Kepala Badan Standardisasi Kebijakan dan Jasa Industri (BSKJI) Kementerian Perindustrian, Doddy Rahadi.

Jakarta, Petrominer – ASEAN Food Testing Laboratory Committee (AFTLC) telah menetapkan Balai Besar Industri Agro (BBIA) sebagai Laboratorium Rujukan Pengujian Pangan Indonesia (LRPPI). Ruang lingkup parameternya meliputi pengujian cemaran logam berat dan mikotoksin pada bahan baku dan bahan antara pangan.

Penetapan itu diputuskan dalam sidang AFTLC ke-19 yang diselenggarakan secara virtual pada 27–28 September 2021 lalu. Dalam pertemuan itu, Balai Besar Industri Agro (BBIA) menjadi salah satu delegasi dari Indonesia.

“BBIA Bogor merupakan unit kerja di lingkungan BSKJI yang berperan nyata dalam peningkatan mutu laboratorium pengujian pangan nasional. Lembaga ini merupakan salah satu anggota Jejaring Laboratorium Pengujian Pangan Indonesia (JLPPI) yang telah ditetapkan menjadi LRPPI pada 10 September 2018 oleh Komisi Laboratorium Pengujian Indonesia (KLPPI),” tutur Kepala Badan Standardisasi Kebijakan dan Jasa Industri (BSKJI) Kementerian Perindustrian Doddy Rahadi, Minggu (3/10).

AFTLC merupakan komite di Kawasan ASEAN yang bertugas memonitor dan mengkoordinasikan kegiatan pengujian mutu pangan di ASEAN. Komite ini dibentuk dalam rangka peningkatan dan penyetaraan kemampuan laboratorium pengujian pangan di negara ASEAN lewat sarana kerjasama antar laboratorium pangan di negara anggota ASEAN.

Memasuki ASEAN Single Market, jelas Doddy, pangan menjadi sektor yang dipercepat proses integrasinya dalam ASEAN Economic Community (AEC). Untuk itu, diperlukan peningkatan kapasitas dan kualitas laboratorium yang tersebar di seluruh Indonesia, agar dapat mendukung kegiatan surveillance dan monitoring masalah keamanan pangan from farm to table.

BBIA berperan aktif sebagai LRPPI sesuai lingkupnya memberikan bantuan teknis dan transfer ilmu pengetahuan kepada laboratorium pangan dan laboratorium yang terkait pangan di Indonesia. Caranya, melalui penyelenggaraan uji profisiensi/uji banding antar laboratorium sesuai lingkup penyelenggaraan pelatihan teknis pengujian, pengembangan metode uji sesuai lingkup, dan peran aktif sebagai konseptor SNI Pangan dan bahan pangan di antaranya untuk produk minyak goreng sawit, tepung terigu, gula kristal rafinasi, gula sukrosa, gula cokelat, dan lain-lain.

“Lingkup pengujian yang dimiliki BBIA sangat penting untuk kesehatan masyarakat, karena mendeteksi keberadaan logam berat dan mikotoksin dalam pangan. Senyawa beracun tersebut dapat memberikan dampak merugikan kesehatan yang dapat menyebabkan hyperaemia, pendarahan, peradangan dan pembengkakan saluran cerna,” paparnya.

Kegiatan lain yang mendukung peranan BBIA sebagai LRPPI adalah pemanfaatan teknologi dalam rangka perbaikan metode uji patulin, atau salah satu jenis cemaran mikotoksin pada pangan. BBIA juga melakukan kerjasama pengembangan dan validasi metode uji, serta pelatihan teknis pengujian identifiasi Fe pada tepung terigu sebagai bahan makanan dengan bekerjasama dengan Nutrition Internasional (NI) dan IOWA of Canada University, AS.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here