Begini cara Pertamina EP bantu selamatkan Tuntong Laut, satwa langka asal Aceh Tamiang.

Pusung Kapal, Petrominer – Tidak banyak orang yang mengenal Tuntong Laut. Pasalnya, satwa langka asal Aceh Tamiang ini nyaris punah karena telurnya banyak diburu untuk dijadikan panganan khas daerah setempat.

Hal inilah yang mendorong PT Pertamina EP untuk menyelamatkan dan memperkenalkan kembali Tuntong Laut. Upaya konservasi satwa ini dilakukan dengan aktif melakukan patroli pengamanan dan penetasan telur, kemudian dibesarkan dan dilepasliarkan anak Tuntong Laut (Tukik) ke laut. Tidak hanya itu, anak usaha PT Pertamina (Persero) ini juga terus melakukan sosialisasi pelestarian satwa liar, sambil memantau populasi dan penelitian genetikanya.

Melalui Program Ekowisata Ujung Tamiang, upaya penyelematan Tuntong Laut itu dilakukan. Ini program pemberdayaan yang bertujuan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat tanpa merusak kelestarian lingkungan. Program ini diinisiasi oleh Pertamina EP Asset 1 Rantau Field bekerja sama dengan Yayasan Satu Cita Lestari Indonesia (YSLI) dan didukung Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang serta Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah Aceh.

Berawal dari isu pelestarian satwa Tuntong Laut, program ini kemudian berkembang kepada pengembangan kapasitas masyarakat dengan membentuk Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) Pusung Kapal, Aceh Tamiang.

Lihat juga: Penyelamatan Tuntong Laut, Konservasi Berbuah Trophy

Kegiatan konservasi satwa langka Tuntong Laut sudah dimulai sejak tahun 2011 dan enam tahun kemudian (tahun 2017) Pertamina EP mulai mengembangkan program tersebut. Pendirian fasilitas sarana dan prasarana seperti Rumah Informasi Tuntong (RIT) dilakukan sebagai salah satu media bagi masyarakat untuk mengetahui mengenai satwa Tuntong Laut.

Tuntong Laut, salah satu satwa langka asal Aceh Tamiang.

Tuntong Laut (Batagur Borneoensis) masuk kategori spesies kura-kura air tawar, yang lokasi persebarannya terletak di wilayah Sumatra, Kalimantan, Malaysia, dan Thailand. Saat dewasa, satwa ini bisa berukuran 50 s/d 70 cm dengan berat bisa mencapai 25 kg. Satwa ini habitatnya di daerah muara sungai hingga sekitar 4 km ke arah hulu sungai yang masih dipengaruhi pasang surut air laut.

Bertelur di pesisir pantai seperti penyu. Satwa yang banyak mengkonsumsi daun, dan akar muda serta buah bakau ini menghabiskan lebih dari 90 persen waktunya di dalam air. Sesekali muncul dan berjemur di pinggir sungai atau di atas kayu-kayu yang sudah mati.

Saat ini, keberadaan Tuntong Laut sudah jarang sekali ditemui. Hal ini dipicu perburuan liar untuk dijadikan hewan peliharaan atau dikonsumsi. Telurnya sangat disukai sebagai salah satu bahan pembuat makanan tradisional lokal.

Saat survey awal dilakukan kepada anak–anak sekolah di wilayah Aceh, lebih dari 80 persen siswa mengatakan tidak tahu tentang spesies Tuntong Laut. Hal tersebut tidak hanya disebabkan oleh kurangnya sosialisasi, namun juga karena kebiasaan masyarakat di masa lalu dengan budaya ‘betuntong’ yakni kegiatan mencari telur Tuntong untuk dijadikan panganan khas tersebut.

Sejak program ini diluncurkan dan berkat kerjasama yang baik dengan empat pihak, sudah ada peraturan daerah (Qanun) yang mengatur tentang porsi pemanfaatan telur Tuntong. Diatur juga adanya substitusi penggunaan telur ayam sebagai bahan baku panganan khas.

Malahan, program ini juga menjadi ‘endorser’ terkait perlindungan satwa melalui Permen LHK No. P.20/MENLHK/Setjen/kum.1/6/2018.

Menurut Rantau Field Manager, Totok Parafianto, program pemberdayaan Ekowisata Ujung Tamiang dibentuk guna menciptakan alternatif lapangan kerja baru yang ramah lingkungan. Dengan begitu, masyarakat pesisir tidak bergantung lagi pada mata pencaharian yang dapat merusak lingkungan, seperti menebang kayu mangrove untuk dijadikan arang dan mengambil telur satwa langka Tuntong Laut untuk diperjualbelikan

“Manfaat program ini diharapkan tidak hanya dari sisi lingkungan saja, tetapi juga menghadirkan keuntungan bagi masyarakat,” ujar Totok di sela kunjungan ke salah satu mitra CSR Pertamina EP, Rabu (6/11).

Kegiatan konservasi Tuntong Laut tak terbatas pada patroli pengamanan dan penetasan telur, namun juga pembesaran dan pelepasan Tukik, sosialisasi pelestarian satwa liar, serta pemantauan populasi dan penelitian genetika.

Dia menjelaskan, ini bukan merupakan pekerjaan rumah yang mudah. Pendampingan intensif dilakukan sejak program berjalan hingga kini. Salah satu potensi permasalahan yang dijumpai adalah banyaknya limbah kayu apung (driftwood) yang berasal dari aliran sungai dan pinggiran pantai. Kondisi ini bisa menghambat Tuntong Laut untuk bertelur saat musim telur tiba.

“Permasalahan ini kemudian dilihat sebagai peluang untuk menjadikan sampah kayu apung tersebut menjadi bahan kerajinan (souvenir) khas dari lokasi tersebut,“ papar Totok.

Tidak hanya itu, jelasnya, penekananan pada konsep ekowisata diharapkan dapat menjaga keseimbangan ekosistem dan juga memberikan dampak kepada masyarakat melalui peningkatan ekonomi. Masyarakat melalui POKDARWIS diarahkan untuk menciptakan atraksi wisata yang dapat menarik pengunjung untuk datang. Guna mendukung kegiatan ekowisata, seluruh potensi lokal seperti hasil tangkapan laut yang ada di wilayah Kampung Pusung Kapal diolah untuk dijadikan oleh-oleh khas daerah tersebut. Salah satunya adalah blacan/terasi.

Begini cara Pertamina EP bantu selamatkan Tuntong Laut, satwa langka asal Aceh Tamiang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here