Jakarta, Petrominer – Pandemi Covid-19 yang melanda sejak awal tahun 2020 dan masih berlangsung sampai saat ini telah mengurangi produktivitas industri hulu minyak dan gas bumi (migas) karena adanya pembatasan mobilitas dalam rangka penanggulangannya. Namun hal ini mampu diminimalisir berkat keberadaan Integrated Operation Center (IOC) yang mampu menjaga kualitas pengawasan dan koordinasi SKK Migas.
IOC yang di-launching SKK Migas tepat pergantian tahun 2020 telah menunjukkan perannya dalam mendukung operasional industri hulu minyak dan gas bumi (migas). IOC juga mampu mendukung upaya efisiensi biaya serta kecepatan pemantauan, karena bisa dilakukan secara online dan real time selama 24 jam.
Menurut Kepala Divisi Operasi Produksi SKK Migas, Bambang Prayoga, saat ini IOC sudah mampu menjadi tool yang efektif dalam pengendalian dan pengawasan pada kegiatan operasi produksi KKKS. Fasilitas ini juga sangat membantu dalam manajemen proyek dan pemeliharaan operasi KKKS, kegiatan penunjang operasi dan kegiatan survey serta pemboran.
“IOC mampu mengintegrasikan berbagai proses yang ada, menyatukan lembaran-lembaran data yang terpisah untuk kemudian diolah dan memberikan peran pada terobosan yang dilakukan oleh SKK Migas,” ujar Bambang dalam kegiatan IOC Forum 2022 yang diselenggarakan secara hybrid, Kamis (10/3).
Dia memberi contoh pengelolaan stok minyak di tanki KKKS, yang secara nasional di tahun 2017 level stok mencapai 7,02 juta barrel per day (bbls). Keberadaan IOC dapat mendukung penurunan stok lebih cepat dan di tahun 2021 stok bisa diturunkan menjadi 2,72 juta bbls.
“Hal ini tentinya berdampak positif bagi negara, karena penerimaan menjadi lebih optimal. Dengan semakin lengkap dan terintegrasinya modul di IOC, kami yakin stok minyak bisa ditekan lebih kecil lagi,” ungkap Bambang.
Transformasi digital juga dirasakan manfaatnya oleh British Petroleum (BP). Seperti disampaikan oleh CMPRP Implementastion & Ass Manager/SME BP Global (UK), Victory Rumbewas, pada Forum IOC 2022.
Victory menyampaikan bagaimana efisiensi, akurasi dan kecepatan kian meningkat di BP paska implemenasi transformasi digital.
Begitu pula di BP Tangguh di Papua. Perusahaan migas ini telah melakukan berbagai transformasi digital. Program yang diterapkan berfokus pada digitalisasi work-process (eCOW), mengintegrasikan sistem (AiW) dan meningkatkan mobilitas pekerja lapangan (OWB).
Melalui eCOW yang sebelumnya ada banyak kertas kerja untuk mengetahui resiko suatu pekerjaan, saat ini dapat diakses dalam satu tempat. Untuk OWB, telah menghilangkan banyak kertas fisik ke lapangan, dan cukup dengan tablet untuk memasukan data, melihat permit dan lainnya.
“Salah satu power dari digitalisasi adalah meningkatkan kecepatan dan efisiensi. Serta tentu saja tingkat akurasi, sehingga akan mendorong operation excellence perusahaan,” kata Victory.
Dalam kesempatan yang sama, Ardian Nengkoda dari SPE International menyampaikan bahwa dampak dari pandemi terhadap sistem energi secara global tidak hanya terkait dengan ketahanan dan ketersediaan energi. Peran migas ke depan akan lebih sebagai sumber bahan baku bagi industri. Ini artinya migas akan terus dibutuhkan.
Malahan, pembatasan mobilitas pada suatu negara ataupun antar negara justru menjadikan peran industrial revolution (IR) 4.0 akan semakin besar. Industri akan bergantung pada data science, artificial intelegence/machine learning, information communication technology (ICT) dan big data.
“Hulu migas di Indonesia sudah beroperasi sangat lama. Pada lapangan yang sudah mature, produksi akan turun dan biaya operasional akan meningkat. Tidak ada cara lain. Dalam upaya meningkatkan produktivitas operasional hulu migas harus menerapkan transformasi digital sampai pada level data analytic,” tegas Ardian.
Lebih lanjut, dia menyampaikan bahwa pengembangan IOC SKK Migas yang sudah sampai ke tahapan data analytic adalah langkah yang tepat. Dia pun mengapresiasi apa yang sudah dilakukan oleh SKK Migas. Capaian ini tentu tidak lepas dari komitmen dari top manajemen dan kesiapan sumber daya manusia di SKK Migas.
“Melalui penerapan data analytic yang terintegrasi, maka peluang improvement dan kemampuan memprediksi apa yang akan terjadi di masa mendatang berdasarkan data histori yang sudah diolah akan menjadikan operasional industri hulu migas tidak saja efisien tetapi juga bisa mencegah potensi accident dan hal negatif lainnya. Data analytic juga akan berperan penting dalam upaya penemuan lapangan migas yang baru,” tegas Ardian.









Tinggalkan Balasan