, , , ,

Dengan Green Mining, Industri Tambang Integrasikan Solusi Energi Rendah Karbon

Posted by

Jakarta, Petrominer — Industri pertambangan nasional terus didorong untuk mengintegrasikan pendekatan operasional yang lebih rendah emisi, efisien, dan berkelanjutan guna menjaga daya saing di tengah perubahan lanskap energi global. Pilihannya adalah transformasi menuju praktik green mining seiring meningkatnya tuntutan dekarbonisasi global dan komitmen nasional dalam menurunkan emisi.

Ketua Komite Komunikasi & Government Relations Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia – Indonesian Coal Mining Association (APBI-ICMA), Aditya Pratama, menyebutkan salah satu tantangan utama sektor pertambangan adalah tingginya ketergantungan operasional terhadap bahan bakar fosil, baik untuk pembangkit listrik di area terpencil maupun mobilitas armada operasional. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada peningkatan emisi, tetapi juga memengaruhi efisiensi biaya dan keandalan pasokan energi di lapangan.

“Transformasi menuju green mining kini semakin dipandang sebagai kebutuhan bisnis jangka panjang. Sektor pertambangan nasional pun sudah mulai menunjukkan kesiapan untuk mengadopsi praktik green mining,” ujar Aditya dalam acara Media Gathering SUN, Rabu (11/3).

Aditya menegaskan implementasi green mining memerlukan pendekatan sistem energi yang dirancang secara menyeluruh sesuai kebutuhan operasional setiap site tambang. Integrasi antara sumber energi terbarukan, sistem penyimpanan energi, serta teknologi pemantauan operasional menjadi salah satu pendekatan yang mulai dipertimbangkan untuk mendukung operasional tambang yang lebih efisien dan rendah emisi.

Pemanfaatan PLTS

Dalam kesempatan yang sama, CEO Sun Energy, Jefferson Kuesar, mengatakan bahwa strategi green mining yang efektif perlu melihat karakter operasional tambang secara menyeluruh. Karena itu, implementasinya perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing site.

Jefferson menilai, pemanfaatan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di area tambang semakin relevan karena mampu menjawab beberapa kebutuhan utama sekaligus. Mulai dari pengurangan ketergantungan pada diesel, peningkatan efisiensi biaya operasional, hingga penguatan ketahanan pasokan energi di lokasi terpencil. Dengan dukungan sistem penyimpanan energi baterai, pemanfaatan energi surya juga dapat menjadi solusi yang lebih adaptif terhadap kebutuhan operasional tambang yang dinamis.

“Integrasi antara energi surya, penyimpanan energi, dan sistem monitoring menjadi penting agar perusahaan tambang dapat menekan emisi sekaligus menjaga efisiensi dan kontinuitas operasi,” ungkapnya.

Selain dari sisi pembangkitan energi, SUN juga melihat elektrifikasi armada operasional sebagai langkah strategis berikutnya dalam mendorong operasional tambang yang lebih rendah emisi. Mengingat mobilitas merupakan salah satu komponen penting dalam rantai operasional tambang, sehingga transformasi menuju kendaraan listrik dapat memberikan dampak yang signifikan, baik dari sisi lingkungan maupun efisiensi operasional.

Menurut CEO SUN Mobility, Karina Darmawan, elektrifikasi armada perlu dipandang sebagai bagian dari transformasi operasional yang lebih menyeluruh. Implementasinya harus disesuaikan dengan karakteristik tambang, mulai dari jenis armada, rute operasional, intensitas penggunaan, hingga kesiapan infrastruktur pengisian dayanya.

“Jika dirancang dengan tepat, elektrifikasi dapat membantu perusahaan tambang menekan emisi, meningkatkan efisiensi biaya, dan menciptakan sistem operasional yang lebih modern serta lebih terukur,” ujar Karina.

“Dalam konteks tersebut, SUN telah mulai mengimplementasikan pendekatan energi terintegrasi yang mencakup pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), sistem penyimpanan energi baterai (BESS), infrastruktur pengisian kendaraan listrik, serta elektrifikasi armada operasional sebagai bagian dari solusi untuk mendukung transformasi menuju green mining di Indonesia,” paparnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *