Jakarta, Petrominer – Di era digital yang menuntut perubahan segala aspek kehidupan, kehadiran perangkat aplikasi, mempercepat pekerjaan menjadi lebih mudah dan efisien, mempersingkat waktu seketika, bahkan tidak membutuhkan kehadiran fisik. Hadirnya berbagai aplikasi untuk memudahkan konsumen yang membutuhkan barang dan jasa dari para penyedia jasa layanan dan produk telah terjadi sejak tahun 1980-an.
Kini, sejumlah penyedia jasa layanan aplikasi popular pun banyak digunakan di masyarakat. Mulai dari jasa transportasi, sistem perdagangan elektronik, sistem antar barang dan jasa seperti kurir hingga sistem aplikasi perbankan, yang lebih dikenal sebagai mobile banking system (sistem layanan perbankan bergerak/mobile).
Seluruh aplikasi tersebut sepenuhnya mengandalkan kekuatan jaringan internet. Karena itulah, muncul anekdot di masyarakat, saat ini pulsa telepon dan data telah menjadi kebutuhan primer, sama halnya kebutuhan sandang, pangan, dan papan (rumah).
Sebagai salah satu bank yang bertekad segera mewujudkan ambisinya menjadi bank terbaik di segmen pembiayaan perumahan atau menjadi “best mortgage” bank di Asia Tenggara, Bank BTN (Bank Tabungan Negara) telah melakukan berbagai persiapan dalam proses transformasi digital.
Direktur IT & Digital Bank BTN, Andi Nirwoto, mengatakan bulan Februari ini akan menjadi tonggak sejarah dalam rangka memperingati HUT ke-73 Bank BTN. Dengan munculnya SupperApp BTN Mobile, bank BUMN ini diharapkan bisa memberikan pelayanan lebih baik, melalui pemanfaatan teknologi digital yang sudah menjadi kekuatan ekosistem.
“Dengan masuknya sistem kami secara terdigitalisasi, kami tidak hanya memberikan solusi para pengguna melainkan secara komprehensif kami menggunakan ekosistem mortgage (perumahan) sebagai kekuatan BTN. Karena itu konsep solusi digital kami dengan BTN Mobile mengkombinasi antara kekuatan teknologi dengan kekuatan ekosistem, dan ini yang membedakan dengan SuperApp lainnya,” ungkap Andi.
BTN Mobile disebutnya sebagai SuperApp, karena fitur yang ditawarkan tidak hanya fitur dasar seperti mobile banking lainnya. Namun juga memiliki fitur finansial yang terkait dengan siklus kehidupan dalam ekosistem di sektor perumahan.
“Jadi BTN Mobile melayani nasabah mulai dari kepemilikan rumah, sampai segala kebutuhan di dalamnya, di luar kebutuhan transaksi dasar seperti untuk pembayaran listrik, air, gas, pajak (PBB). Konsep utama BTN Mobile menyediakan segala kebutuhan dari ekosistem perumahaan para nasabah BTN. Ini yang akan membedakan dengan aplikasi bank lainnya,” jelasnya.
Andi mengakui ketatnya daya saing industri perbankan nasional dalam aplikasi mobile banking, sehingga fungsi utama transaksi pembayaran rutin bulanan seperti tagihan listrik, telepon, air PDAM, sampai pelayanan pra bayar untuk top up uang elektronik, token listrik semuanya dilakukan fungsi financial technology maupun layanan e-commerce.
Dengan demikian, BTN Mobile selain mencakup fitur fungsi utama pembayaran (payment) juga termasuk fitur pembelian (purchase), seraya mengedepankan kekuatan ekosistemnya.
“Kami menyasar sekitar 5 sampai 7 juta nasabah poternsial kami yang terkait dengan kebutuhan Kredit Pemilikan Rumah (KPR), dan akan segera bertransformasi menggunakan BTN Mobile,” ujar Andi.
Demografi Pengguna
Dalam kesempatan terpisah, Kepala Divisi Digital Channel Division Bank BTN, Tan Jacky, menjelaskan bahwa BTN SuperApp akan diluncurkan dalam acara “Grand Launching” BTN Mobile pada 12 Februari 2023, yang bertepatan dengan peringatan puncak HUT BTN ke-73.
Sebelumnya, soft launching telah dilakukan pada 10 Desember 2022, bertepatan dengan HUT KPR ke-46. Sejak diluncurkan, sejumlah daerah atau lokasi terbesar pengguna BTN Mobile adalah DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
Berdasarkan demografisnya, para pengguna BTN SuperApp terbesar disumbang dari Provinsi DKI dan Jawa Barat, dari kelompok usia antara 25–42 tahun, dan jenis kelaminnya 60 persen pria dan 40 persen wanita. Kebanyakan dari mereka, memfungsikan fitur transfer dan pembayaran.
“Melihat kondisi ini, kami akan menggenjot mereka yang menjadi bagian ekosistem khususnya di bidang mortgage yang menjadi fungsi utama Bank BTN. Para nasabah yang berlokasi di sejumlah kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Semarang, Medan, Balikpapan, Bali dan kota-kota lainnya akan dimanjakan dengan layanan yang cepat dan mudah, dilengkapi berbagai fitur yang dapat diakses hanya dalam satu genggaman BTN Mobile,” ujar Tan Jacky.
Menurutnya, selama tahun 2022 data menunjukkan transaksi para nasabah Bank BTN lebih efektif atau lebih banyak menggunakan saluran digital yakni BTN Mobile. Dengan rincian, 94 persen melalui BTN Mobile dan hanya 6 persen yang masih mengggunakan transaksi secara offline melalui teller.
Dalam hal positioning, berdasarkan riset yang dilakukan oleh Marketing Research Indonesia (MRI), saat ini BTN Mobile berada di posisi ke-4. Selain melakukan benchmark dengan bank lainnya, Bank BTN juga terus berinovasi dan melakukan transformasi digital di sepanjang supply chain perumahan untuk meningkatkan value proposition Bank BTN dalam bisnis perumahan.
“BTN Mobile memiliki tampilan lebih menarik, user friendly serta mengusung konsep SuperApp yang mengintegrasikan ekosistem, sehingga nasabah dapat melakukan sejumlah transaksi perbankan hanya dalam satu genggaman,” jelas Tan Jacky.
Kekuatan Infrastruktur
Dalam membangun kesiapan infrastruktur BTN Mobile SuperApp, Bank BTN menerapkan konsep microservices. Di mana di dalamnya terdapat tiga server, yang terdiri dari server development, data center (DC) dan data recovery center (DRC). Juga sudah tersedia load balancer existing untuk distribusi traffic ke Open Shift Cluster dan GTM (Global Traffic Manager) untuk mengatasi terjadinya fail-over DC1-DC2.
Terkait unsur keamanan (security), Bank BTN telah memiliki pedoman keamanan informasi mencakup pengamanan virus, pelatihan kesadaran keamanan, manajemen password, insiden keamanan, serta sanksi.
Di dalam operasional New Mobile Banking BTN SuperApp, nantinya sejumlah pengamanan sistem yang dilakukan mencakup pengamanan fisik data centre, logic, Network Perimeter, Aplikasi (WAF, SSL, Penetration Test, Encription), akses aplikasi, dan V-key. Dilakukan juga sistem pengamanan front end, transport /transit (Authentifikasi), serta back end.
Keamanan Siber
Terkait pengembangan sebuah super app, Chairman dan Founder Indonesia Cyber Security Forum (ICSF), Ardi Sutedja K., menjelaskan bahwa pengembangan sebuah super app memerlukan waktu yang cukup panjang dan tidak instan. Ini sebagai bagian dari proses “Manajemen Resiko” yang mutlak dilakukan untuk memperkecil resiko keamanan siber.
Faktor keberhasilannya memerlukan perencanaan guna mempelajari dan memahami karakter serta perilaku para penggunanya.
“Minimal butuh waktu sekitar 20 bulan, seperti pengalaman kami saat memulai fase uji coba secara internal dengan karyawan kami sendiri,” ujar Ardi kepada PETROMINER.
Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk bisa menjadi super app dan layak ditawarkan kepada konsumen melalui application store. Pertama, pengembang/penyelenggara aplikasi harus mendaftarkannya ke Kementerian Komunikasi dan Informasi untuk mendapatkan status sebagai Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE).
Kedua, untuk aplikasi yang terkait dengan industri keuangan harus mendapat ijin penyelenggaraan dari otoritas pengawas keuangan OJK. Termasuk di dalamnya penyelenggara harus memenuhi dan memiliki sertifikasi uji ISO 27001 tentang Manajemen Keamanan Informasi.
Ketiga, pihak ototitas pengawas keuangan juga mensyaratkan bahwa penyelenggara diwajibkan memiliki rekomendasi dari asosiasi fintech terkait, antara lain AFTECH untuk melengkapi perijinan di OJK.
Ditanya menenai peluang BTN Mobile SuperApp bisa sepopuler aplikasi perbankan lain yang sudah eksis sebelumnya, Ardi menyebutkan bahwa hal itu bisa saja terjadi. Namun juga tergantung bagaimana mereka membuat perencanaan jangka panjang, yang dikaitkan dengan potensi produk digital.
“Untuk membangun dan mengembangkan super app ini memerlukan intensitas yang tinggi termasuk dalam hal penguasaan SDM dan biaya yang tidak murah (termasuk investasi pada teknologi serta proses pengamanannya). Karena mengelola super app tidak bisa dijadikan sebagai usaha sampingan, melainkan harus menjadi lembaga pengelola tersendiri. Sebab jika sudah terjun ke bisnis super app, artinya sama saja dengan membangun sebuah industri baru, termasuk membuat entitas/badan hukum yang baru,” ungkapnya.








Tinggalkan Balasan