daerah sebagai enabler yang memfasilitasi perencanaan dan proyek energi bersih.
Investasi Jaringan. Memperkuat infrastruktur transmisi dan distribusi agar mampu menyerap energi surya skala besar.
Koneksi dengan pembangunan ekonomi daerah. Transisi energi harus terhubung dengan pembangunan sektor pertanian, ekoturisme, dan industri rantai pasok transisi energi seperti baterai, panel surya, dan mobil listrik untuk menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan.
“Jawa Barat memiliki kebutuhan listrik yang meningkat signifikan, terutama dari sektor bisnis dan industri. Akselerasi energi surya bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga tentang ketahanan energi dan pembangunan ekonomi daerah,” ujar Tata.







