Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto melakukan test drive mobil listrik Mitsubishi Outlander PHEV di Kementerian Perindustrian. Mitsubishi Outlander PHEV (model SUV plug-in hybrid) memiliki kecepatan maksimal 200 km/jam dan mampu menempuh jarak 800 km dengan kombinasi bahan bakar bensin dan tenaga listrik, sedangkan jika hanya menggunakan tenaga listrik (full EV) mampu menempuh 55 km.

Jakarta, Petrominer – Salah satu kunci pengembangan mobil listrik berada pada teknologi energy saving, yaitu penggunaan baterai. Ini menjadi peluang besar bagi Indonesia. Pasalnya, Indonesia punya sumber bahan baku untuk pembuatan komponen baterai tersebut, yakni nikel murni.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Artinya, nikel murni bisa diproduksi dan diolah di dalam negeri. Bahkan, sudah ada industri pengolahan nikel murni yang berinvestasi di Morowali, Sulawesi Tengah, dan Halmahera, Maluku. Tidak hanya itu, masih ada satu bahan baku lainnya, yakni kobalt yang juga dapat mendukung pembuatan baterai. Potensi kobalt ini ada di Bangka, Bangka Belitung.

“Dengan ketersediaan kedua sumber bahan baku tersebut, saya yakin teknologi baterai untuk mobil listrik dapat dikuasai terlebih dahulu. Seiring penerapan teknologi tersebut, mobil yang ramah lingkungan juga bisa menggunakan fuel cell atau bahan bakar hydrogen,” ujar Airlangga, Selasa malam (22/5).

Dia menjelaskan bahwa percepatan pengembangan produksi mobil listrik di dalam negeri perlu didukung kesiapan penerapan teknologinya. Untuk itu, Kementerian Perindustrian terus mendorong sejumlah pelaku manufaktur otomotif dan pihak perguruan tinggi untuk melakukan kegiatan riset dalam menghasilkan inovasi teknologi.

“Teknologi mobil listrik itu ada macam-macam tipe, antara lain plug in hybrid, hybrid, dan electric vehicle. Ini yang akan kita coba,” kata Airlangga.

Menurutnya, beberapa manufaktur otomotif di Indonesia telah siap berinvestasi untuk mengembangkan kendaraan emisi karbon rendah (low carbon emission vehicle/LCEV) atau mengusung konsep ramah lingkungan, termasuk mobil listrik. Misalnya, Mitsubishi yang telah menghibahkan 10 mobil listrik kepada Pemerintah untuk dilakukan studi bersama mengenai teknologinya. Ada juga Toyota, yang tengah melakukan studi bersama dengan melibatkan UI, UGM, ITS dan ITB untuk mempelajari teknologi berbagai tipe mobil listrik.

Airlangga mengakui, jumlah komponen di kendaraan listrik jauh lebih kecil dibandingkan komponen pada kendaraan dengan mesin pembakaran. Hal ini tentu akan menyangkut tentang keberlanjutan aktivitas produksi industri komponen di dalam negeri, termasuk penyerapan tenaga kerja.

“Untuk itu, di dalam roadmap pengembangan kendaraan bermotor nasional, kami tidak serta-merta menghapus semua kendaraan dengan jenis mesin pembakaran,” tuturnya.

Produksi 20 persen

Kemenperin menargetkan, pada tahun 2025, kendaraan LCEV termasuk mobil listrik dapat diproduksi sebanyak 20 persen dari seluruh populasi kendaraan di Indonesia. Target ini telah disesuaikan dengan tren di dunia. Namun, jika permintaannya tinggi, produksi bisa melebihi dari target yang ditetapkan tersebut.

Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE), Kementerian Perindustrian, Harjanto, menjelaskan, pengembangan kendaraan listrik di dalam negeri perlu pentahapan yang terintegrasi, sebagaimana peta jalan pengembangan industri kendaraan bermotor nasional. Misalnya, aspek penyiapan regulasi atau payung hukum, infrastruktur pendukung, dan teknologi.

Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE), Kementerian Perindustrian, Harjanto.

“Selain itu, kesiapan untuk keberlanjutan industri, dampak lingkungan, dan dampak sosial,” ujar Harjanto.

Dia juga menekankan bahwa poin utama dalam pengembangan mobil listrik adalah industrinya harus ada di dalam negeri. Jangan sampai di satu sisi Indonesia ingin mengurangi impor minyak dan gas, tetapi di bagian lain impornya malah lebih besar seperti komponen baterainya.

Oleh karena itu, Kemenperin berupaya menyinkronkan kebijakan pengembangan kendaraan bermotor nasional menjadi sesuai peta jalan Making Indonesia 4.0. Dalam menuju revolusi industri 4.0, Kemenperin memacu industri otomotif agar mampu menjadi sektor unggulan untuk ekspor ICE (internal combustion engine/mesin pembakaran dalam) dan EV (electric vehicle/kendaraan listrik),” tuturnya.

Harjanto juga menekankan bahwa pembangunan infrastruktur kendaraan listrik seperti charging station menjadi sangat penting. “Jangan sampai ketika sudah bicara otomotif, ternyata infrastrukturnya belum siap. Jadi, kami berharap nanti masyarakat pakai kendaraan listrik dengan mudah dan nyaman,” ujarnya.

Selanjutnya, Kemenperin mendorong peningkatan kemampuan industri komponen dalam negeri, seperti memproduksi baterai untuk kendaraan listrik. Upaya ini antara lain dilakukan melalui kegiatan penelitian dan pengembangan (R&D) serta penerapan standardisasi produknya.

Strategi lain untuk mendorong industri otomotif di Indonesia agar berinvestasi memproduksi kendaraan listrik, yakni melalui pemberian insentif. Kemenperin telah mengusulkan kepada Kementerian Keuangan mengenai pemberian insentif terhadap pengembangan program LCEV, yang di dalamnya termasuk kendaraan listrik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here