, ,

Banyak Perusahaan Migas Berpaling ke Energi Terbarukan

Posted by

Jakarta, Petrominer – Para produsen listrik mulai mendapat saingan. Perusahaan-perusahaan minyak dan gas telah memegang setidaknya lebih dari 1 persen total kapasitas terpasang energi terbarukan secara global pada tahun 2022, yang masih didominasi oleh produsen listrik.

Pembangkit listrik terbarukan di seluruh dunia diperkirakan tumbuh pada tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (compound annual growth rate/CAGR) sebesar 6,9 persen antara tahun 2022 dan 2030. Sementara pangsa bahan bakar fosil dalam bauran energi pembangkit listrik global diperkirakan menurun selama periode tersebut.

“Akibatnya, para pelaku minyak dan gas (migas) telah menjanjikan investasi besar di pasar energi terbarukan untuk meningkatkan pangsa mereka di tahun-tahun mendatang,” ungkap perusahaan data dan analitik, GlobalData, Senin (13/3).

Dalam laporan tematiknya, berjudul “Renewable Energy in Oil & Gas,” GlobalData memberikan gambaran tentang posisi persaingan yang dipegang oleh perusahaan migas di segmen energi terbarukan. Lebih lanjut dibandingkan upaya perusahaan migas besar, seperti BP, TotalEnergies, Shell, dan Equinor, dalam rantai nilai tenaga surya, angin, dan biopower. Laporan tersebut juga mengidentifikasi berbagai tren yang mempengaruhi tema energi terbarukan dan beragam teknologi yang telah berevolusi untuk mengeksploitasi energi terbarukan.

“Perusahaan migas terkemuka telah memperluas upaya mereka terhadap energi terbarukan melalui peningkatan investasi, menyusul sejumlah badan internasional, seperti PBB, menyoroti perlunya upaya dalam mengurangi emisi karbon. Ke depan, industri migas akan meningkatkan implementasi sumber-sumber nol karbon, dengan energi alternatif seperti tenaga surya dan angin yang kian populer,” ujar analis migas GlobalData, Ravindra Puranik.

Energi matahari dan angin telah menjadi pasar utama dalam peralihan ke energi terbarukan, karena teknologi ini memiliki potensi pertumbuhan yang menjanjikan. Perusahaan-perusahaan migas juga telah meningkatkan langkah mereka ke segmen biopower yang sedang berkembang.

“Perusahaan-perusahaan migas besar semakin memposisikan diri sebagai penyedia energi terbarukan dan bahan bakar terbarukan. Proyek tenaga surya dan angin memiliki potensi pertumbuhan yang relatif lebih tinggi dan juga mengalami penurunan biaya proyek. Ini menjadikannya sebagai investasi yang ideal bagi perusahaan migas dalam transisi energi,” ungkap Puranik.

Perusahaan-perusahaan migas besar mulai beralih ke energi terbarukan.

Saat ini, perusahaan migas secara signifikan masih berada di belakang perusahaan energi, seperti China Three Gorges, Eletrobras, Enel, Huaneng Group, dan Iberdrola. Namun demikian, mereka diharapkan untuk mendapatkan pijakan yang cukup besar dalam dekade ini.

“Pada tahun 2022, Shell bahkan tidak masuk dalam 50 besar produsen energi terbarukan secara global. Namun, beberapa proyek angin dan matahari yang telah diumumkan akan meningkatkan kapasitas energi terbarukan menjadi 34 GW pada tahun 2030. Pertumbuhan ini akan mendorong Shell ke dalam 25 besar dalam hal kapasitas energi terbarukan pada tahun 2030. Peringkat TotalEnergies dan BP juga diperkirakan akan melonjak selama jangka waktu ini,” ujar Puranik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *