, ,

CEIA Bantu PLN Kejar Target EBT dan Penurunan Emisi

Posted by

Jakarta, Petrominer – PT PLN (Persero) dan Clean Energy Investment Accelerator (CEIA) memperkuat kerjasama dalam bidang asistensi teknis inovasi produk energi ramah lingkungan dan dekarbonisasi. Langkah ini dilakukan guna mengakselerasi pencapaian target porsi EBT dan dekarbonisasi.

Wakil Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan, kerjasama dengan CEIA ini merupakan kerjasama lanjutan, setelah pada tahun 2019 lalu PLN memulai kerjasama bidang riset dan inovasi. Pada kerjasama kedua ini, CEIA akan membantu PLN dalam riset pengembangan proyek-proyek strategis PLN dalam mengurangi emisi karbon.

“PLN sudah mendeklarasikan untuk berperan aktif dalam pengurangan emisi karbon dan bersama pemerintah meningkatkan porsi EBT dalam bauran energi nasional. Kolaborasi dengan CEIA ini mempercepat realisasi dan mempertajam perencanaan dari target kami,” ujar Darmawan, Kamis (28/10).

Menurutnya, dekarbonisasi ini penting. Karena itulah, PLN berupaya mengurangi emisi 242 juta metrik ton pada tahun 2030 dengan berbagai langkah strategis.

“Kita tidak bisa tinggal diam karena ini bukan lagi hanya persoalan geopolitik. Isu emisi karbon dan juga energi bersih sejatinya untuk menjaga keberlangsungan hidup anak cucu kita ke depan,” ungkap Darmawan.

Dia mengakui, masalah harga yang belum terjangkau menjadi salah satu tantangan utuk mencapai target emisi rendah karbon dan energi bersih. Namun, lambat laun akan menjadi lebih ekonomis seiring dengan pengembangan teknologi dan inovasi.

Meski begitu, Darmawan menilai pasar di Indonesia telah siap untuk menyerap produk-produk energi baru terbarukan (EBT). Hal ini terlihat dari produk kerjasama PLN dan CEIA Indonesia sebelumnya, Renewable Energy Certificate (REC) yang habis terserap oleh pasar dalam jangka waktu kurang dari satu tahun sejak diluncurkan.

Executive Vice President Pemasaran dan Pengembangan Produk PLN, Hikmat Drajat, menjelaskan, dengan penerbitan REC yang dilakukan PLN ini sudah menunjukan hasil yang sangat signifikan. Ia merinci per September ini, segmen retail menjadi pelanggan terbesar dari REC. Segmen ini berhasil menarik kurang lebih 83 ribu pelanggan dengan total kapasitas REC sebesar lebih dari 250 ribu unit.

Sementara untuk segmen korporasi atau enterprise, PLN berhasil mencatatkan 28 pelanggan dengan volume 13.087 unit REC.

“PLN saat ini sudah mendaftarkan tambahan kapasitas REC yang baru dari pembangkit PLTP Lahendong dengan kapasitas 80MW dan PLTA Bakaru dengan kapasitas 126MW. Setelah berhasil mendapatkan sertifikasi, maka akan ada tambahan kurang lebih 130 ribu unit REC per-bulan yang siap diserap oleh pelanggan,” tutur Hikmat.

Respons positif dari pasar ini, menurutnya, tidak terlepas dari kualitas produk yang ditawarkan oleh PLN. REC berhasil mendapatkan penghargaan Asia Awards 2021 dari Renewable Energy Markets (REM) pada Maret 2021. Penghargaan ini merupakan bukti keberhasilan PLN dalam membangun pasar atau menunjukkan kepemimpinan dalam Green Energy Program.

Sementara itu, Direktur WRI Indonesia, Nirarta Samadhi, selaku perwakilan CEIA Indonesia, menjelaskan bahwa nantinya kerjasama CEIA dengan PLN akan lebih didetailkan dalam pertemuan COP 26 di Glasgow. Sedangkan kesepakatan yang berlangsung hari ini menjadi kunci utama keberlanjutan kerja sama.

“CEIA akan melakukan pendampingan teknis lain seperti penyiapan standar sistem pelacakan atribut energi, atau yang dikenal sebagai renewable energy attribute tracking system,” ujar Nirarta.

Renewable energy attribute tracking system adalah suatu platform perdagangan yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan penjual dan pembeli yang terlibat dalam pasar REC. Setiap REC yang dikeluarkan oleh sistem ini mencakup informasi spesifik mengenai atribut energi baru terbarukan yang diwakilinya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *