Direktur Jenderal Mineral dan Batubara, Bambang Gatot Ariyono. (Petrominer/Fachry Latief)

Jakarta, Petrominer – Merebaknya virus Corona dalam sebulan terakhir belum memberikan dampak signifikan pada sektor tambang Indonesia, terutama komoditas batubara. Malahan, kondisi tersebut mendorong kenaikan Harga Batubara Acuan (HBA) bulan Pebruari 2020.

Menurut Direktur Jenderal Minyak dan Batubara (Minerba), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bambang Gatot Ariyono, seluruh aktivitas investasi maupun operasional komoditas batubara masih berjalan normal. Padahal, China sebagai pusat penyebaran virus Corona merupakan tujuan ekspor terbesar Indonesia.

“Kurang lebih 30 persen dari total produksi batubara Indonesia diekspor ke Negeri Tirai Bambu. Namun pasokan belum terganggu karena ekspor selama ini masih dijadikan sebagai kebutuhan energi pembangkit, bukan barang industri,” ujar Gatot, Rabu (12/2).

Namun bila penyebaran virus Corona berlangsung dalam waktu lama, jelasnya, tak menutup kemungkinan memberikan sentimen negatif pada kelangsungan komoditas batubara.

“Kalau sudah enam bulan baru kelihatan. Saya gak tau selesai kapan (virusnya). Kita lihat nanti,” tegas Bambang.

Sejauh ini, Pemerintah belum menerima laporan khusus atas terganggunya kegiatan perdagangan Indonesia-China di sektor mineral dan batubara akibat penyebaran virus Corona. Belum ada perusahaan yang minta untuk mengurangi produksi atau ekspor ke China.

Penyebaran virus Corona sendiri menyebabkan lesunya industri China sehingga berujung pada persediaan (stockpile) yang kian menepis. Merosotnya pasokan batubara tersebut mengakibatkan Harga Batubara Acuan (HBA) bulan Pebruari 2020 ikut terkerek ke angka US$ 66,89 per ton.

“Harga batubara naik sedikit,” ungkap Bambang.

HBA bulan ini naik tipis dibanding bulan Januari yang berada di level US$ 65,93 per ton atau naik 1,45 persen (US$ 0,96 per ton). Ketentuan HBA tersebut dituangkan dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 43 K/32/MEM/2020 dan berlaku sejak 1 Pebruari 2020.

Faktor lain yang menjadi dominan atas pembentuk HBA adalah bencana kebakaran yang sempat melanda Australia serta meningkatnya permintaan batubara di sejumlah negara seperti Jepang dan Korea Selatan selama musim dingin. Sementara India dan China membatasi impor dan memanfaakan produksi dalam negerinya sendiri.

HBA bulan Februari akan digunakan untuk penjualan langsung (spot) selama satu bulan pada titik serah penjualan secara Free on Board di atas kapal pengangkut (FOB Veseel).

Nilai HBA sendiri diperoleh rata-rata empat indeks harga batubara yang umum digunakan dalam perdagangan batubara dunia, yaitu Indonesia Coal Index (ICI), Newcastle Export Index (NEX), Globalcoal Newcastle Index (GCNC), dan Platt’s 5900 pada bulan sebelumnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here