Jakarta, Petrominer – China diperkirakan bakal mendominasi masa depan proyek petrokimia di Asia. Pasalnya, negara tersebut akan segera memulai operasi 410 proyek petrokimia dari tahun 2023 hingga 2027 mendatang.
Menurut GlobalData, dari 410 proyek tersebut, proyek polypropylene memegang pangsa terbesar dengan 48 proyek. Diikuti oleh proyek propylene sebanyak 42 proyek. Tentunya, rencana China ini bakal menyumbang sekitar setengah dari proyek petrokimia yang digarap di Asia sampai tahun 2027.
Hal tersebut disampaikan oleh perusahaan data dan analitik ini dalam laporan terbarunya berjudul “Petrochemicals New Build and Expansion Projects Analysis by Type, Development Stage, Key Countries, Region and Forecasts, 2023-2027,” yang disampaikan kepada PETROMINER, Senin (27/2).
“China terus menambah sejumlah besar proyek petrokimia untuk memenuhi permintaan industri dan konsumen dalam negeri yang terus tumbuh dan juga untuk mengurangi impor. Proyek yang akan datang ini akan menjadi bagian dari rencana China untuk mencapai swasembada petrokimia,” ujar Analis Minyak & Gas GlobalData, Bhargavi Gandham.

Proyek-proyek polypropylene akan mencakup sekitar 12 persen dari semua proyek petrokimia China selama periode tahun 2023 hingga 2027. Di antaranya adalah North Huajin Refining dan Petrochemical Liaoning Polypropylene Plant dengan kapasitas produksi masing-masing 1,0 mtpa. Kedua pabrik ini diharapkan mulai beroperasi tahun 2027 .
“Di antara proyek-proyek propylene, yang akan beroperasi dari tahun 2023 hingga 2027, Shandong Yulong Petrochemical Longkou Propylene Plant 1 memimpin dengan kapasitas produksi 2,30 mtpa. Proyek ini sedang dibangun dan diharapkan mulai beroperasi tahun 2025,” ucap Bhargavi.








Tinggalkan Balasan