Rembang, Petrominer – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo berencana mengadopsi tetrapod yang digunakan di pesisir Bonang, Rembang. Tetrapod yang terbuat dari Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) sisa pembakaran batubara PLTU Rembang ini akan dimanfaatkan ke sepanjang garis pantai utara (pantura) Jawa Tengah untuk mengurangi abrasi dan banjir rob.
Gayung pun bersambut. PT PLN (Persero) menyatakan siap mendukung langkah dalam mitigasi bencana demi kepentingan masyarakat luas. Apalagi, tetrapod telah terbukti mampu memecah gelombang air laut.
“Tetrapod ini berfungsi melindungi daratan dari abrasi yang disebabkan gelombang laut. Kita harapkan tetrapod ini dapat membantu menangani banjir secara signifikan dan bermanfaat bagi masyarakat luas,” ujar Ganjar, Kamis (16/3).
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, mengatakan PLN tak hanya mengoperasikan pembangkit untuk menghasilkan listrik saja. Dengan memanfaatkan teknologi terkini, PLN berhasil mengelola sisa pembakaran batubara PLTU atau FABA menjadi produk bermanfaat. Salah satunya Tetrapod.
Khusus di Jawa Tengah, PLN mengoperasikan PLTU Tanjung Jati B di Jepara, PLTU Rembang dan PLTU Adipala di Cilacap. PLTU Tanjung Jati B mampu menghasilkan FABA sekitar 359.000 ton per tahun. PLTU Rembang menghasilkan 67.000 ton per tahun, dan PLTU Adipala sebanyak 80.000 ton.
Tetrapod merupakan struktur peredam gelombang laut yang terbuat dari beton. Dalam hal ini beton yang digunakan terbuat dari FABA yang dihasilkan dari PLTU Tanjung Jati B dan PLTU Rembang. Produk tetrapod yang dihasilkan ada dua jenis, yaitu berat 100 kg dan satu ton.
PLN memastikan penggunaannya juga aman dan tidak akan mencemari lingkungan, karena kualitasnya sudah sesuai dengan standar nasional. Untuk produk FABA dari PLTU Tanjung Jati B telah lolos pengujian Laboratorium Bahan Konstruksi dari Universitas Sultan Agung (Unissula). Sementara produk FABA dari PLTU Rembang telah lolos uji laboratorium dari Universitas Diponegoro (Undip).
“Komposisi bahan tetrapod yang kami buat sudah paten dan sesuai dengan standar mutu nasional. Ini juga salah satu bukti PLN bisa mengolah sisa dari operasional pembangkit listriknya menjadi material yang bermanfaat untuk masyarakat,” ungkap Darmawan.
Selain itu, PLN akan terus mendorong pemanfaatan FABA lebih luas untuk menjadi katalis perekonomian masyarakat pesisir Pantura, khususnya di sekitar PLTU. Hal ini sejalan dengan prinsip Environmental, Social and Governance (ESG) yang dijalankan oleh PLN.
“PLN terbuka kepada masyarakat yang ingin ikut serta memanfaatkan FABA ini. Kami ingin seluruh pembangkit PLN menjadi episentrum perbaikan lingkungan, sosial dan kesejahteraan masyarakat,” ucapnya.








Tinggalkan Balasan