Kegiatan konservasi Tuntong Laut tak terbatas pada patroli pengamanan dan penetasan telur, namun juga pembesaran dan pelepasan Tukik, sosialisasi pelestarian satwa liar, serta pemantauan populasi dan penelitian genetika.

Aceh Tamiang, Petrominer — Upaya yang telah dilakukan PT Pertamina EP patut mendapat acungan jempol. Di sela-sela kesibukannya mencari dan memproduksi minyak dan gas bumi, anak usaha PT Pertamina (Persero) ini juga giat melakukan konservasi satwa, terutama yang berada di wilayah sekitar operasinya.

Seperti yang dilakukan Pertamina EP Asset 1 Rantau Field dengan programnya mengembalikan Tuntong Laut ke habitatnya. Namun upaya konservasi satwa yang nyaris punah ini tidak bisa dilakukan sambil lalu. Kegiatannya pun bukan sekedar melepasliarkan anak Tuntong Laut (Tukik) ke laut.

Dibantu sejumlah aktifis lingkungan, Pertamina EP mengambil langkah berkelanjutan untuk menyelamatkan Tuntong Laut di Kabupaten Aceh Tamiang melalui program Keanekaragaman Hayati. Dengan begitu, kondisi spesies yang terancam punah ini bisa diselamatkan.

Seekor Tuntong betina perlahan berjalan menuju air laut. Jalannya lamban, hingga akhirnya dia berenang dan pergi menjauh ke tengah laut.

Melalui program tersebut, diputuskan bahwa keikutsertaan dalam upaya penyelamatan Tuntong Laut tidak hanya berakhir pada penyelamatan telur, kemudian diretas, ditangkar dan dilepaskan ke habitatnya. Sebagai anak usaha BUMN Migas yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan, Pertamina EP juga memberikan dukungan terhadap survei dan patroli secara berkala untuk memastikan telur Tuntong Laut aman.

“Petugas kami ikut patroli pada saat musim bertelur sekitar november hingga penetasan hingga April,” kata Field Manager Asset 1 PEP Rantau, Richard Muthalib, Kamis (3/8).

Untuk konservasi Tuntong Laut di Aceh Tamiang, Pertamina EP bekerja sama dengan Yayasan Satu Cita Lestari Indonesia (YSLI) sebagai pelaksana lapangan. Pertamina EP Field Rantau bersama aktifis lingkungan YSLI melakukan konservasi Tuntong Laut laut sejak tahun 2013, karena dihadapkan pada kenyataan, spesies yang dulu berkembang biak di wilayah ini, kini termasuk urutan ke 25 dari 327 spesies dunia yang hampir punah (Data International Union for Conservation of Nature – IUCN).

Tuntong Laut masuk kategori spesies kura-kura air tawar, yang lokasi persebarannya terletak di wilayah Sumatra, Kalimantan, Malaysia, dan Thailand. Saat dewasa, satwa ini bisa berukuran 50 s/d 70 cm dengan berat bisa mencapai 25 Kg. Satwa ini habitatnya di daerah muara sungai hingga sekitar 4 km ke arah hulu sungai yang masih dipengaruhi pasang surut air laut.

Bertelur di pesisir pantai seperti penyu. Satwa yang banyak mengkonsumsi daun, dan akar muda serta buah bakau ini menghabiskan lebih dari 90% waktunya di dalam air. Sesekali muncul dan berjemur di pinggir sungai atau di atas kayu-kayu yang sudah mati.

Saat ini, keberadaan Tuntong Laut sudah jarang sekali ditemui. Hal ini dipicu perburuan liar untuk dijadikan hewan peliharaan atau dikonsumsi. Telurnya sangat disukai sebagai salah satu bahan pembuat makanan tradisional lokal.

“Dulu tahun 95, saya jual 500 rupiah per butir saat telur ayam masih 60 rupiah, apalagi sekarang telur sudah langka,” kata Abu Bakar, mantan pemburu yang kini beralih jadi aktifis konservasi Tuntong Laut

Menurut aktifis YSLI, perburuan besar-besaran terjadi pada 1990-an guna memenuhi permintaan hewan peliharaan di Malaysia, Thailand, maupun Cina. Inilah yang menjadi pemicu utama kepunahan Tuntong Laut. Sementara tingkat perburuan yang masif tidak diimbangi daya dukung alam terhadap kemunculan Tuntong Laut baru.

“Sekarang kami sudah punya payung hukum. Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Tamiang telah menerbitkan Kanun atau Perda demi melindungi Tuntong Laut,” kata Sekretaris YSLI, Tatang Yudokumoro.

Kondisi nyaris punah inilah yang mendorong Pertamina EP Field Rantau untuk mendesain program Kehati berkelanjutan. Tidak saja langkah konservasi tetapi mempersiapkan eco wisata Tuntong Laut.

“Agustus 2017 ini, kita sudah mulai bangun pusat informasi yang akan memaparkan seluruh informasi tentang Tuntong Laut,” kata Richard Muthalib.

Berkat upaya pelestarian satwa Tuntong Laut ini, Pertamina berhasil meraih penghargaan dari The La Tofi School of CSR dalam ajang Indonesia Green Awards 2014 untuk kategori Pengembangan Keanekaragaman Hayati. Penghargaan tersebut sebagai bukti, Pertamina tak hanya sekedar mengejar profit, tetapi juga mendukung konservasi satwa langka di wilayah sekitar operasinya.

Usai didata, Tuntong dipasangi microchip dengan cara disuntikkan di kaki belakang sebelah kiri, sebagai penanda dan bisa dipantau kemana saja pergerakannya.

Pasang Microchip

Nama latin Tuntong Laut adalah Batagur Borneoensis. Satwa ini merupakan salah satu spesies yang nyaris punah dan tidak ditemukan lagi selama 10 tahun terakhir di daerah sebarannya seperti di Sumatera Utara, Riau dan Jambi. Hanya di beberapa daerah satwa ini masih ditemukan dalam jumlah kecil. Salah satunya di perairan hutan bakau Aceh Tamiang.

Di pesisir pantai Ujung Tamiang sekelompok penggiat lingkungan beranggotakan tujuh orang, melakukan patroli menyelamatkan telur-telur Tuntong Laut dari serangan binatang liar seperti babi hutan atau perburuan manusia. Mereka juga mendata dan mengembalikan Tuntong Laut betina ke perairan setelah bertelur di pesisir. Para penggiat tersebut merupakan warga setempat.

Penggiat lingkungan yang tergabung dalam Yayasan Satu Cita Lestari Indonesia itu pernah menemukan Tuntong Laut betina yang terdampar di pesisir pantai ujung Tamiang. Kondisinya agak lemah. Untuk sementara dipulihkan, dan selanjutnya dilepaskan kembali ke habitatnya.

Sebelum dilepas Tuntong Laut betina dengan ciri batok kelapa berwarna hitam polos itu didata. Dengan panjang badan 53 cm dan berat 18.10 kg, Tuntong Laut betina tersebut diperkirakan sebagai Tuntong Laut indukan dewasa. Menurut Abu Bakar, indukan dewasa sekali bertelur bisa mencapai 25 butir. Telurnya sebesar telur bebek. Biasanya disimpan dalam lubang pasir sedalam 10 -18 cm.

Usai didata, dipasangi microchip dengan kode 07071309, dengan cara disuntikkan di kaki belakang sebelah kiri, sebagai penanda dan bisa dipantau kemana saja pergerakannya.

Sejak tahun 2013 sampai saat ini, sudah ada. Sebanyak 73 Tuntong Laut betina dewasa telah dikembalikan ke habitatnya dan 1204 Tuntong Laut dilepasliarkan setelah ditetaskan. Kegiatan pelestarian Tuntong Laut oleh Yayasan Satu Cita Lestari Indonesia itu didukung oleh BKSDA setempat dan Pertamina EP Asset 1 Rantau Field dalam program konservasi keanekaragaman hayati. Sejak saat itu, kegiatan mereka tak terbatas pada patroli pengamanan dan penetasan telur, namun juga pembesaran dan pelepasan tukik, sosialisasi pelestarian satwa liar, pemantauan populasi dan penelitian genetika.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here