Jakarta, Petrominer – Langkah PT PLN (Persero) dengan mengadopsi teknologi co-firing di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) bukan semata untuk mengakselerasi pemenuhan target bauran energi sebesar 23 persen pada tahun 2025. Teknologi yang memanfaatkan biomassa sebagai substitusi bahan baku PLTU ini juga diharapkan dapat menggerakkan roda perekonomian sebagai bagian dari ekonomi sirkular.
Hingga tahun 2025, co-firing akan diimplementasikan di 52 PLTU sebagai salah satu upaya jangka pendek dalam mengurangi emisi karbon. Namun bagi PLN, aplikasi teknologi ini juga mengajak masyarakat terlibat aktif dalam penanaman tanaman biomassa, maupun mengelola sampah rumah tangga untuk dijadikan campuran bahan bakar pembangkit PLTU.
“Melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), PLN telah menyiapkan lima program pemberdayaan masyarakat pengelolaan sampah menjadi bahan baku co-firing. Program sampah menjadi energi ini merupakan bentuk strategi TJSL berbasis creating share value di bidang lingkungan yang mengubah sampah menjadi bahan bakar jumputan padat,” ungkap Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, Selasa (28/6).
Menurut Darmawan, di antara inovasi lain yang ada, co-firing memiliki keunggulan memberikan dampak di sisi sosial ekonomi karena mampu memberdayakan masyarakat. Jadi bukan hanya PLN saja, masyarakat juga ikut berperan aktif menjaga keberlangsungan bumi ini.
Program sampah menjadi energi ini telah disiapkan di sejumlah lokasi tersebar. Di antaranya adalah Bengkayang (Kalimantan Barat), Cilegon (Banten), Pangkalan Susu (Sumatra Utara), Tenayan (Riau), dan Balikpapan (Kalimantan Timur). Sebelumnya, program TJSL pengelolaan sampah menjadi energi ini juga telah dilaksanakan di Ende (NTT) dan Pulau Tinggi (Bangka Belitung).
Program co-firing dipilih karena tidak memerlukan investasi untuk pembangunan pembangkit baru. PLN hanya mengoptimalkan biaya operasional untuk pembelian biomassa. Dengan kemudahan tersebut, PLN juga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat di sekitarnya sebagai penyuplai bahan baku pembangkit.
“Di satu sisi, program ini akan membantu Pemda maupun Pemkot untuk mengatasi permasalahan sampah di daerah. Bagi masyarakat, akan meningkatkan pendapatan dan menyerap tenaga kerja dari pengelolaan sampah,” jelas Darmawan.
Bagi PLN, program co-firing merupakan bagian dari transformasi PLN untuk mendukung program peningkatan bauran energi baru terbarukan 23 persen hingga tahun 2025. Dari data yang dikumpulkan oleh PLN, manfaat implementasi co-firing pada 52 PLTU milik PLN ini dapat mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 11 juta ton CO2e.
Sementara dari program yang telah berjalan, tercatat program co-firing berhasil mengurangi masalah sampah di Indonesia sampai 59.649 ton. Dari sisi pemberdayaan masyarakat, program ini telah menyerap 2.032 tenaga kerja dengan penerima manfaat mencapai 5.231 orang. Alhasil, masyarakat dapat merasakan peningkatan pendapatan hingga mencapai Rp 1,1 miliar.
Di sisi lain, PLN juga mendapatkan efisiensi dari ekonomi kerakyatan co-firing tersebut karena membantu penurunan biaya operasi sebesar Rp 13,7 miliar.
“Tentunya, upaya ini juga sesuai dengan pemenuhan Sustainable Development Goals (SDGs) poin 1 tanpa kemiskinan, 3 kehidupan sehat dan sejahtera, 7 energi yang bersih dan terjangkau, 8 pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, serta 13 memerangi perubahan iklim dan dampaknya,” ujar Darmawan.
Selaras dengan hal tersebut, PLN bersama Kementerian ESDM dan Kementerian BUMN akan menggelar seminar bioenergi bertema “Peningkatan Bauran EBT 23 persen melalui Keberlanjutan Pasokan Bahan Bakar Co-Firing dan Pembangkit Bioenergi,” Kamis (30/6). Dapat disaksikan melalui youtube https://s.id/SideEventG20, agenda ini akan menghadirkan pembicara dari berbagai bidang, di antaranya Akademisi IPB, Meika Syahbana Rusli, Akademisi UGM, Tumiran, dan Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia, Hadi Siswoyo.









Tinggalkan Balasan